Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Makna Lingkaran (Corona) Adven
Sesuai dengan namanya adventus yang berarti penantian, masa Adven merupakan masa penantian kedatangan Yesus, Sang Mesias. Minggu Adven I merupakan tahun baru liturgi Gereja Katolik yang menyimbolkan umat membaharui hidupnya bersama dengan kedatangan Yesus ke dunia sebagai penyelamat.

Makna Adven
Masa Adven adalah masa mempersiapkan jiwa, merefleksikan diri untuk menyambut kelahiran Yesus Kristus.

Kekhasan Masa Adven
Untuk mendukung makna masa penantian atau persiapan, masa Adven diwarnai dengan aneka simbol;

1. WARNA: UNGU
Selama masa Adven, warna liturgi UNGU (warna liturgi untuk pakaian imam yaitu stola dan kasula) melambangkan TOBAT dan PENYESALAN

2. BACAAN:
Secara liturgis masa penantian ini dibagi menjadi dua periode (Bdk KGK 524) yaitu:
2.1. Penantian Eskatologis
PENANTIAN JAUH. Bacaan-bacaan liturgi mengajak kita untuk menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya di akhir zaman yaitu kedatangan sebagai RAJA yang mulia, sebagai HAKIM yang berkuasa.
Periode ini dimulai dari Minggu Adven I hingga tanggal 16 Desember. Sebenarnya secara liturgis periode I ini sudah mulai ditekankan sejak Hari Raya Kristus Raja Semesta (Penutup Tahun Liturgi). Bacaan-bacaan liturgi mengarahkan umat kepada kedatangan Yesus yang kedua tersebut. Pada periode ini kita diajak untuk MEMBAHARUI KERINDUAN kita atas kedatangan Yesus yang kedua ini dengan SIKAP TOBAT. Maksud dari dimensi eskatologis dari masa Adven ini menunjukkan bahwa keselamatan yang telah kita terima dari Allah akan dibawa ke kesempurnaan pada akhir zaman (1 Ptr 1:5). Yakni bahwa seluruh hidup manusia adalah wadah pelaksanaan janji-janji Allah yang akan terpenuhi pada hari Tuhan (1Kor 1:8; 5:5). Dimensi ini hendak mengingatkan kita akan tugas misioner gereja untuk mewujudkan keselamatan itu sepenuhnya sampai kedatangan Kristus sekali lagi sebagai hakim dan penyelamat.

2.2. PERSIAPAN DEKAT yaitu kedatangan Tuhan yang pertama (kelahiran Yesus di Betlehem) mulai 17 hingga 24 Desember. Sifatnya lebih mengenang, namun sekaligus menghadirkan peristiwa kelahiran itu dalam konteks kekinian. Bacaan liturgi dan tata cara liturginya baik lebih terarah pada persiapan penyambutan kelahiran Yesus di Betlehem. Jadi periode ini lebih menekankan persiapan dekat atau langsung pada perayaan Natal (25 Desember).

Periode kedua ini diwarnai dengan aneka simbol, antara lain:
2.2.1. Minggu Gaudete (Minggu ke-3 Adven) yang disebut Minggu Sukacita. Kata “sukacita” ini berasal dari antiphon pembuka pada Minggu itu, yaitu “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah! Sebab Tuhan sudah dekat.” (Flp. 4:4.5). Tuhan menyerukan agar kita bersukacita. Sukacita itu datang dari kenyataan bahwa pesta kelahiran Tuhan sudah dekat. Di tengah masa persiapan yang bersifat TOBAT (prihatin dan matiraga) itu, Gereja memberikan “break” (istirahat) dan mengajak umat bersukacita. Break ini juga dilakukan pada masa Prapaskah, yaitu pada Minggu Prapaskah keempat (Minggu Laetare). Dengan Minggu Gaudete ini umat diingatkan bahwa masa Adven akan segera berakhir dan pesta kedatangan Yesus Kristus sudah semakin dekat, maka perlu mengembangkan harapan, menumbuhkan kesabaran dan ketekunan untuk mempersiapkan diri sampai akhir. Kita dapat bertahan dalam kesulitan dan tantangan hanya jika kita sabar bahwa buah-buahnya layak-derita (bdk. Yak. 5:7-10).

3. Ibadat 7O (Antifon 7O):
Disebut Antifon O karena aslinya antifon pembuka mulai tgl 17 Agustus sampai 24 Desember, dalam bahasa Latin dimulai dengan huruf “O” dan diikuti dengan menyebutkan gelar-gelar Yesus. Dan inisial (huruf “I”) dari setiap gelar jika diurutkan dari tgl 24 Desember mundur ke tgl 17 Desember, akan menusun kalimat “ERO CRAS”, yang artinya “Besok (25 Desember), Aku akan datang”. Yesus menjawab kerinduan kita.

4. CORONA (Lingkaran) ADVEN
Elemen yang menonjol dan penuh arti dari corona Adven adalah:
a. Bentuknya Lingkaran.
Simbol Tuhan yang abadi. Juga simbol keabadian dan belas kasih yang menjadi tujuan pencarian kita.
b. Dominan Daun Segar:
Simbol Kristus yang datang membawa kesegaran baru bagi kita, karena itu kita rindukan/ harapkan kedatangan-Nya. Dan kerinduan itu Ia penuhi dengan Sabda, Sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Maka Natal, walau merayakaan kelahiran Yesus (berarti Yesus belum berkarya), namun SELALU kita rayakan dalam liturgi sabda (ajaran Yesus) dan liturgi Ekaristi (paskah Kristus).
c. Lilin (Empat Batang):
Dinyalakan satu persatu, simbol hidup kita yang mendapat terang Kristus, dan terang semakin kuat, tak terhambat oleh apapun, bahkan terang yang ada dalam diri kita bisa menerangi dunia sekitar kita dan mengusir kegelapan kita (rasa resah, gelisah, dosa). Terang itu selalu mencapai puncaknya pada terang Paskah Kristus, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Karena itu menyambut Tubuh Kristus di masa Adven merupakan ziarah batin kita yang nyata yang selalui dibaharui (menjadi semakin terang).

Makna Empat Lilin Pada Lingkaran Adven:
1) Lilin Pertama (Ungu): merupakan tanda pengharapan kita di minggu Adven I. “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa,”b(Luk 21: 36).
2) Lilin Kedua (Ungu): simbol lika-liku perziarahan kita di minggu adven II mengikut Yesus menuju Allah dengan semanagat tobat. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis. Maka Allah akan mengampuni dosamu,” (Luk 3: 3).
3) Lilin Ketiga (Pink/Merah Muda): Suasana suka cita terbentang di hati kita karena keselamatan abadi yang dijanjikan Tuhan sudah semakin dekat. Tuhan Yesus Kristus akan kita rayakan sebentar lagi. “Segala bangsa bertepuk tanganlah, berpekiklah untuk Raja semesta alam,”(ant. Mazmur).
4) Lilin Keempat (Kembali Ungu): kini menjadi lilin keselamatan. Ada suka cita dan damai dihati di awal minggu Adven IV. “Bangkitkanlah ya Tuhan, kegagahan-Mu, dan datanglah menyelamatkan kami,” (ant. Mazmur). “Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan Tuhan dan dia menjadi damai sejahtera,”(Mi 5: 3-4).

Lilin yang dinyalakan, mengarahkan jiwa kita senantiasa menuju kesucian. Karena itu INDAH sekali jika Corona Adven di gereja atau kapel bukan menjadi dekorasi belaka. Penyalaan lilin Adven sebaiknya diawali dengan ritus yang bermakna, bukan sekedar dinyalakan.
Lilin Adven pada malam Natal akan digantikan dengan lilin NATAL yaitu PALUNGAN melambangkan Jiwa Kristus sendiri, lahir di paluangan diri kita. Itulah makna sembah sujud kita di depan kanak-kanak Yesus pada malam natal.

5. PALUNGAN NATAL:
Corona Adven mulai malam Natal diganti dengan palungan, simbol bahwa terang diri kita (4 lilin Adven) DIHARAPKAN menjadi TERANG KRISTUS sendiri yang disimbolkan dengan BAYI Yesus di palungan.
Palungan: tempat makan ternak. Simbol Yesus sejak kelahiran-Nya sudah MENYEDIAKAN diri-Nya sebagai makanan domba-Nya (Bdk. Yoh 10:10-11)
Lain-lain:
a. Corona selalu dihiasi dengan DAUN CEMARA (daun yang berwarna hijau) yang membentuk lingkaran (koronka). Adven adalah lambang tetap hijau (ever green). Memakai cemara karena kesegaran daunnya bisa bertahan lama. Simbol selalu segar. Maka jika dijadikan dekorasi Adven, setiap minggu daun harus selalu diganti dengan yang segar. Indah jika corona adven menjadi tanggungan KBG/Wilayah untuk menjaga kesegarannya.
b. BUAH BERRY (buah berwarna merah) di antara daun-daun yang hijau itu adalah lambang tetes darah Yesus. “Darah Yesus berteriak lebih nyaring dari pada darah Habel.”

Oleh karenanya, Lingkaran Adven (dan kandang, tepatnya palungan) sebaiknya bukan hanya dekorasi di Gereja, tetapi juga ditradisikan di rumah/keluarga, dan ditradisikan keluarga berdoa di sekitar Corona Adven. Bisa juga, jika ada tradisi makan bersama (malam atau siang), corona dinyalakan pada saat makan bersama.
Semua tentu diwarnai dengan doa-doa dan jika memungkinkan dengan kidung nyanyian.
Semoga. (*)

Oleh:
Andi Kris.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •