Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (24 Des. 2020)

Di Betlehem Tuhan Mau “Turun”, Manusia Ingin “Naik”
Injil Lukas menyampaikan berita ini: Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat para gembala dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, ini tandanya untukmu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”. (Lk. 8-10).

Berita sukacita itu mengungkapkan satu kenyataan ini  «Semua orang ingin bertumbuh di dunia, setiap anak ingin menjadi seorang dewasa, setiap orang ingin menjadi raja. Setiap raja ingin menjadi “tuhan”. Hanya Tuhan yang ingin menjadi seorang bayi”(Leonardo Boff). Bayi di palungan “kandang domba itu” adalah Tuhan dalam keadaannya kecil, tak berdaya, yang hidupnya tergantung pada orang lain. Inilah daya ledak Natal. Manusia ingin bangkit, memerintah, mengambil, merampas, menjadikan miliknya,  tetapi  Tuhan justru mau turun, melayani, memberi dirinya. Itu adalah “new normal, tatanan hidup baru yang perlihatkan dan ingin dibagikan Tuhan.”

Di Betlehem Tritunggal melakukan PDKT dengan Cara-Nya
“Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lk. 2: 13-14). Malaekat itu berseru: “Jangan takut!”.  Ya, memang demikian, Tuhan tidak boleh menakutkan. Jika menakutkan, itu bukan tuhan yang mengetuk pintu hati dan hidup kita. Tuhan melucuti diri-Nya sendiri, menjadi seorang bayi. Natal adalah pendekatan Tuhan: Ia menggoda kita lewat seorang bayi. Kalau ditanya “Siapakah Tuhan? Kita dapat mengatakan bahwa “Tuhan itu  adalah kasih, yang jatuh ke bumi saat Natal”. “Saya menyampaikan kegembiraan yang besar kepada kalian,” kata malaekat. Kegembiraan itu diperuntukan bagi semua orang, bahkan untuk orang yang paling terluka dan penuh kekurangan, tidak hanya untuk yang terbaik. Ia datang membawa lebih banyak pengampunan; Ia membawa diri-Nya sendiri, terang dalam gelap, nyala dalam dingin, Ia membawa cinta ke tempat tiada cinta.

Di Betlehem, Setiap Orang Dicintai Tanpa Penyesalan
Dan damai di bumi bagi manusia: bisa ada damai, dan memang akan ada. Kekerasan telah  menghancurkannya, tetapi perdamaian akan kembali, seperti mata air yang tidak membiarkan dirinya dicemaskan oleh musim dingin. Damai itu diberikan kepada semua yang dicintai-Nya: Ia mencintai semuanya, apa adanya; baik dan kurang baik dicintai selamanya; satu persatu, mesra, tanpa penyesalan (Marina Marcolini). 

Di Betlehem, Sederhana Itu Besar, Tanpa Kekerasan, Lemah Lembut
Ada sekelompok gembala. Itu indah sekali, karena mereka ini adalah orang sederhana, yang tidak diperhitungkan, yang terakhir, yang terlupakan. Tuhan memulai dari  mereka. Tidak hanya itu. Ada peristiwa dramatis: tidak ada tempat inap bagi keluarga Kudus Nazareth.  Di Betlehem, dusun kecil yang  tenar, Tuhan menampilkan diri-Nya miskin;  tanpa akomodasi;  Ia tidak memilih istana kaisar, Ia tidak menginginkan rumah seorang raja. Di sini, Ia memeluk, bersahabat dan mengintensifikasikan diri-Nya dengan kesederhanaan. Hal itu nanti dikata-Nya seperti yang dikutib oleh Injl Matius: «Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani  dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan  bagi banyak orang» (Mat 20,26-28).

Memang, pada bayi itu ada kerendahan hati, kelemahlembutan,  tidak bersenjata atau melepaskan amarah dengan kekerasan. Tuhan memasuki dunia kita dari titik terendah, seperti dengan semua orang yang dikucilkan, Tuhan menjadi manusia untuk belajar menangis; untuk berziarah, berlayar bersama kita di sungai air mata, sampai kehidupan-Nya dan kehidupan kita menyatu di satu aliran satu sungai. Bayi itu tampak seperti tangisan Tuhan yang menjadi manusia.

Di Betlehem, Ayah Melayani Keluarga

SUMBER : famigliacristiana.it/

Ia baru saja lahir.  Yusuf dan Maria harus melarikan diri bersama-Nya ke negeri asing, di Mesir, untuk menghindari ancaman Herodes yang ingin membunuhnya. Keluarga itu menjadi ‘imigran’ dengan segala konsekuensi menyedihkan. Pada gambar kedua ini apa yang kita perhatikan? Gambar ini tampaknya menolong kita untuk merasakan betapa besar dan istimewanya misteri besar inkarnasi (sebuah kelahiran yang tidak biasa): seorang ibu perawan, “Putri dari Putranya” dan seorang ayah yang tidak punya andil dalam kehamilan Sang Bunda. Sementara itu, terlihat sang ibu, tampak lelap, karena lelah setelah perjalanan pengungsian dari Mesir ke Betlehem. Bunda ini  membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Bapa Yosep terlihat begitu “menyatu”, begitu dekat, ia terlihat benar-benar mencintai istrinya, dia tidak menunggu gerakan emansipasi untuk memainkan perannya di dalam “rumah tangga”; diam-diam ia membuai anak itu, membiarkan Maria mengambil nafas sejenak. Ia sadar bahwa kendati Maria “bebas dari dosa asal”, tetapi tidak dari pengalaman kelelahan seorang ibu, tidak bebas dari suka dan duka menjadi seorang mama.

Harapan dan Doa

SUMBER : de.123rf.com

Terima kasih Tuhan, “Engkau menjadi manusia. Jika Engkau tidak datang tepat waktu,  saya akan mati selamanya. Jika Engkau tidak mewujud dalam daging, mirip dengan para pendosa, saya tidak akan pernah bebas dari dosa; Jika Engkau tidak menunjukkan belas kasih-Mu kepada saya, saya akan selalu hidup dalam keadaan sengsara; Jika Dia tidak berbagi kematian dengan saya, saya tidak akan hidup kembali; Jika Dia tidak datang membantu, saya akan gagal; Jika Dia tidak datang, saya akan tersesat, “Tuhanku, Sang bayi ilahi, Engkau  miskin seperti cinta, kecil seperti anak-anak, rendah hati seperti jerami tempat di mana Engkau dilahirkan. Tuhanku, Engkau belajar untuk menjalani kehidupan yang kami alami. Tuhan-ku ini tidak mampu menyerang dan menyakiti, ajari kami bahwa tidak ada makna lain bagi hidup kami, tidak ada lagi tujuan lain selain menjadi seperti-Mu”. (*)

Renungan oleh :
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •