Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

HARI RAYA KABAR SUKA CITA

25 Maret 2021

Bacaan :

Pertama           :  7:10-14; 8:10

Kedua             : Ibrani 10:4-10

Injil                  : Lukas 1: 26-38

Umat Allah dalam Kristus,

Setiap kita pasti mempunyai pengalaman menerima undangan untuk sebuah pesta atau hajatan. Saat Kita menerima sebuah undangan tidak serta merta Kita menyatakan kesanggupan untuk menghadiri undangan yang diberikan.

Ada dua sikap batin yang akan muncul. Sikap pertama adalah Kita bisa saja menerima dan menyatakan niat akan menghadiri undangan tersebut. Kedua, ada kemungkinan Kita menolak untuk menghadiri undangan tersebut dengan berbagai alasan. Misalnya, belum ada baju baru; amplop yang akan dibawa belum disiapkan; kondisi tidak sehat dan macam-macam pertimbangan lain.

Intinya adalah Kita bebas untuk menanggapi undangan tersebut. Kita bebas menerima, tetapi juga bebas untuk menolak undangan yang disampaikan. Undangan tetap sebagai sebuah undangan dan bukan perintah atau paksaan. Maka Kita pun bebas pula untuk menjawab. Kesiapan hati dan keterbukaan batin serta kesediaan kita yang akan memastikan, apakah Kita hadir atau tidak dalam sebuah pesta.

Umat Allah dalam Kristus,

Bunda Gereja hari ini merayakan Hari Raya Kabar Suka Cita. Kabar yang datang dari Allah sendiri buat manusia yang dibawa oleh Malaikat Gabriel. Kabar yang dibawa oleh Malaikat Gabriel tersebut berisi berita gembira bahwa Allah mau hadir dan tinggal bersama mnausia dalam Diri Yesus Putera-Nya.

Berita gembira itu disampaikan oleh Malaikat Gabriel kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yosef dari keluarga Daud yang tinggal di Nazaret. yakni Maria. Kabar gembira yang disampaikan kepada Maria itu bersifat tawaran atau undangan. Maria bebas menerima dan bebas juga  menolaknya.

Sebagai manusia biasa yang merasa rapuh dan tak layak, pantaslah sikap pertama yang diberikan Maria adalah meragukan kemampuannya. Maria merasa belum siap menerima tanggungjawab yang besar. Kata Maria kepada Malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34).

Menyimak jawaban Maria secara implisit sebenarnya Maria mau menolak tawaran atau undangan yang disampaikan Malaikat Gabriel. Maria pasti mempunyai alasan menolak undangan tersebut. Alasan pertama yang disampaikan secara jelas oleh Maria adalah Maria belum bersuami. Alasan lain, misalnya Maria takut melanggar hukum adat; Maria adalah gadis desa yang sederhana; Maria tak sanggup menerima tanggungjawab yang besar dan mungkin masih ada alasan lainnya.

Menilik dari sudut kelayakan, kepantasan dan kesanggupan Maria sebagai manusia biasa, Maria pasti tidak bisa dan pantas dia menolak. Atau hanya mengikuti kehendak bebas, layak Maria tidak bersedia menerima undangan dari Allah. Maria bebas menentukan pilihannya.

Akan tetapi karena kehendak Allah dan karena Allah yang berinisiatif memulai maka pasti Allah akan ikut campur tangan atas rencana keselamatan itu. Allah memberikan jaminan bahwa Ia akan tetap mendampingi Maria. “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau”, (Lukas 1:35b). Maria tidak akan dibiarkan berjalan sendirian, melainkan didampingi oleh Roh Tuhan.

Jaminan yang diberikan Allah melalui Malaikat Gabriel menjadi “modal” bagi Maria untuk menerima tawaran dan undangan yang disampaikan. Maria yang merasa diri tak layak, tak mampu dan tak pantas, akhirnya dengan mantap dan berani menerima undangan dari Allah. Maria dimampukan. Bahkan dalam kesederhanaan dan dengan kerendahan hatinya, Maria pantas untuk menghadirkan karya besar Allah.

Keterbukaan hati dan ketaatan Maria menjadi jaminan atas terlaksananya karya keselamatan manusia. Kekuatan yang menjadi andalan Maria adalah Rahmat Allah. Maria menyerahkan sepenuhnya karya keselamatan pada kehendak Allah. Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38).

Umat Allah dalam Kristus,

Perayaan Hari Raya Kabar Suka Cita yang kita rayakan menghadirkan nuansa baru dalam kehidupan beriman Kita. Kita yang rapuh, tak berdaya, dan tak pantas di hadapan manusia, menjadi kuat, mampu dan pantas oleh Rahmat Tuhan. Maka jalan pertama yang harus kita bangun adalah membuka diri bagi karya Allah. Sikap terbuka dan semangat rendah hati menjadi pintu masuk untuk sebuah rencana Allah.

Bunda Maria telah memberikan kepada kita semangat baru untuk berani menatap ke masa yang akan datang. Kita harus berani menerima diri apa adanya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada belas kasih dan kerahiman Allah. Dengan mengandalkan kemampuan sendiri sebagai manusia, Kita pasti tak bisa. Namun di dalam dan bersama Tuhan melalui karya Roh Kudus-Nya,  Kita menjadi mampu.

Bunda Maria juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap tantangan, kesulitan dan penderitaan bukan menjadi halangan buat kita untuk lari daripada-Nya. Melainkan sebaliknya menjadi peluang untuk terus menacari dan menemukan kehendak Tuhan. TUHAN MEMBERKATI.

(RD. Andre Lemoro)


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •