Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Jumat (29 Januari 2021)

Benih adalah Firman
Sungguh indah melihat Yesus yang selalu baru, menemukan dalam kehidupan, pengalaman sehari-hari dan gambaran yang dapat membantu orang untuk melihat dan mengalami kehadiran Kerajaan Allah. Dalam Injil hari ini, sekali lagi, ia menceritakan dua cerita pendek yang terjadi setiap hari dalam kehidupan kita semua: “Kisah tentang benih yang tumbuh dengan sendirinya”.

Petani yang menanam tahu prosesnya pertumbuhan benih, ia juga tahu bagaimana menunggu. Tetapi dia tidak tahu bagaimana bumi, hujan, matahari dan benih memiliki kekuatan untuk menumbuhkan tanaman dari ketiadaan menjadi berbuah. Begitu pula Kerajaan Allah : ada proses, ada tahapan dan saat pertumbuhan; terjadi seiring waktu; kemudian menghasilkan buah pada waktu yang tepat, tetapi tidak ada yang bisa menjelaskan kekuatan misteri pertumbuhannya. Hanya Tuhan!

Tugas kita adalah menabur – mewartakan benih Sabda Kerajaan Allah. Pertumbuhannya tidak bergantung pada penabur, tetapi pada “lahan” dari siapa pun yang menerima Firman Tuhan. Rasul Paulus sendiri menulis kepada komunitas jemaat di Korintus,: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Tuhan yang menumbuhkan “(1 Kor 3: 6). Kekuatan Allah, yang tersembunyi di dalam benih firman-Nya akan menumbuhkan benih Kerajaan itu.

SUMBER : www.iotibenedico.info

Yesus menabur Firman, dan Dia sendiri adalah benih Allah yang ditaburkan di dalam sejarah. Firman itu hanya perlu  tanah yang disiapkan; tanah yang menyambut-Nya dan kesabaran. Sehubungan dengan itu St Yakobus mengingatkan kita : «Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!….. janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum….. turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan; sebab….. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan……. Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan… doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni… hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya» (bdk.Yakobus, 5: 7-16)

Apa yang Kita Taburkan Dalam Pikiran dan Hati?
Kehidupan kita  adalah tanah tempat benih ini ditanam; demikian juga hati dan pikiran kita. Siang dan malam, bahkan dalam ketidaksadaran yang paling total tentang bagaimana hal ini terjadi di dalam kehidupan dan diri kita masing-masing. Perlahan-lahan benih apa pun itu bertumbuh dan akan berbuah sesuai dengan apa yang ditabur. Jika yang ditabur adalah benih yang datang dari Firman, dari Tuhan tentu buahnya dalam tutur kata, dalam tindakan, dalam cara pandang sungguh dijiwai dan diinspirasi oleh Firman. Sebaliknya jika setiap kali kita taburkan “semangat duniawi : seperti kemuliaan manusia dan kesejahteraan pribadi ; mencari “kepentingannya sendiri; yang mengandalkan diri sendiri sehingga mereka akhirnya hanya percaya pada kekuatan mereka sendiri dan merasa lebih unggul daripada yang lain” (Evangelii Gaudium, no. 93-94), maka buah yang muncul adalah upaya untuk selalu memecah belah kebersamaan, persaudaraan, kemarahan, dengki, iri hati, cemburu, kemalasan, kesombongan, balas dendam dan sebagainya.

Karena itu, baiklah kita perlu «menemukan kembali sentralitas Sabda Allah dalam kehidupan kita; agar kita selalu diperbarui oleh Sabda Tuhan yang tetap selamanya (lih. 1 Pt 1:25; Yes 40,8). (*)

Renungan Oleh:
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •