Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan, 04 Januari 2021
(Hari Senin, Hari Biasa Sesudah Penampakan Tuhan)
Bacaan: 1Yoh. 3:22- 4: 6; dan Mat. 4:12-17.23-25

Waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali” (Mat 4:12-13). Pertanyannya: Mengapa Yesus menyingkir? Takut? Atau ada alasan lain? Dan mengapa menyingkir ke Kapernaum, di daerah Zebulon dan Naftali?

Peristiwa ditangkapnya Yohanes Pembaptis menjadi tanda dimulainya Yesus berkarya melaksanakan misi-Nya untuk menyelamatkan umat. Yesus memilih Kapernaum sebagai tempat ia mengawali karya-Nya bukan Nazareth kota asalnya karena ada penolakan dari orang-orang Nazaret dan kaum keluarganya sendiri (bdk Luk 4:29; Mrk 3:21), Kapernaum bahkan menjadi semacam home base Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya, sepanjang pelayanan-Nya di daerah Galilea.

Yesus “menyingkir” dapat diartikan Yesus harus “pergi ke luar” meninggalkan kemapanan hidup untuk memulai misinya. Penulis Injil Matius mencatat pelayanan Yesus di Kapernaum itu merupakan penggenapan nubuat Nabi Yesaya mengenai kedatangan Mesias (Mat 4:14-16; bdk. Yes 9:1-2). Waktu Yesaya bernubuat, Galilea sedang berada dibawah kegelapan tekanan Asyur. Waktu Yesus berkarya, Galilea juga berada di bawah kegelapan penindasan Roma. Kedatangan Yesus ke Galilea bagai terang yang menyinari tempat yang dikuasai kegelapandan agar mereka yang berdiam dalam gelap mengalami terang yang membangkitkan.“Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 4:16). Yesus menegaskan untuk mengalami terang (Kristus = Kerajaan Allah), kita harus bertobat. Dengan demikian tobat adalah salah satu inti pemberitaan Yesus selain Kerajaan Allah (Kabar Gembira).

Bertobat berarti mengubah fokus hidup (=menyingkir, berpindah, beralih, ke luar), dari berfokus pada diri sendiri beralih jadi berfokus/berpusat pada Kristus (rencana dan kehendak Allah), Tobat berarti menyerahkan diri secara total kepada penguasaan Kristus. Berita pertobatan ini tak pernah usang, kecuali bagi mereka yang hanya mau memuaskan telinga.

Ketika Injil (Kristus) datang, terang pun tiba (bdk. Yoh 1:8). Di mana ada kegelapan, di situ Injil akan bersinar (Luk 1:78-79). Terang membantu menemukan jalan, terang mengarahkan langkah. Apakah terang firman sudah menguasai dan mengendalikan hidup ada di sepanjang tahun 2020yang lalu? Atau anda justru berusaha memadamkannya karena ada hal-hal lain yang begitu mendesak, tetapi tak bisa terlaksana bila tetap hidup dalam terang? Kenyataannya, Natal sudah terjadi, dan kemarin kita merayakan Hari Anak Misioner sedunia. Marilah kita membiarkan terang itu menyala dalam hidup kita, sehingga menerangi sekitar kita.

Jika hari ini Injil kembali menyerukan “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”, berarti kita kembali diingatkan bahwa pertobatan adalah satu-satunya jalan yang paling mungkin bagi kita yang masih mengharapkan keselamatan. Karya Yesus awal dimulai dari tanah Zebulon dan Naftali, yang dikisahkan negeri yang dinaungi maut, bangsa yang diam dalam kegelapan. Menjadi sangat jelas pesan kedatangan Yesus, yakni terang yang mengalahkan kegelapan, terang yang menuntun orang keluar dari lembah kelam dosa.

Pertobatan merupakan gabungan dari sikap batin yang membangun niat berbalik dari dosa dan kelalaian sekaligus perwujudan konkret dari sikap penyesalan diri. Dasar dari pertobatan kita yang terus menerus adalah Yesus sendiri yang rela sengsara dan wafat demi kita-kita yang hobi berbuat dosa (Bdk 1Yoh 3:22 – 4:6). Selalu ada kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki kehidupan menjadi lebih bermakna dan indah. Semoga. (*)

Renungan Oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •