Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, 29 Desember 2020
Bacaan : 1Yoh 2:3-11; Mzm 96:1-2a.2b-3.5b-6; Luk 2:22-35

Pada hari ini, penginjil Lukas mengisahkan bagaimana Yesus dipersembahkan oleh orang tuaNya ke dalam Bait Allah. Dikisahkan bahwa pada waktu pentahiran menurut hukum Taurat, Maria dan Yusuf membawa Kanak-Kanak Yesus ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Tuhan berdasarkan hukum Tuhan. Di dalam Bait Allah mereka bertemu dengan Simeon, orang benar dan saleh yang menanti kedatangan sang Penghibur Israel. Simeon menyambut keluarga kudus dan memuji Allah dengan berkata: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang daripada-Mu,…

Pernyataan Simeon ini sangat mengagetkan Maria dan Yusuf. akan Misteri ilahi Putera mereka ini. Simeon memberkati keluarga kudus ini dengan berkata, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang”. Pernyataan Simeon ini tentu semakin mengagetkan Maria dan Yusuf. Kanak-kanak Yesus sedang dipersembahkan ke dalam bait Allah menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan. Mengapa? Karena keselamatan yang akan ditawarkan Yesus menuntut komitmen yang jelas: selalu bersama dan memihak Yesus atau menolak Yesus. Pilihan yang menjadi komitmen bagi setiap pengikut Kristus. Banyak kali orang boleh berjanji untuk selamanya bersama Yesus, tetapi kadang mengkhianati Yesus juga masih masuk dalam diri setiap pribadi. Maka perlu membangun komitmen yang baik untuk bersatu dengan Yesus. Selanjutnya Simeon juga berkata kepada Maria, “Suatu pedang akan menembusi jiwamu sendiri”. Semua ini menjadi simbol penderitaan akan dialami olehnya. Dan kita semua tahu bagaimana penderitaan Maria sebagai ibu. Dari saat menerima khabar sukacita sampai di bawah kaki salib bahkan menanti kedatangan Roh Kudus, Maria hadir dan merasakan penderitaan. Tetapi yang membuat Maria menjadi besar adalah: “Ia menyimpan semuanya dalam hatinya”.

Tokoh-tokoh dalam Kisah Injil hari ini adalah orang-orang yang mengenal Allah. Yohanes mengatakan bahwa orang yang mengenal Allah adalah orang yang mengikuti perintah-perintah Tuhan. Kalau seorang tidak mengikuti perintah Tuhan, ia juga tidak mengenal Allah. Simeon, Yusuf dan Maria adalah pribadi-pribadi yang mengenal Tuhan karena melakukan perintah Tuhan,  perintah untuk mengasihi dan perintah baru ini, laksana terang yang menghalau kegelapan. Terang itu benar-benar bercahaya. Orang yang saling mengasihi hidup dalam terang, sedangkan yang membenci saudaranya hidup dalam kegelapan. Pernyataan Yohanes ini kiranya cocok dengan sukacita Simeon yang mengatakan, “Mataku telah melihat keselamatan, Dialah terang yang menjadi penyataan bangsa-bangsa”

Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk mengimani Tuhan Yesus sebagai Terang yang menyinari segala bangsa.Terangnya bercahaya dan membuat kita semua hidup dalam kasih. Apakah Anda juga hidup dalam terang? Apakah Anda juga mulai belajar mengasihi saudaramu? Yesus adalah terang dan keselamatan kita. Pandanglah Dia maka Anda akan mampu mengasihi sesamamu. (*)

Renungan oleh: RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •