Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Selasa (03 November 2020)
Bacaan :
1. Filipi 2:1-4
2. Lukas 14 : 12-14

Dewasa ini sering terdengar ungkapan, bahwa “hidup di dunia ini tidak ada yang gratis”. Maksudnya bahwa sekecil apapun yang dilakukan orang terhadap sesama, mesti ada imbalannya.  Akibatnya banyak orang berpikiran kalau menyaksikan seseorang melakukan suatu kebaikan –  misalnya memberikan sumbangan atau pemberian yang lain –  di kemudian hari pasti ada maunya. Tak sedikit pula orang mempergunakan situasi tertentu pada orang lain  – misalnya penderitaan –  dengan dalih membantu, tetapi pada ujungnya hanya untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri.

Pola berpikir seperti ini dapat tumbuh juga dalam kehidupan beragama. Orang melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan dengan harapan bahwa Tuhan akan memberikan balasan. Ketika balasan yang diharapkan itu tak kunjung terjadi, orang menjadi kecewa dan kemudian berhenti melakukan kewajiban agamanya karena merasa tidak ada gunanya, hanya merugikan dan merepotkan saja.

Bacaan  Injil hari ini mengisahkan Tuhan Yesus menegur orang yang mengundang pesta, karena yang diundang hanyalah sahabat dan  tetangganya yang  kaya; yang menurut perhitungannya akan  dapat membalas undangan pestanya. Yesus tidak mengajarkan bahwa  hal itu adalah salah, tetapi Yesus mau menunjukkan  bahwa tindakan itu  bukanlah tindakan kasih dan murah hati.  Apalagi jika motif undangannya karena  status atau kesuksesan para undangan yang akan dapat memberikan keuntungan bagi dirinya di masa depan. Ini adalah sebuah keegoisan, bukan kasih.

Relasi persaudaraan kasih orang-orang beriman secara lugas dinasehatkan oleh Santo Paulus : “…hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga“( Fil.2: 3-4). Dalam nasehat ini terkandung makna bahwa semua orang tanpa kecuali, diundang Allah untuk bersama-sama menikmati pesta perjamuan abadi, dengan cara melewati Jalan Kasih Tuhan Yesus dalam relasi kehidupan bersama sehari-hari. Relasi kasih yang mampu menghadirkan rasa bahagia yang mendalam, bagi orang yang dilayani dan dibantu maupun bagi diri sendiri.

Tetap semangat dalam memberikan pelayanan dan melakukan karya-karya baik meskipun tanpa ucapan dan tanda terima kasih, bahkan juga ketika ditolak dan diremehkan; memiliki kepedulian terhadap mereka yang tidak mampu memberikan balasan, tidak membeda-bedakan atas dasar apapun dalam pelayanan  sangatlah diperlukan dalam kehidupan saat ini. Semoga hal ini semakin berkembang dalam kehidupan kaum beriman. (*)

Renungan Oleh:
Ignatius Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •