Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan, 17 Maret 2021, Rabu dalam Minggu Prapaskah IV
Bacaan: Yes. 49:1-15; danYoh 5:17-30.
Pesta fakultataif St. Patrisius, uskup

Dalam bacaan I (Yes 49:1-15) Yesaya mengingatkan Bangsa Israel saat mereka berada di pengasingan dan merasa ditinggalkan Allah (Yes 49:14) bahwa kasih Allah kepada anak-anak-Nya terpatri jauh lebih dalam daripada semua ingatan kita yang bisa memudar, bahkan, Allah tidak akan melupakan umat-Nya. Dengan tegas Allah menjawab keluhan umat-Nya melalui Yesaya “Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Bahkan janji Allah untuk memelihara umat-Nya jauh lebih pasti daripada kasih seorang ibu untuk anaknya (Yes 49:15). Untuk meyakinkan umat-Nya akan kasih-Nya yang tidak berubah, Allah memberikan gambaran tentang komitmen-Nya: Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku (Yes 49:16). Sungguh gambaran yang indah tentang perhatian Allah yang tak berkesudahan atas anak-anak-Nya; nama dan wajah mereka akan selalu diingat-Nya.

Yesaya menyampaikan semua itu didasarkan pada pengalamannya dikasihi dan diperhatikan Allah (Yes 49:1-5) dan ia ditugaskan untuk mewartakan kasih setia Allah itu (Yes 49:6). Kiranya hati kita terhibur ketika mengingat bahwa kita “terlukis” di telapak tangan Allah—kita selalu diingat, diperhatikan, dan dikasihi oleh Bapa kita.

Injil hari ini (Yoh 5:17-30) menyajikan kepada kita bagaimana Yesus, walau pertentangan-Nya dengan para pemimpin Yahudi semakin keras, namundengan terus terang Yesus melanggar hukum hari Sabat dan menyatakan Allah sebagai Bapa-Nya. Yesus membela diri dan menerangkan tugas panggilan-Nya. Bahkan Ia menegaskan kuasa mengakimitelah diberikan oleh Bapa-Nya (Yoh 5:22 dan 27).

Ajaran Yesus di Yoh 5:17-30 kalau mau diringkas demikian: Kalau kita berbuat baik, kita akan hidup. Jikalau kita berbuat jahat kita akan binasa. Tidak seorang pun akan lolos dari kenyataan ini. Kita akan dihakimi menurut apa yang telah kita lakukan. Kristus sendiri yang menjadi teladan kita: Ia berasal dari Bapa dan Ia hidup menurut kehendak Bapa.

Bagi Yesus, Bapa hanya dapat dimuliakan jika tindakan kita sesuai dengan kehendak Bapa. Kalau ini yang menjadi pilihan hidup kita, maka kita tidak akan memandang Bapa sebagai hakim yang kejam, karena kita tahu apa rencana Bapa. Tuhan telah menganugerahkan hidup ini kepada kita dan telah menganugerakan sesama sebagai saudara kita satu keluarga, bukan sebagai saingan dan ancaman. Yesus menandaskan: “Barang siapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia memiliki hidup kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24) Jelas sekali pilihan kita inilah yang menentukan nasib kita, Inilah yang memberikan harapan dan semangat dalam hidup kita, sehingga kita tidak perlu cemas, bagaimana nanti sesudah kematian ini. Apalagi kalau kita punya keyakinan bahwa Allah itu mengasihi kita masing-masing lebih dari seorang ibu mengasihi anaknya.

Bagaimana dengan kita? Yesaya dan Yesus sama-sama berpesan semangat optimis membuat kita mampu untuk menghadapi tantangan dan penderitaan dalam hidup, karena jiwa kita telah ditarik ke atas. Pandemi boleh mewabah dan mengubah pola hidup kita, namun kasih dan kesetiaan Allah tetap tidak berubah. Pesan itu meneguhkan tema prapaskah kita semakin beriman semakin solider. Sama seperti Yesus, semakin Ia mengimani Bapa-Nya, semakin Ia solider pada sesama. Untuk itulah Ia berani (optimis) “melanggar hukum Sabat” dengan resiko ditentang oleh pemuka agama dan bahkan dibunuh, karena Ia tahu itulah yang dikehendaki Bapa-Nya. Yesus tidak sedang melanggar hukum Sabat, tetapi Ia sedang melaksanakan kuasa yang diberikan Bapa-Nya untuk menggenapi hukum Sabat. Semoga.
Tuhan memberkati. (*)

Renungan Oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •