Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (12 November 2020)
Bacaan Injil : Luk 17:20-25

Bertahun-tahun “Nona” menahan marah karena kelakuan suaminya yang sering kali mengkhianatinya.  Belum lagi sikapnya yang acuh tak acuh dengan keluarga, kasar dan keras terhadap istri dan anak-anak. Entah “apa” yang merasukinya sehingga pada malam itu, nyong – suami nona menangis sejadi- jadinya. Dia berbicara jujur tentang semua yang dilakukannya dan berjanji untuk tidak lagi melakukan hal-hal buruk yang selama ini telah dilakukan. Nona merasa sangat bahagia, karena apa yang selama ini diimpikannya, doa yang selama ini dipanjatkan terkabulkan. Nona merasa bahwa kerajaan Allah itu sungguh dirasakan kehadirannya. Kerajaan Allah bukan sesuatu di awang-awang, kerajaan Allah itu hadir nyata, dalam bentu pertobatan suami yg selama ini berlaku kasar kepada istrinya, kesediaan istri memaafkan suaminya atau cinta kasih yang tulus yg tumbuh di hati anggota keluarga.

Yesus hari ini bicara tentang “hadirnya kerajaan Allah”. Dia sendirilah Kerajaan Allah itu. Dia jalan, Dialah pintu, Dialah awal dan akhir. Jadi tidak usah harus mencari atau menemukan jalan, kebenaran di tempat yang lain. Dialah yang maha sempurna. Tidak usah kita harus mencari yang lain. Apalagi mau menemukan kebenaran dalam kepalsuan manusia.  Jawaban Yesus atas pertanyaan orang Farisi tentang kapankah Kerajaan Allah akan datang tidak dimaksudkan untuk mengingkari apa yang nantinya diajarkan-Nya kepada murid-murid-Nya, yaitu tentang penampakan Kerajaan-Nya di masa mendatang (ayat 24).

Ia menyatakan bahwa walaupun Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, namun sesungguhnya sudah hadir di antara mereka dalam pribadi Yesus Kristus (ayat 21). Orang-orang Farisi tidak mampu melihat Kerajaan Allah karena pikiran mereka sebetulnya sudah terkontaminasi oleh gemerlapnya dunia yang mereka kejar, sehingga pemahaman mereka tentang Kerajaan Allah pun menjadi salah. Kebencian, iri hati dan marah sering kali membuat kita buta untuk sekedar merasakan bahwa kerajaan Allah itu hadir di tengah kita, hidup di tengah keluarga kita, ada di komunitas basis kita.

Berbagi kegembiraan dengan orang lain, turut merasakan duka cita dengan mereka yang sedang tertimpa kemalangan adalah sikap-sikap yang menghadirkan kerajaan Allah. Mengenal dan merasakan hadirnya kerajaan Allah tidak cukup hanya dengan doa, tetapi melakukan karya nyata juga adalah tanda hadirnya kerajaan Allah. Dalam diri Yesus-lah semua kualitas kerajaan Allah itu ada. Kalau mau bahagia ikutilah Dia, tak ada jalan lain yang bisa menjamin kebahagiaan selain jalan yang ditunjukkan Yesus. (*)

Renungan Oleh :
RD Stanis


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •