Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (26 November 2020).
Minggu Biasa XXXIV
Bacaan I : Wahyu : 18 : 1-2,21-23.
Injil : Lukas 21 : 20-28.

Saudara-saudari…….
Perjalanan hidup setiap kita selalu diapit oleh dua (2) pengalaman, yakni gagal dan berhasil; susah dan senang; sakit dan sehat dan seterusnya. Kedua bingkai warna kehidupan tersebut tak pernah lepas; selalu seiring sejalan menyertai manusia.

Dari kedua sisi pengalaman, manusia selalu merindukan dan mengharapkan yang berhasil, senang, sehat atau yang baik-baik. Sedapat mungkin dan kalau boleh jangan sampai terjadi yang namanya gagal, susah, sakit atau pengalaman pahit tertentu tarjadi dalam sebuah kehidupan.

Kalaupun sampai terjadi, biasanya dimaknai secara lain. Dengan kata lain, apabila yang diharapkan berhasil, senang dan sehat, namun yang terjadi sebaliknya (gagal, susah dan sakit), maka dirasa hidup ini tidak berguna lagi. Pengalaman kelam seolah-olah menjadi titik akhir dari sebuah perjuangan. Pengalaman pahit selalu dirasa sebagai sesuatu yang menyeramkan, mengerikan, bahkan menjadi momok dan sampah. Padahal, pengalaman seburuk apapun dalam hidup ini pasti mempunyai makna tertentu. Pengalaman sepahit sekalipun menyiratkan arti tertentu.

Untuk dapat menerima dan memberi arti pada sebuah pengalaman mengerikan seperti di saat menyambut pengalaman gembira, senang dan berhasil, kita butuh OPTIMISME. Kepercayaan diri (Optimis) akan membangunkan kita dari keterpurukan kepada sebuah semangat baru. Dengan semangat optimis, kita bisa mengangkat muka yang tertunduk, menguatkan lutut yang lesu dan memberikan harapan baru yang putus asa.

Saudara-saudari……..
Sabda Tuhan hari ini melukiskan hal yang sama. Israel yang bahagia karena menjadi Umat pilihan Allah harus menerima kenyataan yang sangat menyakitkan. Kehancuran Yerusalem yang menjadi simbol keagamaan mereka menjadi tanda-tanda buruk. Akhir yang mengerikan dengan hadirnya tanda-tanda menakutkan dan mematikan membuat mereka putus harapan.

Peristiwa-peristiwa dan tanda-tanda yang menakutkan yang menjadi sinyal hadirnya akhir zaman tak mampu mereka tanggung. Berhadapan dengan situasi yang demikian membuat mereka takut, gelisah, cemas dan putus harapan. Mereka bagaikan perahu atau kapal yang berada di lautan luas yang sedang diterpa badai besar.

Dalam situasi tak berdaya, Tuhan hadir dengan membawa harapan baru. Tuhan mengajak mereka bangkit dan mengangkat muka untuk menatap ke depan. Bahwa badai kehancuran akan berlalu dan dunia baru akan hadir sebagaimana yang mereka dambakan. Bahwa peristiwa-peristiwa yang mengerikan itu akan berakhir. Yerusalem yang hancur akan dibangun kembali dan Tabut Perjanjian yang menjadi tempat kehadiran Tuhan ditahktakan lagi.

Untuk dapat menerima keadaan ketakberdayaan dan mulai bangkit lagi dibutuhkan semangat baru. Mereka harus bangkit kembali dalam iman, harapan dan kasih. Mereka harus tetap bersemangat dan mengangkat muka serta mengarahkan pandangan hanya kepada Tuhan.
Bingkai pengalaman pahit dan mengerikan itu hanyalah penguji iman karena semuanya akan berlalu dan dunia baru, yakni Yerusalem Baru akan hadir dalam kehidupan mereka.

Saudara-saudari……..
Kedua bingkai kehidupan yang saya angkat pada awal renungan ini dan juga pengalaman pahit Umat Israel menjadi bagian dari pengalaman kita semua. Kita mengharapkan yang baik, ternyata yang hadir adalah yang tidak baik. Kita menginginkan keberhasilan, ternyata kegagalan yang kita raih. Kita merindukan keadaan sehat, rupanya sakit yang kita derita.

Pengalaman yang tidak kita harapkan membuat kita putus harapan. Iman kita goyah, harapan kita pupus, dan cinta kasih kita menjadi “hambar” ketika kita dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Dunia kehidupan kita serasa berakhir. Padahal semuanya itu hanyalah tanda-tanda yang mengajak kita untuk bermenung sesaat.

Kita memiliki Tuhan yang hidup. Tuhan yang tetap hadir dalam hidup kita. Tuhan yang selalu melihat keadaan kita. Tuhan yang selalu mendengarkan doa-doa kita. Dan Tuhan yang senantiasa tepat waktu menjawab kerinduan dan harapan kita. Inilah iman kita; inilah keyakinan kita.

Sikap iman terbaik yang harus kita bangun dan miliki adalah TETAP OPTIMIS. Kita harus yakin dan percaya bahwa Tuhan tak akan pernah meninggalkan kita umat-Nya. Caranya adalah menguatkan iman, membangun harapan dan meningkatkan kasih. Kita harus bangkit dan mengangkat muka untuk melihat Tuhan yang menanti untuk ditemui.

Dengan semangat optimisme akan memampukan kita dan mengantar kita untuk meraih keselamatan yang telah dijanjikan Tuhan. Dengan tetap optimis, kita tidak akan goyah dengan terpaan badai dan dapat menyamput kehidupan baru yang disediakan Tuhan bagi kita. TUHAN MEMBERKATI. Amin. (*)

Oleh: RD. Andre Lemoro


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •