Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Jumat (18 Desember 2020)
Bacaan : Mat. 1:18-24.

Ada sebuah kisah tentang seorang anak yang malu berjalan dengan mamanya yang mata sebelah kanannya buta. Anak ini selalu mendapat ejekan dari teman-temanya bila dia berjalan dengan mamanya, namun suatu saat dia menjumpai sebuah surat wasiat mengapa mamanya bisa buta sebelah kanan. Sebenarnya sejak berumur satu bulan anak ini mengalami kebutaan, betapa terpukulnya perasaan ibunya tatkala tahu bahwa anaknya buta sebelah kanan. Pengobatan manapun ibunya coba, tetapi tidak berhasil. Akhirnya dia putuskan untuk mendonorkan matanya sendiri demi menyelamatkan mata anak kandungnya. Akhirnya operasi berjalan dengan baik dan anaknya bisa melihat secara normal.  Ibu ini merahasiakan semua peristiwa itu dari anaknya. Sejak mengetahui pristiwa itu anak itu langsung berubah. Dia sudah lebih menghargai ibunya dan menghormati ibunya. Dia sangat menyesal telah melakukan hal yang kasar kepada ibunya.

Ketulusan hati tidak pernah sia-sia. Santo Yosef adalah pribadi bersahaja yang memberikan diri pada saat yang tepat. Dia tidak ingin mempermalukan Bunda Maria, inilah sikap tulus dari St. Yosef.  Bunda Maria berhadapan dengan situasi sulit karena menurut kebiasaan orang pada zamannya bahwa wanita yang hamil sebelum menikah akan dihukum berat, namun justru St. Yosef hadir untuk menghapus semua kekuatiran itu dengan ketulusan hatinya yang menerima Maria tanpa banyak bertanya. Selain itu St. Yosef dalam memutuskan pilihannya berkonsultasi dengan Tuhan. Inilah cara terbaik untuk menentukan pilihan terbaik. Dalam semua keputusan terlebih dahulu harus selalu berjumpa dengan Tuhan.

Untuk itu jangan pernah abaikan, karena mana kala kita tidak berkonsultasi dengan Tuhan banyak keputusan kita tidak tepat dan menghancurkan kita. St. Yosef memberi teladan untuk kita bahwa bila kita ingin menemukan jawaban yang tepat, maka harus bertanya kepada Tuhan. Hal penting lainya adalah St. Yosef menjaga nama baik orang lain. Apapun yang dialami oleh orang lain tidak boleh membuat kita berubah sikap. Setia pada ketulusan hati juga berarti tidak mengurus urusan orang lain atau tidak sibuk dengan masalah orang lain. Makin kita dekat dengan Tuhan makin kita terbuka terhadap semua kebaikan. Adalah ironis mana kala, orang mengaku dekat  dengan Tuhan, tetapi prilakunya sangat jauh dari Tuhan.

Ketulusan dan kejujuran tidak akan pernah sia-sia, walaupun buahnya kelihatan lambat bahkan nyaris mati. Tuhan tidak pernah menolak kita, apalagi kita yang menaruh harapan pada-Nya. Masa Adven, juga adalah kesempatan bagi kita untuk merenungkan ketulusan hati kepada orang lain. Keterbukaan menjadikan hati kita selalu melihat dan bertindak yang benar.  Bagi mereka yang telah berlaku tulus dan jujur namun disia-siakan, jangan pernah putus asa. Teruslah lakukan kebaikan, semuanya pasti ada hikmatnya.  Tuhan memberkati kita. Amin. (*)

Renungan oleh :
RD Stanislaus Bani


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •