Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Minggu Adven I, 29 November 2020
BACAAN :

  • Yesaya 63:16b-17; 64:1, 3b-8
  • 1 Korintus 1: 3-9
  • Markus 13: 33-37

Dewasa ini selalu didengungkan dan diingatkan agar masyarakat mematuhi  3M : mencuci tangan, menjaga jarak (menghindari kerumunan) dan memakai masker, untuk menjaga diri dan orang lain terinveksi virus corona yang sudah setahun mewabah di seluruh dunia. Satu pola hidup baru yang memerlukan kesadaran mendalam bagi keselamatan diri dan sesama. Bagaimana tanggapan dan pelaksanaannya oleh masyarakat setiap orang dapat menyaksikannya.

Dalam Injil hari Minggu pertama masa Adven ini, Gereja mengingatkan umat agar terhindar dari  hukuman dan penderitaan; yakni ketidak siapan menyambut Tuhan yang kedatangan-Nya tidak terduga;  melalui kepekaan hati, sikap dan tindakan berjaga-jaga. “Karena itu berjaga-jagalah, karena kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang ……., supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur” (ayat 36-37)

Sejalan dengan Injil, dalam bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Nabi Yesaya, diungkapkan bahwa umat harus hidup pantas di hadapan Allah supaya tidak mendapat murka Allah. Hidup pantas dapat dimaknai dengan melakukan yang benar dan selalu mengingat jalan yang ditunjuk Tuhan. Hal itu kembali ditegaskan oleh Paulus dalam bacaan kedua. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus mengajak mereka untuk hidup dengan tidak bercela hingga kedatangan Tuhan. Sekalipun tidak diketahui kapan kedatangan Tuhan itu, umat hendaknya selalu hidup dengan benar sesuai dengan perintah Allah.

Secara liturgis, Adven merupakan persiapan kedatangan Tuhan pada hari raya Natal, namun sesungguhnya Adven bukan terbatas pada empat minggu sebelum Natal, tetapi setiap saat selama hayat dikandung badan. Karena kedatangan Tuhan dapat terjadi setiap saat melalui setiap peristiwa hidup. Dengan memasuki masa Adven, umat beriman sesungguhnya diingatkan dan disadarkan kembali akan arah dan tangungjawab hidupnya. Setiap saat mesti bersiap menyambut Dia, Sang Juru Selamat. Yang lampau sudah berlalu dan kini kesempatan itu masih Tuhan berikan; maka perlu diisi dengan persiapan yang lebih baik, lebih jujur, lebih ikhlas, lebih setia, lebih konsekuen melaksanakan janji-janji baptis yang telah diikrarkan. Secara subyektif, kedatangan Tuhan terjadi saat Dia menyambut seseorang ketika ajal tiba; secara obyektif terjadi pada akhir zaman, ketika Yesus tampil sebagai hakim bagi orang hidup dan mati.

Tindakan berjaga  dapat  dilakukan dengan  4 JA : Jaga pikir, Jaga hati, Jaga mulut dan Jaga diri( Jakir, Jati, Jamu, Jari)  Jaga pikir : membangun pikiran positif;  jaga hati : hati yang  mengandalkan Tuhan ; jaga mulut: agar yang disuarakan membangun persaudaraan dan kedamaian; jaga diri  agar pribadinya mampu menyalurkan berkat dan kebaikan Allah bagi sesama. Semua itu dilandasi dengan kejujuran  untuk  mengakui dan menyesali segala dosa dan kesalahan yang menyebabkan hidup tidak merasa tenteram. Memupuk  hati yang selalu bersyukur karena meskipun mengalami berbagai suka  dan duka, kenyataannya Tuhan masih memberi kesempatan hidup di dunia sebagai persiapan menyambut kedatangan-Nya; baik secara subyektif maupun pada akhir zaman. (*)

Oleh: Ignatius Sumardi

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •