Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM – Adalah Bruder Yanuar Husada SSCC yang akrab disapa Bruder Yan, seorang biarawan dari Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria (SSCC) hari ini, Minggu (17 Januari 2021) genap memasuki usia 83 tahun. Sebuah peziarahan hidup yang panjang.

Lahir di sebuah desa di Negeri Kincir Angin bernama Meerssen, Belanda, anak kedua dari enam bersaudara pasangan Alfons Heuts dengan Barbara Evers ini memiliki nama pemberian orang tuanya, Johanes Marie Heuts. Tatkala menginjak usia 27 tahun, Bruder Yan muda mendarat di Jakarta, 08 Desember 1965, setelah sebelumnya menempuh perjalanan laut selama enam minggu. Lama tinggal di Indonesia, khususnya Pulau Bangka, membuat Bruder Yan jatuh cinta pada Indonesia. Hingga 30 tahun kemudian, tepatnya tahun 1995 Bruder Yan menjadi Warga Negara Indonesia dengan berganti nama menjadi Yanuar Husada.

Kini, di usia yang ke-83 tahun Bruder Yan tercatat telah menjalani kehidupan membiara selama 64 tahun dan menjadi seorang penyembuh selama 39 tahun. Ditemui di kediamannya baru-baru ini, kepada katedralpangkalpinang.com Bruder Yan mengaku di usianya yang sekarang ia tak lagi memiliki rencana.
“Saya tidak ada rencana untuk ini itu lagi. Itu untuk orang muda. Kalau sudah tua, apa yang ada harus diurus dengan baik. Selama saya boleh bekerja membantu orang, saya kerja, tetapi sudah jelas dengan masuknya banyak surat dari pasien saya capek. Kadang saya memulai, tetapi tangan tidak mau bergerak dan suara hati meminta untuk stop,” tutur pemilik motto hidup ‘selalu berbuat baik dan terima apa saja yang datang’.

Saat ditanya suka duka menjadi seorang penyembuh, Bruder Yan lantas mengutip bacaan Injil beberapa waktu lalu tentang Yesus yang hampir dibunuh di Nazaret karena tidak ada nabi yang diakui di kampung sendiri.
“Pengalaman saya di antara konfrater Belanda semuanya, saat awal pengobatan saya ditolak. Oleh atasan, saya hendak diusir dari Indonesia dengan berbagai cara. Saat itu dalam hati saya, kalau mereka melarang saya untuk mengobati orang, saya keluar dari kongregasi. Saya lahir, saya ke Indonesia untuk pengobatan, bukan untuk menjadi tukang kayu,” kenang pribadi yang mulai menyadari bahwa pengobatan adalah panggilan hidupnya pada usia sekitar 40 tahun ini.

Tatkala katedralpangkalpinang.com bertanya lebih jauh tentang impian atas karya penyembuhan yang telah ia lalui dengan berbagai penolakan di awal karya, Bruder Yan pun berharap suatu hari nanti akan ada orang yang meneruskan karya penyembuhan yang ia beri motto, ‘Tuhan Allah Sumber Segala Energi.’
“Saya harap suatu hari datang satu orang dengan kemampuan. Sudah enam dokter yang belajar, dua orang bukan dokter tetapi bisnis sendiri, kerja macam-macam. Ada dokter yang tidak berani, ada dokter yang di tempatnya tidak boleh. Kalau datang seseorang yang bukan dokter seperti saya, tidak terikat dengan suatu sumpah, ia bebas,” ujar pengagum Pater Damian, Mother Teresa dan Pastor Mario John Boen ini.

Bruder Yan melanjutkan, kalau ada orang yang memiliki kemampuan, benar-benar jujur dan tidak mau kerja untuk mencari duit, tetapi mau mengabdi, orang tersebut boleh tinggal di rumahnya (kediaman Bruder Yan di Jalan Solihin GP Km. 4, Pangkalpinang-red).
“Kalau perlu saya akan keluar dan tinggal di kebun. Saya siap. Saya sama sekali tidak ada rahasia. Apa yang saya tahu akan saya bagikan,” tandas pribadi yang rendah hati dan humoris ini.

Janganlah Membuang dan Meninggalkanku
Tiga tahun yang lalu, saat penulis terlibat dalam tim kecil panitia persiapan ulang tahun Bruder Yan yang ke-80, ketika hendak mendesign kartu undangan tiba-tiba Bruder Yan meminta dituliskan Kitab Mazmur 71:9; ‘Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.’

Bruder Yan mengenakan jubah saat perayaaan ulang tahunnya yang ke-80 bersama rekan di Pulau Batam, Januari 2018. (KATEDRALPGK/FENNIE)

Sesaat penulis tertegun, ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba menyergap di hati dan benak ini, namun saat itu tak punya cukup kekuatan untuk bertanya. Ada apa, mengapa, kenapa, apa yang terjadi, dan lain sebagainya. Tiga tahun waktu berlalu. Dalam diam pertanyaan itu tetap tersimpan, hingga hari ini demi kepentingan karya pewartaan penulis beranikan diri untuk bertanya. Mendapati pertanyaan penulis Bruder Yan berujar, ”Berapa banyak orang Indonesia yang mencapai usia 80 tahun? Tidak banyak. Dan saya tertarik untuk mengutip ayat itu.”

Terpisah, Superior Provinsial SSCC Provinsi Indonesia, RP Bonie Payong SSCC dihubungi katedralpangkalpinang.com via whatsapp memberi tanggapan atas pemilihan Kitab Mazmur 71:9 oleh Bruder Yan tersebut.
“Percayalah! Kami para saudaramu SSCC Indonesia tidak mungkin membuang atau meninggalkan Bruder sendirian ketika Bruder sudah semakin tua dan kekuatan itu semakin berkurang. Itu bukan budaya orang Indonesia dan bukan cara hidup kita para biarawan SSCC,”  ujar petinggi SSCC ini.

Romo Bonie mengimbuhkan, sebagai Superior Provinsial SSCC Provinsi Indonesia dirinya berusaha secara teratur dan berkala mengunjungi Bruder Yan di Pangkalpinang.
“Kami juga teratur kontak Bruder untuk memastikan bahwa Bruder selalu dalam keadaan sehat dan baik, sambil terus mengupayakan apa dan bagaimana seharusnya kami lakukan untuk kedepannya. Tuhan selalu memberikan jalan-Nya yang terbaik bagi setiap kita. Rencana Tuhan selalu indah dan tepat pada waktunya,” lanjut Romo Bonie.

Keluarga besar SSCC turut berbahagia dan menyampaikan suka citanya atas peringatan ulang tahun Bruder Yan yang ke-83.
“Kami para saudara dan adik-adikmu anggota muda SSCC mengucapkan selamat merayakan ulang tahun yang ke-83. Semoga Bruder tetap sehat dan semangat untuk terus meringankan penderitaan keluarga-keluarga yang sakit dan menderita. Salam Malaekat, Bruder,” tutur Romo Bonie menirukan kebiasaan Bruder Yan menyapa dengan kata ‘Salam Malaekat’. (katedralpgk)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •