Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Surat Gembala Paskah 2021

Uskup Keuskupan Pangkalpinang

Umat Keuskupan Pangkalpinang yang terkasih,

Semoga Tuhan memberimu damai. Semoga pulau-pulau bersukacita.

Seperti pada tahun 2020 yang lalu, tahun ini kita merayakan paskah masih dalam situasi pandemi. Pandemi karena virus corona covid-19 yang sudah mendera kita selama satu tahun belum reda. Di banyak tempat, jumlah mereka yang terpapar virus corona masih bertambah. Banyak di antara kita mengalami rasa sedih dan prihatin karena kenalan, anggota keluarga yang sakit, bahkan kemudian meninggal karena virus ini. Dampak sosial-ekonomis dari pandemi ini juga amat terasa. Banyak yang kehilangan pekerjaan, mengalami kesulitan ekonomis dan lain-lain. Marilah kita tidak lupa mengenangkan mereka dalam doa-doa kita serta menunjukkan solidaritas yang nyata dengan memberikan bantuan bagi mereka yang sakit dan menderita.

Di lain pihak: Kita bersyukur, bahwa di masa yang sulit ini kita memperoleh banyak berita tentang orang-orang yang saling bergotong royong, memberikan bantuan-bantuan bagi saudara-saudari yang membutuhkan. Mereka ini sering disebut dengan istilah relawan. Dalam beberapa kali kesempatan, Paus Fransiskus menyampaikan pujian bagi para relawan ini. Dalam ensiklik Fratelli Tutti misalnya, beliau berkata demikian: “Di tengah pandemi ini banyak orang yang rela menolong sesama meski hidupnya sendiri terancam (para dokter, perawat, pekerja di supermarket, petugas kebersihan, pekerja di bidang transportasi, para relawan, imam, religius dll)” (FT 54).

Dari berbagai media kita juga memperoleh banyak informasi tentang kisah-kisah menarik dari para relawan ini. Misalnya: Ada seorang relawan perempuan bernama Nufadillah. Dia berkata: “Saya ini seorang relawan pendamping dapur nasi murah di kota Makassar. Tugas saya adalah membentuk kelompok warga berjumlah empat orang yang terkena dampak Covid dengan membuka wirausaha berjualan nasi murah untuk masyarakat sekitar”. Bersama dua anggota tim relawan, Nufadillah mencari warga yang terkena dampak Covid-19 untuk membuka usaha jualan makanan. Selain itu, ia membentuk empat anggota masyarakat, terutama tetangga yang tak bekerja. “Mereka saling membantu membuka warung di pinggir jalan dan menjual nasi kuning. Selama sebulan kami memantau kegiatan mereka sampai mereka bisa mandiri berjualan sampai sekarang,” kata Nurfadillah.

Ada pula yang disebut Sekolah Relawan, sebuah wadah untuk memberikan pelatihan kepada mereka yang ingin menjadi relawan, tetapi tidak mempunyai ketrampilan. Dony Aryanto dari Sekolah Relawan membuat program Warung Makan Rakyat Gratis di Depok, Jawa Barat. “Karena ada Covid, daya beli masyarakat menjadi turun. Kami sering mendapat keluhan dari teman-teman ojek online. Oleh karena itu, kami membuat warung rakyat makan gratis dan itu diperuntukkan bagi siapa saja,” ujar Dony Aryanto. “Setiap hari kami menyediakan sekitar 400 hingga 600 porsi. Kami buka 24 jam sehari. Bila mereka mau datang jam tiga pagi, makanan tetap ada”.

Contoh lain adalah Hari Satoto.  Relawan ini menamakan kegiatannya ‘Aksi untuk Indonesia’. “Aktivitas utama saya sebenarnya karyawan swasta. Di sela-sela aktivitas itu, saya membuat beberapa program berbagi kecil-kecilan,” ujarnya. Salah satu program yang dibuat adalah ‘Berbagi Sarapan Pagi’.”Setiap Senin saya membawa makanan menuju ke kantor berupa roti beberapa bungkus. Saya kemudian membagikannya kepada pemulung, penyapu jalanan” ungkap Hari Satoto.  “Ya, aksi saya ini hanya kecil-kecilan saja”.

Kita bersyukur dan turut bangga, bahwa banyak orang tergerak hati untuk menjadi relawan. Saya juga bertrimakasih, bahwa di berbagai paroki di wilayah Keuskupan kita, banyak umat yang merelakan waktu, tenaga, materi untuk membantu sesama yang menderita. Banyak saudara-saudari kita yang menderita merasakan pertolongan nyata dari para relawan. Dengan kata lain, banyak yang diselamatkan berkat kemurahan hati para relawan. Para relawan telah turut ambil bagian dalam mewujudkan karya keselamatan Allah.

Saudara-saudari sekalian, hari ini kita merayakan Paskah, hari kebangkitan Yesus Kristus yang merupakan bagian penting sekali dari karya keselamatan Allah bagi manusia dan seluruh alam semesta. Kalau kita perhatikan baik-baik, sejarah keselamatan kita juga sebenarnya dipenuhi dengan banyak relawan-relawati. Abraham merelakan anaknya untuk dipersembahkan kepada Allah. Nabi Musa menjadi relawan demi pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Demikian pula banyak nabi lain merelakan hidup mereka untuk melaksanakan perutusan dari Tuhan. Santo Yosef yang kita rayakan secara khusus tahun ini juga adalah relawan yang tulus, menjadi pelindung keluarga kudus, Maria dan Yesus sendiri.

Sesungguhnya Allah Tritunggal yang kita imani adalah Sang Relawan Agung itu sendiri. Allah kita adalah Allah yang kasih karunia-Nya besar dan melimpah (bdk. Ef 2: 4-10). Ia adalah relawan agung karena bersedia memberikan Putra-Nya sendiri. Penginjil Yohanes berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan (merelakan) Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (bdk. Yoh 3: 14-21). Yesus Kristus sendiripun adalah relawan agung yang menjadi manusia, hidup bersama kita, bahkan rela memberikan nyawa-Nya sendiri bagi keselamatan kita. Sebagai relawan, Ia adalah biji gandum yang jatuh ke tanah, yang mati dan menghasilkan banyak buah (bdk. Yoh 12: 20-33).

Saudara-saudari terkasih, merayakan paskah berarti mengenangkan dengan penuh syukur (anamnesis) Yesus Sang relawan yang telah wafat dan kini bangkit mengalahkan kematian. Tetapi merayakan paskah berarti juga menyatakan kesediaan untuk menjadi relawan seperti Dia. Di tahun keluarga ini, marilah kita meneladan St. Yosef, menjadi relawan-relawan di tengah-tengah keluarga kita; melakukan pengorbanan-pengorbanan sederhana dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian keluarga-keluarga kita akan dapat sungguh bangkit bersama Yesus Sang Relawan. Janganlah kita ragu-ragu: Hanya dengan menjadi relawan kita dapat bangkit mengalahkan dunia. Hanya dengan menjadi relawan kita akan menemukan sukacita yang sejati. Rasul Paulus berkata: “Saudara-saudara, Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Allah bahkan tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi merelakan-Nya demi kita semua. Bagaimana mungkin Ia tidak menganugerahkan segalanya bersama Anak-Nya itu kepada kita?” (Rm 8:31-32). Selamat Paskah.

Pangkalpinang, 4 April 2021

Mgr. Adrianus Sunarko, OFM

Uskup Keuskupan Pangkalpinang


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •