Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Senin (09 November 2020).
Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran
Bacaan
1 : Yeh 47 :1-2.8-9.12
2 : 1Kor 3;9-11.16-17
Injil : Yoh 2 : 13 – 22

Saudara-saudari terkasih,
Hari ini 09 November, Gereja Kudus merayakan Pesta Pemberkatan Gereja Basilika Lateran yang dipersembahkan kepada St. Yohanes Pembaptis dan menjadi Gereja Katedral Sri Paus sebagai Uskup Roma. Gereja ini didirikan pada masa Kaisar Konstantin dan diberkati oleh Paus Silvester pada tahun 324. Gereja Katolik seluruh dunia merayakannya sebagai tanda hormat dan tanda persatuan dengan Tahta St. Petrus. Gereja ini adalah induk dan kepala semua Gereja di Roma dan di seluruh dunia (omnium Urbis et orbi secclesiarum mater et caput).

Gereja dalam rupa bangunan menjadi tanda fisik dari persekutuan Umat Beriman. Karena itu kita jangan terjebak dalam ungkapan-ungkapan yang bernada ‘pemaafan’ seperti, ‘yang penting hati” atau “bangunan lahiriah itu tidak terlalu penting, yang penting adalah apa yang di dalam batin”. Manusia beriman dengan totalitas dirinya, artinya lahir maupun batin. Dalam menghayati dan menghidupi imannya seluruh panca inderanya juga terlibat. Karena itu keberadaan secara fisik, seperti bangunan Gereja, juga sangat penting.

Kitab Nabi Yehezkiel menggambarkan penglihatan akan air yang keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci. “Ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk yang berkeriapan di dalamnya akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak , sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semua yang ada di sana hidup (Yeh 47:9). Gambaran Nubuat Yehezkiel ini mengingatkan kita hidup yang bersumber pada Bait Allah akan menjadi berkat yang menghidupkan semua makhluk. Begitu pun kita. Hidup yang bersumber pada Bait Allah (=Gereja) dengan segala kekayaan rohaninya dalam sakramen-sakramen akan menghidupkan dan membawa kesegaran. Sementara dalam Bacaan Kedua, 1Kor 3:9-11.16-17,   Rasul Paulus mengajak Umat Allah yakni Gereja menyadari diri sebagai tempat kediaman Allah.

Allah hadir dalam Gereja, karena Yesus Kristuslah yang menjadi dasar Gereja. Umat Allah dibangun di atas dasar Kristus, oleh karena itu Umat Allah perlu menyadari Kekudusan Allah yang hadir dalam dirinya. Yesus menunjukkan kecintaan dan hormatnya pada Bait Allah, maka Ia marah ketika didapatinya dalam Bait Suci para pedagang dan penukar uang.

Saudara-saudari terkasih,
Bait Allah, baik dalam pengertian fisik maupun rohani, sangatlah penting. Karena itu menjadi tugas dan tanggung jawab kita untuk menjaga kesuciannya. Hal-hal sederhana dapat menjadi refleksi kita: seperti apa sikap dan penghormatan kita terhadap tempat Ibadah/Gereja? Lebih jauh dari itu. Seperti apa sikap kita sebagai “Bait Allah”, Gereja yang hidup? Apakah kita sungguh berdiri di atas iman yang kokoh di mana Kristus adalah dasar, fondasinya? Mungkin tanpa sengaja kita juga terjebak dalam pola pikir yang permisif, “ah itu kan hanya Gedung!”, “lahiriah tidak penting. Yang penting hati!”

Kalau itu ungkapan kerendahan hati yang murni dan tulus pasti positif, tetapi jika itu adalah ungkapan untuk membenarkan diri dan memaafkan ketidakmauan kita untuk bersikap pantas, maka sudah sepatutnya kita memperbaiki diri. Yesus mengingatkan kita betapa pentingnya membangun relasi dengan Allah, karena itu sarana-sarana yang mendukung kita untuk berelasi dengan Allah harus dihormati dengan pantas dan tidak disalahgunakan. Semoga kita menjadi Bait Allah yang pantas dan “katedral-katedral kecil” : tempat Tuhan bertahta. (*)

Renungan Oleh :
Rm @hansjeharutpr


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •