Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian Sabtu Adven III, 19 Desember 2020
Bacaan :  Hakim 13 : 2-7,24-25a
Injil : Lukas 1: 5 – 25

Saudara-saudari……..
KECEWA merupakan sebuah ungkapan rasa tak tercapai atau belum tercapai sebuah cita-cita, harapan dan perjuangan. Misalnya, kecewa karena tidak lulus ujian; tokoh idolanya meninggal dunia; club sepak bolanya kalah dalam sebuah pertandingan; usaha pertaniannya gagal panen; dan aneka rasa kekecewaan lainnya.

Sangatlah manusiawi rasa kecewa itu hadir dalam hidup setiap anak manusia. Menjadi hal biasa dan manusiawi karena rasa kecewa merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Mengapa? Karena manusia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Tak ada satu manusia pun yang sempurna.

Pertanyaan lebih lanjut adalah mengapa orang kadang merasa begitu kecewa atas sebuah kenyataan yang tak tercapai? Jawabannya adalah karena kecewa itu tidak sekedar sebuah rasa tetapi sudah menjadi sebuah KEYAKINAN atau dalam bahasa rohani yang DIIMANI akan sesuatu namun belum atau tidak terkabul.

Saudara-saudari……
Sabda Tuhan yang kita baca hari ini memperlihatkan sebuah tunas IMAN SEJATI yang tumbuh, hidup dan berkembang dalam Keluarga Zakharia dan Elisabet. Dilihat dari status sosial, baik Zakharia maupun Elisabet, tugas yang diemban Zakharia, mereka boleh dikatakan akan dengan mudah mendapatkan apa yang mereka harapkan. Walaupun demikian, ada satu hal yang terus menjadi penantian mereka, yakni mendapatkan keturunan. Sampai mereka pada lanjut usia pun keturunan belum juga mereka raih. Hal ini pasti menjadi beban tersendiri bagi Keluarga Zakharia dan Elisabet.
Sebagai manusia, Rasa KECEWA, bahkan mungkin juga marah menyelimuti hati dan pikiran mereka. Rasa bersalah dari masing-masing mereka sampai saling mempersalahkan bisa saja terjadi.

Menantikan sesuatu yang tak pasti datangnya membuat orang menjadi putus asa dan hilang harapan. Akan tetapi tidaklah demikian bagi Zakharia dan Elisabet. Mereka tetap menanti. Mereka tetap berharap. Mereka tetap bertekun dalam iman.

IMAN SEJATI di tengah badai dan gelombang kehidupan akan menuai hasilnya. Sebagaimana pameo, “Semua akan indah pada waktunya”, akhirnya tiba juga. Tuhan menjawab kerinduan mereka lewat kehadiran Malaikat yang membawa warta gembira. Tetapi Malaikat itu berkata kepadanya: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes” (Lukas 1: 13).
Kesetiaan, ketekunan, kesabaran dan pengobanan tidak akan menjadi sia-sia kalau orang tetap bertekun. Dalam situasi inilah IMAN SEJATI diuji, bertumbuh dan hidup. Keluarga Zakharia dan Elisabet telah membuktikannya

Saudara-saudari…….
Kita sedang menyiapkan diri untuk menyambut Sang Juruselamat yang akan datang pada Hari Raya Natal nanti. Situasi menanti itu membosankan dan menjenuhkan. Kadang rasa kecewa menggoda kita. Disaat-saat seperti inilah kesetiaan, ketekunan, kesabaran dan pengobanan kita diuji. Selama Masa Adven ini Iman Sejati kita dimurnikan.

Keluarga Zakharia dan Elisabet telah membukakan kita jalan. Penantian kita bukanlah penantian pasif melainkan aktif sebagaimana yang dihidupi Zakharia. Aktif melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan gembira. Aktif melayani Tuhan dalam diri sesama melalui karya sosial. Aktif berdoa dan melakukan kegiatan rohani lainnya.

Mari kita belajar bersama Keluarga Zakharia dan Elisabet. Kita Belajar Menghidupi Iman Sejati yang dimiliki Keluarga Zakharia dan Elisabet, sehingga membuat kita tetap bertekun dan bertahan. Iman Sejati itu akan memampukan kita untuk menemukan jawaban diakhir penantian ini seperti yang pernah dikatakan Elisabet: “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang” (Lukas 1:25).  TUHAN MEMBERKATI. Amin. (*)

Renungan Oleh:
Andre Lemoro


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •