Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, 23 Desember 2020
(Hari Rabu khusus dalam Minggu Adven IV)
Bacaan: Mal. 3:1-4; 4:5-6; dan Luk. 1:57-66.
Peringatan Fakultatif : St. Yohanes dari Kety, imam

Injil hari ini, Allah menggenapi rencana-Nya.
Dalam masyarakat kita ada yang berpendapat “apalah arti sebuah nama”, namun ada juga yang berpendapat “di dalam nama ada pesan atau harapan yang terkandung. Terlepas dari kedua pendapat tersebut, yang jelas di kalangan Bangsa Israel kuno, nama bukan sekedar panggilan atau sebutan yang tidak mempunyai berarti. Itu sebabnya bayi yang lahir biasanya diberi nama menurut nama ayahnya atau leluhurnya.

Itulah yang terjadi pada bayi yang dilahirkan Elisabet. Sesuai kebiasaan, bayi itu akan diberi nama seperti nama ayahnya yaitu Zakharia. Tetapi Elisabet menolak karena ingin memberi nama Yohanes (Luk 1:60). Orang banyak menentang karena tidak sesuai dengan tradisi (Luk 1:61). Lalu mereka menanyai Zakharia. Ia memberikan jawaban yang sama seperti jawaban istrinya (Luk 1:62-63), nama-nama yang diberikan malaikat (Luk 1:13). Dalam hal ini Zakharia tidak menaati tradisi/adat melainkan menaati warta malaikat (62-63).

Hasilnya?
(1) Zakharia bebas dari “hukuman” yakni kebisuan (Luk 1:64) sesuai dengan warta Malaikat “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi”(Luk 1:20)
(2) Orang banyak yang menyaksikan dan mendengar mukjijat itu menyimpulkan “kelahiran Yohanes bukan sekadar pernyataan rahmat Allah kepada Zakharia dan Elisabet (Luk 1:58), tetapi juga bahwa Allah menyertai Yohanes (Luk 1:66) dengan mulai mempertanyakan “”Menjadi apakah anak ini nanti?” (Luk 1:66)

Nama Yohanes berarti “Tuhan itu pemurah” dan memang Yohanes Pembaptis datang untuk mengumumkan tahun rahmat yang ditentukan yaitu waktu kepenuhan kasih karunia di dalam Yesus Kristus.Dalam kenyataan, rahmat yang selalu kita mohonkan kepada Allah, di satu sisi merupakan kabar baik, namun di sisi lain itu juga menyakitkan. Zakharia dalam kidungnya menubuatkan tentang Yohanes Pembaptis “Dan engkau, anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi, Sebab engkau akan mendahului Tuhan untuk menyiapkan jalan-Nya, Untuk menanamkan pengertian akan keselamatan dalam umat-Nya, Berkat pengampunan dosa mereka. Sebab Allah kita penuh rahmat dan berbelaskasihan, Ia mengunjungi kita laksana fajar cemerlang, Untuk menyinari orang yang meringkuk dalam kegelapan maut, Dan membimbing kita ke jalan damai sejahtera.” (Luk 1:76-78). Tetapi yang ia terima adalah hukuman mati.

Apa yang akan dialami Yohanes Pembaptis sudah dinubuatkan oleh nabi Malekahi ketika ia menegur keberdosaan umat Tuhan yang tidak merasa bermasalah dengan dosa mereka. Bagi mereka Tuhan tidak bertindak apa-apa atas dosa mereka. Kata mereka, “Di manakah Allah yang menghukum?” (Mal 2:17). Sikap menantang ini langsung dijawab: “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku!Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya Ia datang, firman Tuhan semesta alam” (ayat 3:1).

Hari ini, Rabu, tanggal 23 Desember merupakan hari terakahir masa khusus dalam masa Adven ke-IV, kita semakin diingatkan bahwa waktunya sudah sangat dekat. Dan kita diajak untuk semakin memurnikan diri kita sendiri dalam doa dan penebusan dosa untuk menjadikan hati kita rumah (palungan) yang layak bagi Tuhan.

Renungkan:
Jika bagi Zakharia, berakhirnya kebisuan menjadi pelajaran penting untuk percaya bahwa Allah pasti menepati janji-Nya. Sebaliknya, ketidakpercayaannya bukan penghalang bagi Allah untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup manusia. Maka dalam kebisuannya, Zakharia belajar taat.

Bagaaimana dengan kita?Dari kisah Zakharia kita melihat bahwa tidak mudah bagi manusia untuk percaya pada perkataan Allah, meskipun malaikat Allah sendiri yang menyampaikannya. Padahal Allah tidak berkenan atas ketidakpercayaan manusia, manusia pun bisa dihukum karenanya. Maka dengan mengingat bahwa Allah tidak pernah melupakan janji-Nya, marilah kita belajar mempercayai janji Allah. Jangan kira bahwa keterbatasan/kelemahan kita merupakan penghalang bagi Allah untuk melaksanakan karya-Nya. Dia berkuasa dan sanggup melakukan segala sesuatu sesuai dengan segala yang sudah dirancangkan-Nya.
Maka bertobatlah. (*) 

Renungan oleh:
Andi Kris.

 

.

 

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •