Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Rabu, 07 APRIL 2021
OKTAF PASKAH I
St. Yohanes Baptista de la Salle
BACAAN I: Kis. 3:1-10
MAZMUR: 105:1-2.3-4.6-7.8-9;
BACAAN INJIL: Injil Lukas 24:13-35

Injil hari ini mengisahkan perjalanan dua orang murid ke Emaus meninggalkan Yerusalem. Lukas menyebut Emaus, sebuah kampung yang berjarak 11 km (7 mil) dari Yerusalem. Emaus dalam Perjanjian Lama merujuk pada tempat di mana terjadi perlawanan Yudas Makabe terhadap kekuasaan asing. Pengharapan akan Mesias yang mengembalikan kejayaan masa lalu merupakan gagasan mesianisme politik yang melekat dalam diri orang Yahudi juga di zaman Yesus. Bisa diperkirakan Lukas memakai nama Emaus hendak memunculkan asosiasi antara tempat mulai suburnya mesianisme politik dan kenyataan tumpuan harapan itu tidak ada lagi karena Yesus sudah dihukum mati.

Lukas menceritakan pengalaman perjumpaan kedua murid ini dengan Yesus dengan baik. Ia hanya menyebut satu nama murid yaitu Kleopas.Murid yang satu lagi tidak disebutkan. Bisa jadi cara ini dipakai Lukas untuk mengikutsertakan pembacanya dalam kisah perjumpaan ini. Pembaca diharapkan dapat berjumpa dengan Yesus secara personal. Selama perjalanan kedua murid ditemani Yesus. Walaupun mereka tidak mengenali-Nya, Yesus berusaha menjernihkan gagasan tentang diri-Nya. Cara Yesus sederhana yaitu dengan mengingat kembali pengalaman bersama-Nya. Saat pemencahan roti  barulah dua orang murid mengenali siapa teman perjalanan mereka.  Dan Yesus pun lenyap. Namun kali ini para murid percaya Yesus telah bangkit.

Kesadaran kedua murid menjadi kekuatan baru untuk kembali meniti jalan ke Yerusalem dengan hati berkobar-kobar. Perjumpaan dengan Dia bukanlah pengalaman yang mengumpal dan tinggal di dalam hati. Perjumpaan ini menjadi dorongan keluar mewartakan kebangkitan Yesus untuk semua orang. Kita sering pada situasi yang dialami oleh kedua murid, namun kita tidak bisa berhenti di Emaus. Mari kembali ke Yerusalem mewartakan Kristus yang telah bangkit. Dan hal ini dilakukan oleh Petrus dan Yohanes.  Mereka tidak mempunyai harta untuk menolong orang lain, namun dengan mengandalkan kekuatan Kristus, mukjizat penyembuhan terjadi. Gereja-gereja yang memiliki kemakmuran materi yang memadai sebaiknya merenungkan pewartaan Petrus dan Yohanes. Banyak gereja dewasa ini tidak bisa lagi berkata “Emas dan perak aku tidak punya” dan juga tidak dapat mengatakan “Dalam nama Yesus Kristus dari Nazaret, berjalanlah.” Dengan kata lain pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit bukan hanya sekedar retorika belaka, namun berani mewartakan Kristus dengan perbuatan-perbuatan nyata. (*)

Renungan oleh: Shito Kadari.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •