Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan,  Minggu 1 November 2020,  Minggu Biasa XXXI

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

(Wahyu 7:2-4, 9-14,  I Yohanes 3: 1-3,  Mateus  5: 1-12a)

Seorang sahabat mempertanyakan tentang makna dari Pesta Semua Orang Kudus. Menurut dia, hampir setiap hari Gereja merayakan pesta orang kudus, untuk apa lagi kita membuat hari khusus ini? Kitab Wahyu memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, “Sesungguhnya satu kumpulan besar orang banyak  yang tidak dapat  terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan  takhta dan di hadapan  Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem ditangannya” (Why 7:9)

Nama orang kudus terdaftar dalam Kalender Liturgi dan dirayakan oleh Gereja setiap hari adalah sebagian kecil saja. Bersama kelompok kecil ini masih banyak orang kudus yang tidak terhitung jumlahnya (bdk. Why 7:9). Karena itu, Gereja mendedikasikan satu hari khusus (1 November) untuk Pesta Semua Orang Kudus, baik  terdaftar maupun tidak terdaftar dalam Kalender Liturgi. Para orang kudus ini adalah mereka yang telah diselamatkan oleh penderitaan, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.  Mereka telah beriman kepada Yesus dengan segenap hati dan budi mereka dan juga telah mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya. Mereka telah memanggul salib kehidupan dan berziarah bersama Kristus menujuh kesempurnaan hidup. Orang-orang kudus adalah orang-orang yang telah berbahagia di hadapan Tuhan, memandang wajah Tuhan dan memuliakan-Nya, “Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba” (Why 7:10)

Santo Yohanes mengungkapkan bahwa kita semua adalah kumpulan orang banyak dan sedang berziarah menuju kekudusan. “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia adalah suci” (1Yoh 3:3). Orang yang memiliki pengharapan akan memperoleh kekudusan hidup. Namun, pengharapan akan tetap tinggal dalam pengharapan jika tidak dibarengi dengan perbuatan. Kata Santo Yakobus, “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2: 14), demikian halnya pengharapan tanpa aksi pada haekatnya tidak berbuah.  Pengharapan itu sebaiknya diwujudkan dalam tindakan aktif untuk menjadi kudus. Kita telah terhitung dalam bilangan  orang kudus dan hidup dalam persekutuan para kudus.

Santo Mateus menampilkan pengajaran Yesus tentang Sabda Bahagia. Sabda Bahagia adalah warta pengharapan yang menuntut kita untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Penghayatan dan perwujudan dari Sabda Bahagia adalah  kunci untuk masuk ke dalam golongan orang yang berbahagia dan kudus. “Berbabahagialah orang yang…”(Mat 5:3-11). Ada beberapa keutamaan hidup untuk memperoleh kekudusan, yakni hidup miskin di hadapan Allah, berdukacita karena dosa, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati dan membawa damai.

Menjadi Kudus adalah tidak sulit asalkan kita tetap setia pada salib. Para orang kudus yang kita rayakan hari ini mereka telah melakoni ziarah salib dengan baik. Mereka tidak mengeluh dan putus asa. Mereka memiliki pengharapan teguh bahwa salib penderitaan yang mereka alami semasa hidup akan membawa mereka pada kesempurnaan hidup. “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan sorak sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulan dengan sorak sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Mzr 126:5-6)

Renungan Oleh: RD Yos Anting


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •