Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Jumat dalam Minggu Prapaskah II Tahun B/I, 05 Maret 2021

 Di dalam bacaan I (Kej.37:3-4.12-13a.17b-28) kepada kita disajikan kisah Yusuf yang dijual saudara-saudaranya kepada saudagar-saudagar Midian dan oleh para saudagar itu Yusuf di bawa ke Mesir (Kej 37:28). Semua itu terjadi “bersumber dari rasa iri dan benci” (Kej 37:4). Iri dan benci mengingatkan kita pada peristiwa Kain dan Habil, di mana Allah sudah mengingatkan bahayanya jika tidak menguasai rasa iri dan benci (Kej 4:5-7). Sementara Yusuf, ditampilkan sebagai sosok yang diam dan penurut, menerima apa adanya. Namun pada akhir cerita ditampilkan Yusuf menerima semua yang ia alami dan kerjakan hanya untuk kemuliaan Allah, sehingga tidak ada rasa dendam pada dirinya terhadap saudara-saudaranya.

Dalam bacaan Injil (Mat 21:33-43.45-46) melalui perumpamaan penggarap di ladang anggur Yesus mau menegaskan pada kita bahwa :

  1. Ladang anggur yang disewakan kepada kita semua kita semua tanpa kecuali”(Mat 21:33) “adalah Kerajaan Allah”. Hal itu ditegaskan dalam ayat 43: “Kerajaan Allah akan diambil dari padamu”. Kita semua tanpa kecuali diartikan apapun status dan pekerjaan kita (pejabat-rakyat biasa, kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, berpendidikan-tidak berpendidikan, dll; di mana saja kita beraktivitas (di rumah, di KBG, di tepat kerja, di tempat beraktivitas, dll)
  2. Kata “disewakan”dimaknai dalam terang ayat 34: “Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya” artinya “sewa dengan sistem bagi hasil”. Dengan sistem ini, kita diingatkan oleh Yesus bahwa dalam setiap hasil usaha kita, selalu ada bagian yang menjadi hak/milik Allah, dan harus dikembalikan kepada Allah. Dalam dunia Perjanjian Lama dikenal: mempersembahkan anak sulung, buah sulung, hasil pertama, perpuluhan. Dalam dunia Perjanjian Baru ditegaskan oleh Yesus dalam kisah persembahan janda miskin “mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” atau motivasi/spirit untuk memuliakan Allah (Mrk 12:44). Kita, sekarang dalam rupa: kolekte, persembahan keluarga, stipendium, iurastolae, dll.
  3. Kondisi” ladang anggur yang disewakan kepada kita sudah “siap operasi” karena “sudah dibuka artinya sudah ditanami, diberi pagar sekelilingnya, sudah ada peralatan untuk memeras atau mengolah hasil, dan dilengkapi dengan menara jaga” (Mat 21:33). Itu berarti kita yang menyewa tidak perlu modal awal. Kita perlu merawat dan menjaga, kemudian tinggal memetik hasil dan mengolah. Kondisi ini sejajar dengankondisi dunia ketika diciptakan Allah dan dipercayakan kepada manusia dalam kondisi “sungguh amat baik” (Kej 1:31).

Bagaimana dengan kita? Dari kita dituntut “rasa memiliki”dan“rasa tanggunggung jawab, serta “motivasi sebagai hamba Allah yang bekerja hanya demi kemuliaan Allah”bukan untuk kepuasan diri. Jangan lupa buang jauh-jauh “rasa iri dan benci”, apalagi iri kepada Allah dengan alasan “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam” (Mat 25:24) sehingga bagian hak milik Allah tidak kita serahkan pada-Nya. Amit-amit jangan saampai Kerajaan Allah diambil dari diri kita.

Ingatlah: Apapun pekerjaan dan aktivitas kita dan di manapun kita bekerja dan beraktivitas, semuanya dalam rangka merawat dan mengolah kebun anggur Allah. Dan seberapapu  hasilnya, ingatlah ada bagian di dalamnya milik/hak Allah yanag harus kita kembalikan kepada Allah. Semua hanya “untuk kesejahteraan kita dan untuk kemuliaan Allah”. Itulah doa yang selalu kita ucapankan dalam setiap perayaan ekaristi (perayaan syukur nan agung) setiap kali imam mengajak kita berdoa “berdoalah saudara-saudari supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan kepada Allah, Bapa yang Mahakuasa” dan kita menjawab “Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang kudus”. Masa prapaskah mengingatkan kita “jadilah pekerja di ladang anggur Allah yang semakin beriman semakin solider.
Semoga. GBU. (*)

Renungan oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •