Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Minggu (13 Desember 2020)

Hari ini, Minggu Adven III, kita diundang untuk bersukacita. Baik di antifon pembukaan, bacaan pertama dan kedua, undangan ini bergema, tetapi mengapa kita harus bersukacita dengan semua bahaya, jebakan yang yang mengancam kita dan membanjiri kita, bahkan ketika kita berada dalam kesulitan-kesulitan yang menghambat perjuangan atau malahan menyiksa kita? Ada tiga alasan yang saya temukan dalam ketiga bacaan hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) ini.

A. Karena Telah Didandani Pakaian Keselamatan dan Jubah Keadilan
Pada Bacaan pertama kita mendengar Nabi Yesaya mengatakan; “Aku bersukacita sepenuhnya di dalam Tuhan, jiwaku bersukacita di dalam Tuhanku, karena dia telah mendandani aku dengan pakaian keselamatan, dia telah membungkusku dengan jubah keadilan“. Kita bersukacita sebab kita telah diselamatkan dan dibenarkan. Hukuman dosa kita  telah dicabut: kami diampuni. Oleh kasih karunia kita diselamatkan. Musuh telah tercerai-berai, tempat musuh telah diambil alih oleh Tuhan, yang sekarang ada di antara kita: inilah sumber kegembiraan yang mengusir semua kesedihan dan semua kemalangan. Ia tidak hanya berada di antara kita, tetapi juga “akan memperbarui kita dengan cinta-Nya.” Lebih dari ini…

 B. Karena Kita Tidak Sendirian: Ia Mendengarkan Kita; Ia Menghibur, Mengampuni dan Memberi Damai-Nya

agameforgoodchristians.com

Bacaan kedua, Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Tesalonika, juga kepada kita hari ini: “Saudaraku, berbahagialah selalu, berdoa dan bersyukur dalam segala hal : ini sebenarnya adalah kehendak Tuhan, di dalam Kristus Yesus, terhadapmu“. Inilah alasan kedua untuk bersukacita: kita tidak sendiri, kita memiliki Bapa yang mendengarkan doa kita; Ia menghibur, mengampuni dan memberi kita kedamaian-Nya yang melampaui semua yang lain.

C. Karena Pembaptisan Roh Kudus
Tetapi alasan utama untuk bersukacita disampaikan dalam Injil. Sosok Pembaptis yang mengesankan muncul lagi membawa berita yang menjanjikan : kedatangan Dia yang akan membaptis dalam Roh Kudus dan api. Yohanes Pembaptis pernah berkata: «Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus  dan dengan api.» (Lk, 3:16-17, Mt 3, 11; 3, 7. 10. 12; Yoh 1, 33). Inilah alasan terbesar untuk bersukacita: Kita telah diberi Roh Kudus. Roh Tuhan adalah kekuatan luar biasa yang dapat menghilangkan semua kesedihan dan kesusahan kita dan dapat membuat kita jadi “baru”.  Karena alasan itulah dalam Perayaan Pentekosta kita berseru bersama Pemazmur: «Utuslah RohMu, ya Tuhan dan jadi baru seluruh muka bumi. Allahku nama-Mu hendak kupuji, Engkau amat agung berdandan sinar kebesaran; Ya Tuhan, berselubungkan cahaya, bagai jubah raja, langit Kaupasang bagai kemah; Firman-Mu disampaikan oleh angin. Api yang berkobar tunduk pada-Mu bagai hamba. Hai Roh Kudus, penuhilah hati kaum beriman dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati mereka».

netslash2010.myblog.it

Raihlah Sukacita, Dalam Duka, Kepedihan, dan Kegagalan. 
Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk bersaksi tentang sukacita. “Orang suci yang sedih adalah orang sedih yang suci,” kata Santo Francis de Sales. Kita perlu membawa obor sukacita di atas awan gelap kesedihan dan keputusasaan. Tetapi apa yang harus dilakukan ketika kehidupan benar-benar memberi kita begitu banyak pencobaan, kesulitan, penyakit, jebakan, godaan, kesalahpahaman dan sebagainya? Saya merasakan bahwa yang kita lakukan adalah Kerja Keras dalam Hidup. Kita telah mengalami bahwa setiap orang dilahirkan dengan modal energi, antusiasme, dan momentum, selama semuanya berjalan dengan baik, modal itu hampir tetap utuh. Tetapi ketika tiba kemalangan (cobaan, penyakit, kesalahpahaman), modal awal itu mulai surut. Untuk itu dibutuhkan perjuangan, kerja keras menjalani hidup.

Saudara-saudari terkasih, “Kerja keras” tidak sama untuk semua orang: ada yang lebih banyak, ada yang lebih sedikit.  Bagi “yang beruntung” semua akan berjalan baik-baik saja dan ada yang kurang beruntung hidup terasa lebih buruk. Jadi, apa yang harus dilakukan dalam kasus ini? Hidup tanpa kegembiraan? Tentu tidak, kita tak mungkin melakukannya sendiri; kita membutuhkan satu sumber rahasia dan tidak ada habisnya yang ada di dalam diri kita, yaitu sukacita Tuhan yang mendiami hati kita.

Dalam praktiknya: bahkan ketika kita tidak memiliki kegembiraan karena kita sedang mengalami situasi sulit, kita didorong untuk memberikan dan membagi sukacita yang sama kepada orang-orang di sekitar kita, karena justru dengan memberikan dan berbagi sukacitanya,  kita dapat mengembalikan dan membangun kembali modal sukacita yang telah surut bahkan hilang;  dengan berbagi sukacita, kita meraih kembali sukacita yang serasa telah dimusnahkan oleh kesulitan atau oleh kegagalan. Dengan Kerja Keras Kita Untuk Berbagi Sukacita, Tuhan akan melakukan sisanya! “Bantu dirimu sendiri (dengan berbagi sukacita) dan surga membantumu.”

catholicvoice.org.au

Karena itu, sukacita sejati adalah memperoleh Roh Kudus. Inilah anugerah luar biasa yang harus kita minta kepada Tuhan: «Hai Roh Kudus, penuhilah hatiku dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hatiku». (*)

Oleh :
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •