Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Senin (14 Des. 2020)

Saya bertugas di rumah pembinaan orang muda La Vita, di Kompleks Puri Sadhana, Desa Cambai, Kabupaten Bangka Tengah. Beberapa kali diminta untuk mendampingi berbagai kelompok, ada anak-anak, orang muda, dewasa bahkan orang tua. Para peserta juga memiliki latar belakang pendidikan berbeda-beda, tingkat ekonomi berbeda, latar belakang budaya dan lain-lain yang juga berbeda-beda. Tim kami rata-rata masih muda, yang dihadapi kadang-kadang jauh lebih tua dan berpengalaman.

Saya mengamati tim saya lebih kesulitan menghadapi mereka yang berpendidikan tinggi daripada yang sederajat atau lebih rendah. Ada tantangan tersendiri mendampingi guru-guru misalnya. Guru-guru terbiasa mengarahkan murid-murid, sekarang menjadi peserta yang diarahkan oleh anak sekolahan. Bisa Anda bayangkan? Bayangkan juga jika tim saya yang terdiri dari orang-orang muda itu mendampingi retret para Imam-Imam Kepala dan Pemuka-Pemuka Bangsa. Bisa Anda bayangkan?

Nah, sekarang setelah membayangkan ilustrasi tadi, lebih mudah bagi kita memahami situasi Yesus berhadapan dengan Imam-Imam Kepala dan Pemuka-Pemuka Bangsa Yahudi saat itu. Imam-Imam Kepala dan Pemuka-Pemuka Bangsa Yahudi saat itu sudah memiliki status sosial yang tinggi, mereka juga orang berpendidikan, menguasai kitab Taurat Yesus saat mulai berkarya umur 30 tahun harus berhadapan dengan para tua-tua yang lebih senior dan banyak pengalaman.

Sebelum Yesus, sudah ada seorang bernama Yohanes yang membawa warta pertobatan dan membaptis orang-orang. Banyak orang mengakui Yohanes sebagai nabi, tetapi Imam-Imam Kepala dan Pemuka-Pemuka bangsa Yahudi belum mau menjadi pengikut Yohanes. Eh kemudian malah muncul Yesus jadi tokoh yang mengajar banyak orang. Tambah lagi geram Imam Kepala dan pemuka Bangsa Yahudi. Mereka merasa terancam oleh kehadiran Yohanes dan Yesus. Mungkin merasa tersaingi, mungkin merasa mulai kehilangan pamor, kehilangan pengikut?

Demikianlah penolakan terhadap seorang nabi bahkan terhadap Tuhan bisa terjadi karena kesombongan manusia. Dengan status sosial yang tinggi, mereka merasa tidak perlu tunduk pada orang lain, apalagi orang baru, orang masih muda yang dianggap belum banyak pengalaman.

Apakah kita juga termasuk orang yang kurang rendah hati? Apakah karena intelektualitas kita, karena kekayaan kita, karena status jabatan kita, lalu kita juga menolak kedatangan Tuhan? (*)

Oleh:
RD Yosef Setiawan

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •