Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian : Selasa (10 November 2020).
Bacaan : Luk 17:7-10

Pelayanan Kristiani
“Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.”

Frase ini kedengarannya indah ketika diucapkan, namun menjadi sulit ketika diwujudkan dalam tindakan. Setiap pekerjaan tidak hanya menguras kelelahan fisik, tapi seringkali disertai gejolak dalam rasa. Melakukan pekerjaan karena hobi atau kesenangan barangkali tidak menjadi masalah, tetapi menjalani pekerjaan sebagai pelayan dan mengikuti segala yang diminta oleh tuannya tidaklah mudah apalagi jika pekerjaan itu tidak selaras dengan apa yang dipikirkan oleh hamba yang mengerjakan. Lalu, diakhir pekerjaan sang hamba diharapkan mengucapkan frase diatas? Rasa-rasanya tidaklah mudah. Yang terjadi barangkali sebaliknya, entah secara terbuka atau dalam hati sang hamba akan menggerutu dan bahkan mengutuk tuannya.

Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus ditemani oleh para murid-Nya. Kepada mereka Yesus memberi beberapa nasihat yaitu agar mereka tidak menyesatkan orang lain apalagi kepada  orang yang lemah (Luk 17:1-2), senantiasa bersedia mengampuni sesama (Luk 17:3-4), menumbuhkan iman (Luk 17:5-6) dan melayani dengan tulus sebagai murid-Nya (Luk 17:7-10).

Dengan menemani Yesus dan terlibat dalam seluruh pewartaan-Nya, para murid berpikir bahwa mereka layak mendapatkan imbalan yang sepadan dengan jasa-jasa mereka. Sikap ini bertentangan dengan apa yang Yesus harapkan dari seorang murid sejati. Yesus menasihati mereka untuk belajar dari pekerjaan seorang hamba dan spirit yang mesti mengakar dalam hati seorang hamba. Seorang hamba bekerja dengan tulus dan atas dasar cinta untuk melayani tuannya. Ia akan bekerja secara maksimal tanpa mengharapkan balasan dari tuannya. Ia bekerja karena memang ia harus melayani. Mendapatkan ucapan terima kasih atau balasan lain bukanlah tujuan atau harapannya. Yang paling penting adalah ia bekerja sebaik-baiknya.

Kita bayangkan seorang ibu yang bekerja dari pagi sampai malam. Ia memasak, mencuci, membersihkan rumah dan pekarangan, memandikan anak-anaknya, melayani kebutuhan suaminya dan lain-lain, apakah ia mengharapkan di malam hari ada ucapan terima kasih? Tidak juga bukan? Sebab bagi seorang ibu, melayani kebutuhan anak-anak dan suami adalah ungkapan cintanya tanpa pamrih. Jika ada yang mengucapkan terima kasih untuk segala kelelahannya sepanjang hari, puji Tuhan. Jika tidak, seorang ibu tidak akan marah atau mengutuk seisi rumahnya.

Demikian juga dengan kita. Ada banyak tugas dan pelayanan yang Tuhan harapkan dari kita. Hendaklah kita menjalaninya dengan sukacita dan penuh cinta tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih. Inilah makna sesungguhnya dari aksi nyata dalam sharing injil tujuh langkah. Bahwa berinspirasikan sabda Tuhan kita dipanggil untuk bermisi, mengejawantahkan pesan sabda Tuhan dalam wujud aksi yang konkrit. Kita melakukan itu bukan untuk dipuji atau mendapatkan imbalan, namun terdorong oleh sabda Tuhan yang memanggil kita untuk bergerak dan berbuat sesuatu demi kebaikan sesama. Dengan pelayanan yang sedemikian rupa menjadikan kita saluran rahmat dan berkat Tuhan bagi sesama.
Salam komunio dan Tuhan senantiasa memberkati kita…. (*)

Renungan Oleh:
RD Berto Ngita


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •