Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Kamis (18 Maret 2021)
Bacaan : Kel. 32:7-14; Yoh.5:31-47

Injil hari ini menyajikan kepada kita dialog yang keras dan kontradiktif antara Yesus dengan beberapa orang Yahudi tentang keilahianNya. Yesus dengan kuat dan penuh semangat menegaskan bahwa dia punya alasan untuk dipercaya.  Mungkin kita juga seperti orang-orang Yahudi: Berapa banyak tanda lain yang perlu agar kita bisa percaya akan kasih Allah dalam diri Yesus? Berapa banyak saksi yang kita butuhkan untuk mempercayai Tuhan?

Para ahli hukum takut akan pesan Yesus, karena itu merusak struktur yang telah mereka bangun dari waktu ke waktu. Sebuah struktur yang didasarkan pada rasa takut, bukan pada kasih yang dibawa dan diwartakan oleh Yesus. Dia ingin memberi tahu kita bahwa Kerajaan sudah ada di sini, tetapi orang-orangnya belum siap menerima dan mempercayaiNya.

Kesaksian terakhir yang kita miliki tentang kasih Tuhan adalah Anak-Nya yang menjadi manusia bagi kita, untuk keselamatan kita. Sebenarnya kesaksian lain tidak diperlukan, sebab kesaksian yang benar dari Tuhan adalah Tuhan sendiri, yang berbicara langsung kepada kita, tanpa perantara.

Di sisinya, selain pekerjaan yang Dia lakukan, Dia juga memiliki saksi tidak hanya Yohanes Pembaptis, tetapi juga Kitab Suci Perjanjian Lama. Karena itu seharusnya orang-orang yahudi harusnya percaya pada Tuhan Yesus; namun realitas misterius ketidakpercayaan mereka tetap ada.

Yesus sendiri mengatakan kepada mereka: “walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,namun kamu tidak mau datang kepada-Ku  untuk memperoleh hidup itu”. Selanjutnya Yesus menegaskan bahwa: “memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah.Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain  dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?”

Semua kejahatan kita berasal dari ketidak siapan dan ketidakmampuan kita mengenali jati diri kita yang sebenarnya sebagai anak-anak Allah. Dalam keseharian kita ingin menjadi sepenuhnya otonom, menjadi tuan atas diri kita sendiri; kita merasa tak membutuhkan Tuhan dan orang lain.

Orang-orang Yahudi ini tahu dengan baik Firman Tuhan, tetapi Firman itu tidak tinggal di dalam mereka. Jelas bahwa siapa pun yang tidak memiliki kasih Tuhan di dalam dirinya, ia tidak akan memahami Kitab Suci yang berbicara tentang kasih antara Bapa dan Anak. Kata-kata Yesus ini menjelaskan banyak perlawanan kita. Pada asal mula ketidakpercayaan religius kita, ada kejahatan radikal manusia, yang mencari kemuliaan dari orang lain atau dari benda-benda, berhala baru, bukan dari Tuhan. Seseorang tidak bisa percaya pada Tuhan dan mempercayakan diri pada cintanya sebagai seorang Bapa.

SUMBER : sites.google.com

Para Bapa Gereja mengingatkan kita:
“Seperti Kristus melaksanakan karya penebusan dalam kemiskinandan penganiayaan, begitu pula Gereja dipanggil untuk menempuh jalan yang sama, supaya menyalurkan buah-buah keselamatankepada manusia. Kristus Yesus, “walaupun dalam rupa Allah, …telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba”(Flp. 2: 6-7). Dan demi kita Ia “menjadi miskin, meskipun Ia kaya”(2Kor. 8:9). Demikianlah Gereja, kendati memerlukan upaya-upaya manusiawi untuk menunaikan perutusan-Nya, didirikan bukan untuk mengejar kemuliaan duniawi, melainkan untuk menyebarluaskan kerendahan hati dan pengingkaran diri juga melalui teladannya. Kristus diutus oleh Bapa untuk “menyampaikan kabarbaik kepada orang-orang miskin, … untuk menyembuhkan merekayang putus asa” (Luk. 4:18), untuk “mencari dan menyelamatkanyang hilang” (Luk. 19:10). Begitu pula Gereja melimpahkan cintakasihnya kepada semua orang yang terkena oleh kelemahan manusiawi. Bahkan dalam mereka yang miskin dan menderita Gereja mengenali citra Pendirinya yang miskin dan menderita, berusaha meringankan kemelaratan mereka, dan bermaksud melayani Kristus dalam diri mereka. “(Lumen gentium, Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Konsili Vatikan Kedua, 8). (*)

Renungan oleh:
RD Benny Balun.

 

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •