Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Rabu (18 November 2020)

Injil hari ini menyajikan kepada kita perumpamaan tentang talenta, atau karunia yang diterima dari Tuhan.  Semua orang memiliki beberapa kualitas diri, atau juga karunia atau pengetahuan mengenai hal tertentu yang dapat mereka ajarkan kepada orang lain.

Kunci untuk Memahami Perumpamaan
Lukas membuka kisah perumpamaan dengan kalimat ini:  «Yesus melanjutkan perkataan-Nya dengan suatu perumpamaan, sebab Ia sudah dekat Yerusalem dan mereka menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan».

Dalam kalimat pembuka ini Santo Lukas menyampaikan 3 alasan mengapa Yesus menyampaikan perumpamaan ini:

  • a) Sambutan yang perlu diberikan kepada mereka yang dikucilkan, (contoh kisah Zakheus, yang dikucilkan, dan Yesus sebagai pribadi yang menyambut Zakheus);
  • b) Mendekatnya kisah sengsara, kematian dan kebangkitan: hal ini ditunjukkan oleh informasi bahwa saat itu Yesus sudah berada di dekat Yerusalem di mana ia akan segera dihukum mati;
  • c) Kerajaan Allah akan segera datang, karena orang-orang yang mengikut Yesus berpikir bahwa sesudah ini Kerajaan Allah akan datang.

Kisah Awal dari Perumpamaan
«Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali».

Ada beberapa ahli Kitab Suci berpikir bahwa dalam perumpamaan ini Yesus berbicara tentang Herodes yang pergi ke Roma 60 tahun sebelum Yesus (sekitar tahun 40 Sebelum Masehi). Herodes datang ke Roma untuk menerima gelar dan kuasa sebagai Raja Palestina. Masyarakat tidak menyukai Herodes dan mereka tidak menghendaki ia menjadi Raja, karena pengalaman yang mereka alami saat dia menjadi pemimpin perang untuk menumpas pemberontakan di Galilea melawan Roma itu tragis dan menyakitkan. Karena itu rakyat mengatakan: « Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami ».  Kepada Herodes cocok kalimat akhir dari perumpamaan ini: semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku » (Lk. 19:27). Memang benar: Herodes telah membunuh banyak orang. 

Karyawan  yang Menghasilkan
Karyawan-karyawan pertama yang menerima 10 Mina memberi laporan pertanggungjawaban. Sejarah mengisahkan bahwa Herodes, setelah memperoleh gelar raja, kembali ke Palestina untuk mengambil alih kekuasaan. Dalam perumpamaan itu, raja memanggil pegawai yang telah dia berikan 10 mina, untuk mencari tahu berapa banyak keuntungan yang mereka hasilkan: «Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina. Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota. Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina. Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota».

Karyawan yang Tidak Menghasilkan
Karyawan ketiga menghadap Raja dan berkata: «Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan. Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur».

SUMBER : https://vangelodelgiorno.wordpress.com/2015/03/09/il-debito-e-condonato/

Dalam kalimat ini muncul satu bentuk pemahaman yang salah tentang Tuhan yang dikritik oleh Yesus. Karyawan tersebut menganggap Tuhan sebagai tuan yang keras. Di hadapan Tuhan seperti itu, manusia merasa takut dan bersembunyi di balik ketaatan terhadap hukum. Menurutnya, dengan bertindak seperti ini, dia tidak akan dihukum oleh sang pembuat undang-undang. Pada kenyataannya, orang seperti itu sesungguhnya tidak percaya pada Tuhan, tetapi hanya percaya pada dirinya sendiri. Dia menarik diri, menjauhkan diri dari Tuhan. Dia menjadi tidak mampu bertumbuh sebagai orang yang bebas. Gambaran palsu tentang Tuhan seperti ini mengisolasi manusia, membunuh komunitas, memadamkan kegembiraan dan memiskinkan hidup. Raja menjawab: «Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur. Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya».

Karyawan ketiga ini tidak konsisten dengan gambaran yang ia miliki tentang Tuhan. Jika dia membayangkan Tuhan begitu kejam, setidaknya dia harus meletakkan uang itu di tempat penyimpanan uang. Dia tidak dikutuk oleh Tuhan, tetapi oleh idenya yang salah tentang Tuhan dan membuatnya lebih tidak dewasa dan lebih takut daripada yang seharusnya.

Salah satu hal yang paling mempengaruhi kehidupan kita adalah gagasan yang kita miliki tentang Tuhan. Di antara orang-orang Yahudi dari garis keturunan Farisi, ada yang membayangkan Tuhan sebagai hakim yang kejam yang memperlakukan mereka sesuai dengan pahala yang dilakukan dengan menaati peraturan-peraturan. Hal ini menyebabkan ketakutan dan menghalangi orang untuk berkembang. Hal itu juga mencegah mereka membuka ruang di dalam diri mereka sendiri untuk menyambut atau menerima pengalaman baru tentang Tuhan yang diwartakan Yesus.

Kesimpulan untuk Semua
Yesus kemudian berkata kepada semua yang hadir: «Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya. Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka kemari dan bunuhlah mereka di depan mataku».

Tuhan memerintahkan untuk mengambil seratus koin darinya dan memberikannya kepada orang yang sudah memiliki seribu, karena «Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil». Dalam kalimat terakhir ini kita menemukan penjelasan tentang arti  perumpamaan itu.

Mata uang perak raja adalah harta Kerajaan Tuhan, yaitu segala sesuatu yang membuat orang bertumbuh dan sekaligus mengungkapkan kehadiran Tuhan: cinta, pelayanan, saling berbagi. Siapa pun yang menutup dirinya sendiri, karena takut kehilangan sedikit yang dimilikinya, ia akan kehilangan sedikit yang dimilikinya itu. Jadi orang yang tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi memberikan dirinya kepada orang lain, akan tumbuh dan menerima secara mengejutkan semua yang telah dia berikan dan bahkan lebih banyak yang ia terima. Karyawan ketiga takut dan tidak melakukan apa-apa. Ia tidak mau kehilangan apapun  dan karena itu ia tidak menghasilkan apa-apa. Bahkan ia kehilangan sedikit yang ia miliki.

Tiga Alasan di Awal Kisah

SUMBER : http://www.teologiaspicciola.org/article.php?a=74

Pada akhirnya, Lukas menutup tema ini dengan informasi ini: «setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem»  (Lk. 19. 28). Informasi ini mengangkat kembali tiga alasan kunci yang diberikan pada awal kisah di atas: penerimaan terhadap mereka yang dikucilkan, dekatnya saat sengsara, kematian dan kebangkitan Yesus di Yerusalem dan gagasan tentang kedatangan Kerajaan yang sudah dekat. Bagi mereka yang mengira Kerajaan Allah akan segera datang, perumpamaan itu mengingatkan  mereka untuk mengubah pandangan mereka. Kerajaan Allah memang akan tiba, tetapi caranya adalah melalui jalan kematian dan kebangkitan Yesus yang akan terjadi di Yerusalem. Dan kematian Yesus itu terjadi karena sambutan yang Yesus berikan kepada yang tersisih, seperti Zakheus dan banyak lainnya. (*)

Renungan Oleh :
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •