Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SENIN, MASA KHUSUS ADVEN

21 DESEMBER 2020

Kid 2:8-14;

Luk 1:39-45

Penulis Kitab Kidung Agung melukiskan dengan indah gairah cinta Allah kepada bangsa Israel.   Gairah cinta yang menggelora tersebut ibarat cinta sepasang pengantin. Begitulah Allah mengundang bangsa Israel untuk menikmati kepenuhan kebahagiaan cinta-Nya. Tak mudah bagi bangsa Israel untuk memahami gairah cinta Tuhan saat masih ada musuh dan penderitaan. Lewat rangkaian puisi-puisi indah,  Kidung Agung menguatkan bangsa Israel untuk percaya bahwa gairah cinta Allah tak pernah padam. Begitu juga cinta Allah terhadap kita. Tak ada gairah cinta yang menggelora selain cinta Tuhan terhadap manusia.

Gairah cinta Tuhan juga dirasakan oleh Maria.   Bagaimana mungkin Ia menjadi rahim Gereja?. Maria adalah perempuan sederhana yang tidak memiliki ambisi selain setia, taat dan berharap Allah akan membebaskan bangsanya (Kidung Magnificat). Tak disangka kerendahan hati Maria melahirkan berkat. Allah berkenan  ia menjadi ibu Tuhan. Dari rahimnya, Putra Allah hadir menyelamatkan manusia. Luapan kebahagiaan tersebut ingin ia bagikan kepada saudarinya Elisabeth.  Ia mengunjungi  Elisabeth dengan penuh suka cita. Kunjungan Maria kepada Elizabeth dan perjumpaan yang terjadi adalah alunan sukacita dan gairah cinta Allah yang menggelora. Bagaimana mungkin perempuan sederhana dan perempuan mandul dipakai Tuhan untuk merealisasikan karya penyelamatan-Nya? Tidak hanya Maria dan Elisabet yang kekegirangan,  anak di dalam rahimnya pun melonjak kegirangan.  Mereka saling berbagi suka cita tersebut dan berharap suka cita dirasakan oleh kita saat ini.

Di hari-hari terakhir menuju puncak perayaan Natal, refleksi Gereja tidak bisa dipisahkan dari dari sosok perempuan sederhana Maria. Rahim Maria adalah rahim Gereja maka setiap rahim dalam keluarga adalah juga rahim gereja. Dari rahim perempuan  melahirkan Gereja dan menumbuhkembangkannya. Gereja akan baik-baik saja selama rahim menampilkan gelora cinta Allah bukan cinta yang lain. Maka keluarga teristimewa rahim rumah tangga akan menghasilkan generasi kaum anawim masa kini (setia, taat, percaya dan rendah hati) jika rahim rumah tangga memelihara iman tersebut dengan baik. Di masa pandemi ini, Gereja mengajak keluarga untuk senantiasa memperkokoh iman melalui kegiatan bersama seperti berdoa dan makan bersama. Cara inilah yang dapat dipakai oleh keluarga dalam memelihara iman.

Maria dan Elisabeth adalah perempuan sederhana yang melahirkan Gereja. Semoga “emak-emak” diberkati Tuhan sebagai pewaris misi Elisabeth dan Maria, yaitu meneruskan gairah cinta Allah. (*)

Renungan oleh: Shito Kadari.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •