Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

RENUNGAN MINGGU, 28 MARET 2021

BACAAN :

  • Yesaya 50:4-7
  • Filipi 2:6-11
  • Markus 15:1-39

“Kau, Kristus Raja Pemenang, Kau Kristus Raja Mulia. Ya Kristus, Kau Raja, jaya slamanya” (Ulangan Puji Syukur 495); merupakan  nyanyian  pujian syukur Gereja kepada Kristus yang dinyanyikan saat mengiringi perarakan mengenang Yesus memasuki Yerusalem dan disambut secara meriah dengan lambaian daun palma; mengungkapkan iman, rasa terima kasih dan pernyataan kesetiaan untuk selalu dirajai oleh Kristus dalam kehidupan setiap harinya. Meskipun begitu, dalam realitas sehari-hari kesetiaan itu sering tergerus oleh berbagai  tawaran kenikmatan hidup : kedudukan, kuasa, harta, bahkan juga penderitaan yang pada akhirnya dapat menyebabkan pengingkaran terhadap kesetiaan iman.

Bacaan-bacaan hari Minggu Palma, mengungkapkan kesetiaan Allah akan janji-Nya untuk menyelamatkan manusia dari kuasa dosa, yang terlaksana melalui dan dalam diri Tuhan Yesus. Jalan keselamatan itu adalah kesetiaan terhadap kehendak Bapa. Dengan sangat indah Santo Paulus mengungkapkan : “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan” bagi kemuliaan Allah” (Fil2:8-11) Jalan keselamatan bagi manusia, ditunjukkan oleh Yesus, melalui penyerahan seluruh hidup-Nya yang total sehabis-habisnya hanya untuk melaksanakan kehendak Bapa. Atau hidup yang sepenuhnya dikuasai atau di-raja-i oleh Allah.

Kesetiaan sesungguhnya menjadi kerinduan setiap orang untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kesetiaan, suami-istri akan mampu menjaga keutuhan keluarga. Kesetiaan merupakan perekat ikatan cinta kasih suami-isteri dengan Tuhan, yang terpancar dalam relasi suami-isteri, relasi orangtua dengan anak-anak dan relasi  dengan keluarga-keluarga di  lingkungannya. Dengan kesetiaan, nilai-nilai persaudaraan dan kehidupan dapat tumbuh subur dan indah. Demikian halnya dengan panggilan imamat dan hidup membiara, karena kesetiaan merupakan penopang kehidupan yang memiliki kualitas sebagai wujud kesetiaan terhadap Allah dan karenanya mampu memancarkan cinta dan belas kasih Allah sendiri…. (*)

Renungan Oleh:
Ign. Sumardi

.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •