Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Selasa (09 Februari 2021)
Minggu Biasa V.
Bacaan: Kej 1:20-2:4 dan Injil Mrk 7:1-13

Di dalam Injil Mrk 7:1-13 Yesus mengkritik secara keras kebiasaan orang-orang Farisi dan ahli taurat (orang-orang yang menguasai hukum agama dan kitab suci) yang sering memanipulasi dan mempermainkan hukum, baik hukum adat (tradisi) maupun hukum Tuhan (hukum Taurat dan para nabi) untuk kepentingan pribadi atau kelompokmerekabukan untuk kesejahteraan umat/masyarakat. Hukum lebih dijadikan sarana kesucian seremonialbukan kesucian moral. *Tidak cuci tangan sebelum makan, dinilai najis/tercemar/dosa* (Mrk 7:2-5). Akibatnya hukum justru membebani umat/masyarakat, apalagi kalau selalu dikaitan dengan dosa.

Bagi Yesus *hukum (hukum apapun) harus membebaskan (menguduskan/menahirkan) manusia*. Oleh karena itu Yesus bertanya kepada ahli Taurat dan orang Farisi “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Mrk 3:4) dan Yesus menegaskan *”boleh berbuat baik pada hari Sabat”* (Mat 12:12).

Dalam Mrk 7:1-13, intinya Yesus *bukan tidak setuju dengan adanya hukum tradisi atau hukum Taurat*, tetapi *tidak setuju orang menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan* dan Yesus menilai orang yang mempermainkan hukum apalagi demi kepentingan pribadi atau kelompoknya adalah munafik (Mrk 7:6).

Dalam ajaran-Nya, Yesus lebih menekankan praktek hukum untuk kemurnian moral daripada seremonial (Mrk 7:1-23). *Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” (Mat 15:17-20)

Tuduhan Yesus yang keras ini sebenarnya ditujukan kepada kita yang menganggap hal-hal yang ritual dan yang lahiriah lebih tinggi daripada hal-hal yang moral dan etis namun juga yang menyepelekan segala bentuk aturan. Yang penting adalah bagaimana moral menaati seremonial. Bagi Paus Pius X, tokoh gerakan pembaharuan liturgi, dalam Mottu proprionya “Trale solecitudini” (1903) mengharapkan umat memahami (bukan sekedar tahu) aturan liturgi (apa yang dilakukan dan dirayakan dalam liturgi) agar bisa terlibat secara aktif dan penuh dalam memuliakan Allah. Oleh karena itu KV II menegaskan pentingnya pendidikan liturgi bagi umat/ St. Paulus menegaskan peraturan tentang tingkah laku Kristiani dalam Ibr 3:19 dst *menitikberatkan bahwa satu-satunya kenajisan yg berarti penting secara agamawi ialah kenajisan hati nurani. Obatnya adalah korban Kristus, yang dipersembahkan dalam dunia kerohanian.* (Rm 14:14, 20; 1 Kor 6:13; Kol 2:16, 20-22; Tit 1:15). Tidak berarti Yesus menafikkan atau mengabaikan atau meniadakan peraturan ritual dan seremonial. Yesus justru menggenapi peraturan ritual dan seremonial. (Mat 5:18)

Bagaimana dengan kita? Bukankah kita diciptakan Allah sebagai citra Allah (Kej 1:20-2:4)untuk menguasai seluruh ciptaan dalam arti merawat, memberdayakan sesuai dengan rendana dan kehendak-Nya (aturan Allah) artinya menahirkan dunia bukan menajiskan dunia? Semoga. GBU. (*)

 Renungan oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •