Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Rabu (04 November 2020)
Minggu Biasa XXXI
Bacaan: Flp. 2:12-18; dan Luk. 14:25-33.
Peringatan Wajib: St. Karolus Baromeus

“Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” (Luk 14:25). Kisah Luk 14:25-33 ini dilatarbelakangi perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem untuk menuntaskan misi-Nya. “Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem”(Luk 13:33. Bdk. Luk 9:51-19:28). Dalam perjalanan itu banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus. Mereka tentu mempunyai maksud/harapan tertentu. Ada yang memiliki harapan secara politis supaya Yesus menjadi raja yang membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi (Bdk. Luk 24:21). Ada yang memiliki harapan untuk mendengar Sabda dan memperoleh kesembuhan (Luk 5:1). Ada juga yang ingin makan gratis sampai kenyang (Yoh 6:26).

Melihat banyak orang yang berduyun-duyun mengkuti-Nya Yesus memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajar. Dan Ia mengajarkan tiga syarat menjadi murid-Nya yang baik.
Pertama, keberanian untuk lepas dari ikatan kekeluargaan. “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:26).

Bukan maksud Yesus untuk menghapus perintah Allah yang ke-4 yakni hormatilah ayah dan ibumu, tetapi Yesus menekankan pentingnya seorang murid memiliki komitmen untuk mengikuti-Nya dengan sepenuh hati bukan setengah hati. Relasi kekerabatan tetap ada, tetapi jangan menghalangi relasi dengan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Bahkan pengikut yang sepenuh hati itu harus berani kehilangan apapun (kerabat bahkan nyawa) demi Yesus Kristus (Bdk. 2Mak 7:1-42 dan Yh 15:13).

Kedua, keberanian untuk menjadi serupa dengan Yesus tersalib. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:27). “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku.” (Luk 9:23).

Ketiga, keberanian untuk memiliki sikap lepas bebas terhadap harta duniawi. “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” (Luk 14:33). Yesus sudah mengetahui titik kelemahan para murid-Nya karena di mana hartanya berada, hati mereka juga ada di sana (Mat 6:21).

Ketiga syarat untuk menjadi murid Yesus ini masih aktual hingga saat ini. Sebagai murid Yesus kita diminta untuk mengikutiNya, dan mengikuti-Nya dari dekat. BUKAN hanya “menerima-Nya”, BUKAN hanya “percaya kepada-Nya”, BUKAN hanya “menyembah-Nya”. Mengikuti Yesus dari dekat sebagai murid berarti apa yang dihayati Yesus itu juga yang harus kita hayati di dalam hidup ini. (Bdk. Yoh 13:14 dan 34)

Bagi kita saat ini, juga di masa pandemi covid-19, ketiga syarat untuk menjadi murid Yesus masih tetap aktual dan menantang. Banyak orang tidak berani melayani Yesus karena tidak diijinkan oleh keluarga: anak tidak diijinkan orang tua, suami dan istri tidak saling mengijinkan, takut covid-19 walaupun sebenarnya ia tidak terhalang secara protokol kesehatan.

Melayani Tuhan tidak cukup dengan memberi sumbangan materi dan natura, tetapi terutama melayani dengan kehadiran untuk membentuk Gereja partisipatif dengan sifatnya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Setia memikul salib seperti Yesus sendiri demi kebahagiaan dan keselamatan sesama. Jangan mengeluh kalau salib kita berat karena salib Yesus lebih berat dari yang kita pikul sekarang. Setia tidak terikat pada harta duniawi, maka jangan membenarkan diri untuk tetap bekerja mencari uang sehingga tidak ada waktu untuk Tuhan di keluarga, KBG, Paroki. Setia untuk menjadikan apa yang dihayati dan dikehendaki Yesus sebagai penghayatan dan kehendak kita sepenuh hati. Inilah makna terdalam mengikuti Yesus secara radikal. (Bdk. Flp 2:14-15).“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Flp 2:12).
Sanggupkah?
Tuhan memberkati. (*)

Renungan Oleh :
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •