Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan, Selasa (05 Januari 2021)

Perjamuan Kematian: Herodes dan Kawan-kawan
1) Untuk mencerahkan permenungan kita dan untuk menemukan artinya dengan lebih baik dari Injil hari ini, baik kalau kita melihat konteks di mana teks Injil ini berada. Di ayat sebelumnya (Mrk 6: 17-29), Penginjil Markus menceritakan Perjamuan Kematian di istana ibukota pada saat Ulang Tahun Herodes. Perjamuan kematian ini diprakarsai Herodes untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. Perjamuan Kematian karena saat itulah Yohanes Pembaptis dibunuh.

(SUMBER : sites.google.com)

Perjamuan Kehidupan: Yesus dan yang Lapar
2) Kisah perbanyakan roti sangat penting. Kisah itu muncul dua kali: di bab 6, 33-44 dan di bab 8: 1-9. Dan Yesus sendiri mempertanyakan ketidakpahaman para murid tentang mukjizat perbanyakan roti (Mrk 8: 14-21). Untuk alasan ini, ada baiknya kita mengamati dan merenungkan untuk menemukan apa sebenarnya arti penting dari tindakan Yesus memperbanyak roti itu.
3) Yesus sebetulnya mengajak para murid untuk beristirahat sejenak di suatu tempat di padang gurun (Mrk 6:31). Orang banyak berpikir bahwa Yesus telah pergi ke pantai di seberang danau, karena itu mereka mengikuti Dia lewat jalan darat dan tiba lebih dulu di pantai seberang (Mrk 6:33). Ketika Yesus turun dari perahu, Ia melihat orang banyak itu menunggu Dia. Yesus sangat sedih “karena mereka seperti domba tanpa gembala”. Kalimat ini mengingatkan kita akan Mazmur tentang gembala yang baik (Mzm 23). Di hadapan orang-orang tanpa gembala, Yesus melupakan keletihan dan keinginan untuk beristirahat dan ia mulai mengajar, bagai seorang gembala. Dengan kata-katanya Ia mengarahkan dan membimbing orang banyak ke padang gurun kehidupan, dan orang banyak itu bisa bernyanyi: “TUHAN adalah gembalaku takkan kekurangan aku” (Mzm 23: 1).

Kamu Harus Memberi Mereka
4) Waktu berlalu dan hari mulai gelap. Murid-murid khawatir dan meminta Yesus untuk membiarkan orang-orang itu pergi. Para murid mengklaim bahwa di di tempat itu tidak mungkin ditemukan makanan untuk begitu banyak orang. Yesus berkata, “Kamu harus memberi mereka makan!” Para murid cemas dan berkata kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (yaitu, upah untuk 200 hari). Bagi para murid, solusi untuk orang-orang itu adalah mencari di luar mereka. Berbeda dengan Yesus. Ia tidak mencari solusi di luar, tetapi di dalam orang banyak dan untuk mereka. Karena itu Ia bertanya: “Berapa banyak roti yang kamu miliki? Coba check!.” Jawaban mereka: “ada lima roti dan dua ikan!”. Tentu saja , itu jumlah yang sangat kecil bagi orang sebanyak itu! Yesus memerintahkan orang banyak untuk duduk dalam kelompok dan meminta murid-murid untuk membagikan roti dan ikan. Semua orang makan sesuka hati!

Ekaristi Mengarahkan Kita Kepada Berbagi
5) Penting untuk diperhatikan bagaimana Markus menggambarkan fakta tersebut. Dikatakan: “Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka”. Cara yang dilakukan Yesus seperti ini mengingatkan komunitas berpikir tentang Ekaristi. Sebab kata-kata itu digunakan (sampai sekarang) dalam perayaan Perjamuan Tuhan. Itu berarti yang ingin ditekankan Markus kepada para pendengar atau komunitasnya adalah bahwa Perayaan Ekaristi harus mengarah orang pada berbagi. Roti Hidup, cara Yesus harusnya membuat kita berani menghadapi masalah dan mengatasinya dengan cara yang berbeda: bukan dari luar, tetapi dari dalam: dari dalam komunitas itu sendiri.

Merayakan Perjamuan Kehidupan

(SUMBER : riforma.it)

6) Di Hari Natal, kita menyaksikan persembahan diri Allah dalam diri sang bayi Yesus; karena Ia ingin berbagi sukacita dan keselamatan untuk kita. Ia mau menarik kita kepada-Nya dalam satu persahabatan kasih yang mendalam…. Bahkan Tiga Raja dari Timur, di hari Epifani dapat menyembah Tuhan yang tak berdaya di kandang domba. Mereka membuka diri dan hartanya, mempersembahkan harta itu kepada Tuhan. Saat ini, kandang tempat Yesus lahir, sekaligus Salib tempat Ia memberi diri-Nya sendiri bukan lagi kandang domba tetapi Sebuah Altar; Di Altar ini ada kekuatan jiwa kita, sumber kesatuan dari semua pikiran kita, ada alasan kepercayaan kita; ada harapan, keselamatan, terang, hidup.
7) Dalam perjamuan Ekaristi di Meja Altar Kurban, kita memenuhi undangan Yesus Tuan Pesta. Semoga, Perjamuan Kehidupan di Ekaristi itu meresapi jiwa kita agar di hidup sehari-hari di dalam keluarga, di dalam komunitas, kita berjuang untuk mengadakan perjamuan yang memberi “hidup”, yang memberi harapan, yang menyatakan kasih, kerahiman, dan kemurahan hati Tuhan kita kepada siapa saja”. (*)

Renungan oleh:
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •