Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Selasa Dalam Oktaf Paskah; 06 April 2021
Bacaan :
Pertama    : Kisah Rasul 2: 36-41
Injil            : Yohanes 20: 11-18

Kita saat ini sedang berada dalam masa Paskah. Hari Raya Paskah adalah hari kemenangan iman. Tuhan Yesus yang bangkit mulia, yang kita rayakan pada Hari Raya Paskah, diyakini turut membangkitkan khasanah hidup beriman umat Kristiani. Maka Pesta Kebangkitan Tuhan Yesus, yakni Paskah adalah peristiwa iman yang teragung dan sekaligus perayaan syukur yang termulia akan kebaikan Allah bagi umat-Nya.

Fokus cerita iman pada Perayaan Paskah adalah Tuhan Yesus. Bagi umat Kristiani, cerita tentang Yesus Kristus sampai kapanpun tidak pernah akan berakhir. Kahadiran dan penampilan Yesus selalu memikat dan menarik perhatian banyak orang. Warta Kabar Gembira yang Ia sampaikan menghidupkan, menyejukkan dan memberikan harapan baru. Ia menjadi seorang tokoh yang selalu dicari-cari oleh banyak orang, bukan karena pangkat, jabatan, kedudukan, atau senjata yang dimiliki. Ia menjadi tenar karena kerendahan hati, kesalehan dan kewibawaan-Nya.

Kisah seputar kehidupan Yesus, Sang Al Masih, tidak ditutup dengan peristiwa Golgota, saat kematian-Nya di salib. Peristiwa di puncak Golgota merupakan wujud kesetiaan Yesus pada Kehendak Allah, Bapa-Nya dan Bapa kita, untuk melebur dosa manusia, untuk meluluhlantahkan kekuatan si Iblis dan mewujudnyatakan cinta Allah kepada manusia.

Cerita tentang kisah kasih Yesus harus mengalir terus dan bermuara pada PASKAH TUHAN. Pada peristiwa Paskah, semua cerita tentang Yesus yang sempat sunyi senyap oleh keganasan para serdadu dan kegagalan Pilatus untuk mengadili Yesus secara adil dan jujur sesuai hukum karena didesak oleh para imam-imam kepala, penatua dan masyarakat Yahudi, menjadi sebuah cerita yang hidup kembali.

Cerita tentang Yesus semakin seru dan menggemparkan ketika para wanita, pada hari pertama pergi ke makan dengan membawa rempah-rempah, melihat batu penutup pintu makam sudah terguling, makam kosong dan mayat Yesus tidak ada lagi. Kekosongan makam Yesus, melahirkan katakutan, kekecewaan dan kesedihan di hati para wanita. “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”, jawab Maria Magdalena kepada Malaikat. (Yoh. 11:13c).

Ketakutan adalah simbol dari kekosongan hidup karena ditinggal oleh seorang pribadi yang selama hidup bersama dan menjadi andalan, tokoh panutan, guru, pemimpin dan teman seperjalanan. Yesus, bagi para murid dan pengikut-Nya, adalah seorang tokoh yang mengagungkan dan mengesankan, yang dapat memenuhi segala harapan, keinginan, kebutuhan dan keamanan, lewat pengajaran,  penampilan hidup dan mukjizat-mukjizat yang dikerjakan-Nya.

Yesus sungguh menjadi seorang pemimpin yang dikagumi sehingga di mana pun Ia berada selalu menjadi pusat perhatian khalayak ramai, tetapi sekaligus disegani. Oleh karena itu, peristiwa Golgota merupakan sebuah “pukulan” yang hebat, baik terhadap mental maupun iman para murid dan pengikut-pengikut-Nya. Suatu peristiwa diluar dugaan, angan-angan, harapan dan pemikiran mereka. Bagaikan disambar petir disiang bolong yang menimbulkan shock, demikianlah suasana batin para wanita dan para murid. Mereka menjadi orang yang penakut.

Perasaan takut, oleh kekosongan hidup karena ketiadaan Sang Guru, ternyata tidak hanya dialami oleh para wanita, tetapi juga murid-murid Yesus. Petrus, misalnya, saat Yesus ada bersama mereka, ia termasuk orang yang berani. Tetapi sejak kematian Yesus, ia menjadi orang yang pengecut sehingga akhirnya mengurung diri di dalam rumah dengan pintu-pintu rumah dikunci bersama teman-temannya. Mereka menjadi orang-orang yang penakut. Mereka tidak berani tampil di depan umum. Suasana mencekam yang diakibatkan oleh peristiwa Golgota membuat mereka terpaksa menutup diri dan tidak berani menghadapi realitas hidup berhadapan dengan para imam, para penatua dan masyarakat Yahudi yang senantiasa mengejar dan mengancam mereka.

Paskah yang disertai dengan kahadiran Tuhan melalui peristiwa penampakan-Nya menjadi saat kebangkitan baru dalam hidup dan iman para murid. Para murid tidak hanya bergembira karena dapat berjumpa lagi dengan Sang Guru, tetapi seolah-olah mendapatkan suatu kepenuhan hidup. Mereka menjadi pribadi yang berani dan siap diutus ke penjuru dunia untuk mewartakan Kristus yang bangkit jaya. Apa pun risiko yang dihadapi, bahkan dihadapkan ke Mahkamah Agama sekalipun, mereka tak pernah mundur. Kekosongan hidup telah diisi oleh Yesus dengan Roh yang memampukan mereka dalam peristiwa Paskah.

Pengalaman akan kekosongan hidup yang dialami oleh para murid, sering juga menjadi pengalaman hidup beriman. Hidup keseharian kita sering dilanda kekosongan yang mewujudnyata dalam kegelisahan, ketakutan, kesepian, dan kekalutan hidup oleh penderitaan, kegagalan dan bentuk-bentuk pengalaman pahit lain yang menghampiri hidup kita. Kekosongan hidup sering membuat kita bertanya, apakah hidup ini masih berarti? Apakah Tuhan masih peduli? Apa salah dan dosaku sehingga semua ini bisa terjadi? Sederet litani pertanyaan lainnya yang mengungkapkan kegelisahan, ketakutan, kecemasan, keputusasaan dan ketakberdayaan kita.

Sebagai seorang beriman, apakah kita harus larut dan membiarkan diri dihimpit oleh perasaan-perasaan yang melumpuhkan. Pesan Paskah dan pengalaman para murid mengajak kita untuk senantiasa membuka seluruh diri di hadapan Tuhan. Di saat hidup kita dilanda oleh kekosongan dan kekeringan, kita harus mencari Tuhan supaya Ia mengisi dan menyirami hidup kita dengan Roh-Nya yang menyemangatkan dan menyegarkan. Hidup baru, semangat baru, harapan baru, suasana baru dan cara pandang baru hanya dapat terwujud kalau kita mau didatangi dan ditempati oleh Yesus.

Peristiwa Paskah mengajak kita untuk terus-menerus secara kreatif dan antusias mencari dan menemukan Yesus. Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh. 11:18). Paskah yang kita rayakan, yang berakhir dengan peristiwa turunnya Roh Kudus pada Hari Raya Pentakosta, merupakan saat “emas” buat kita menjumpai Yesus yang mampu memberikan ketenangan batin. Iman dan keyakinan bahwa Yesus sungguh bangkit dan akan menampakan diri serta mengisi kekosongan hidup melalui peristiwa-peristiwa yang dialami, orang-orang yang kita jumpai dan alam yang kita diami, harus menjadi kunci hidup beriman, sehingga si iblis tidak memasuki ruang hati kita.

Kekosongan hidup beriman harus diisi. Pribadi yang sanggup mengisi hidup kita dan akan tetap bertahan adalah Yesus. Yesus yang diimani sebagai Tuhan yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita dan telah bangkit mulia serta yang senantiasa hadir menyertai kita dengan Roh-Nya yang Kudus. SELAMAT PESTA PASKAH. (*)
 
Renungan oleh : Andre Lemoro


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •