Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Rabu (30 Desember 2020)
Bacaan : Luk. 2: 36-40

Kisah tentang penantian yang panjang selalu membuahkan rasa sedih sekaligus mengharukan, namun kemudian berakhir manis. Cerita tentang sebuah keluarga yang sudah lebih dari sepuluh tahun menantikan kelahiran “sang buah hati” juga adalah cerita tentang: kesabaran, putus asa, keuletan dan tentu saja kesetiaan. Begitu juga cerita tentang orang sukses yang meniti kariernya mulai dari bawah lalu merangkak naik dan menjadi sukses adalah cerita tentang perjuangan untuk tetap dijalan yang benar. Kisah-kisah sukses dari mereka yang tetap sabar inilah yang menjadi bahan permenungan kita kali ini.

Merenungkan Sabda Tuhan hari ini mengantar kita untuk tetap setia kepada hal yang baik, benar dan mulia. Hari-hari oktaf Natal ini kita bertemu dengan dua sosok nabi yang memiliki komunikasi intens  dengan Tuhan. Kedua orang itu adalah Simeon dan Hana. Dua sosok beriman yang konsisten menanti kedatangan Mesias. Kedua-duanya tidak pernah meninggalkan Bait Allah, mereka siang malam memuji nama Tuhan dan keduanya menantikan penyelamatan kepada Israel. Oleh karena itu Simeon bahkan mengatakan “sekarang aku telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita” dan ”perkenankan hamba-Mu ini berpulang menurut Sabda-Mu.”

Injil hari ini menceritakan kembali sosok nabi perempuan bernama Hana, orang yang setia menantikan mesias, yang percaya bahwa sosok mesias itu ada dalam diri Yesus yang dibawa oleh orang tua-Nya ke Baik Allah. Penantian yang panjang itu membuahkan hasil yang didambakannya. Kita tidak bisa membayangkan betapa gembiranya Hana kalau penantian yang panjang yakni delapan puluh empat tahun akhirnya ditemukan. Dengan kenabiannya, Hana bercerita tentang segala sesuatu mengenai Yesus: anak yang baru dilahirkan itu. Hana, seperti halnya Simeon tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan selalu memuji Allah.

Hana adalah contoh tentang seorang beriman sejati yang percaya bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan manusia yang dengan penuh iman pasrah dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Harapan orang beriman tidaklah sia-sia apalagi tidak bermakna, sebaliknya harapan orang beriman adalah harapan yang membawa suka cita. Mengapa sering kali kita kecewa dan putus asa ketika harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan atau bahkan jauh dari kenyataan; harapan mendapat pekerjaan yang baik ternyata tidak kita dapatkan, harapan untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik ternyata mendapatkan orang yang membosankan, harapan akan keberhasilan dalam usaha ternyata tidak terwujud malahan rugi dan bangkrut. Hana mengharapkan keselamatan itu delapan puluh empat tahun. Hal ini berarti dia telah melewati berbagai tantangan, rintangan dan kesulitan, sehingga mengantar dia memperoleh hasil yang gemilang.

Para saudara dan saudari ku, jika saat ini Anda sedang kecewa karena sebuah penantian atau sebuah harapan yang belum terwujud, jangan pernah padamkan harapan itu. Tuhan tidak pernah tidur untuk mendengarkan permohonan dan ratap tangismu. Kita harus tetap setia, sabar dan rendah hati menantikan “saat Tuhan” menjawab doa dan harapan kita. Lebih dari itu jangan pernah keluar dari “rel” yang diinginkan Tuhan bagi kita yakni “kita akan menyaksikan keselamatan, suka cita dan kebahagian.” (*)

Renungan Oleh:
RD Stanislaus Bani


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •