Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Minggu (11 April 2021)

Hari ini kita dijanjikan kebahagiaan baru: percaya tanpa melihat. ” Berbahagialah orang yang percaya tanpa melihat ”. Kebahgiaan itulah yang dapat kita hidupi di zaman inikarena  “dengan kedua mata fisik” ini kita belum pernah melihat Yesus. Tapi kita percaya bahwa dia sudah mati, hidup dan bangkit. Inilah iman: percaya tanpa melihat. Tetapi tidak cukup percaya tanpa melihat, bahkan harus percaya sebelum melihat, karena ketika kita meminta rahmat, jika kita ingin mendapatkannya, kita harus percaya terlebih dahulu. Jika kita percaya setelah menerimanya, itu bukanlah iman tetapi pengamatan. Wanita di dalam Injil pernah mengatakan “jika saja aku bisa menyentuh jubahnya aku akan sembuh”. Inilah contoh percaya sebelum melihat; percaya sebelum memperoleh rahmat. Dan orang Kanaan bahkan memperoleh anugrah dengan 110 dan pujian: “Hebat imanmu pergi, putrimu telah dibebaskan”. Ini adalah ujian masuk perguruan tinggi surgawi.

Semua rasul dan bukan hanya Thomas, mengalami kesulitan untuk mengenali Tuhan Yesus setelah Dia bangkit. Dalam kisah mujizat penangkapan ikan mereka percaya bahwa dia adalah hantu; Maria salah mengira bahwa Dia adalah tukang kebun, murid-murid Emaus salah mengira Dia sebagai seorang peziarah. Kenapa ini? Karena mereka hanya menggunakan indera luar. Percaya berarti membuat indra internal kita bekerja.  Itulah mata iman.

DI MANAKAH KITA DAPAT BERJUMPA DENGAN YANG BANGKIT?

(SUMBER : amazon.com)

Pada Pesta Kerahiman Ilahi hari ini, 11 April 2021, kita mengajukan pertanyaan kepada Tuhan: “Yesus, di mana saya dapat menemukan Engkau?”  Dimana dan bagaimana caranya? Hanya Injil Yohanes yang menceritakan bahwa Yesus muncul di antara para pengikutNya, masuk melalui pintu tertutup .  Betapa senangnya melihat bahwa pintu yang tertutup tidak menghentikan Tuhan, ketidakpercayaan tidak menghentikan keinginan Tuhan untuk bertemu dengan kita. Ketertutupan kita tidak menghentikan Yang Bangkit! CintaNya lebih kuat dari ketakutan kita. Yang ditinggalkan, yang dikhianati tetap kembali kepada kepada mereka. Saya membayangkan mereka mengharapkan akan mendapat celaan, karena  mereka telah meninggalkan Dia dan mengkhianatiNya. Yesus tidak menyimpan dendam: dia membawa “damai” dan memberikan “RohNya”

Pertemuan Tomas dengan Yesus Yang Bangkit  terjadi di dalam komunitas. Tempat pertemuan adalah komunitas berkumpul, komunitas biasa-biasa saja yang juga harus menghadapi pengkhianatan salah satu dari mereka.Sungguh melegakan mengetahui bahwa perjumpaan dengan Yang Bangkit tidak terjadi dalam komunitas yang sempurna,  tetapi di komunitas di mana saya atau anda tinggal, komunitas yang dengannya Dia Yang Bangkit memanggil kita berjalan.Yesus tidak memberikan penampakan khusus kepada Tomas; Ia menampakkan diri kepadanya “delapan hari kemudian”, yaitu saat komunitas berkumpul kembali dalam perayaan Ekaristi.Senang mengetahui bahwa Yang Bangkit kembali, jika atau kendatipun kita menunda membuka pintu hati kita. Dia memiliki kesabaran, dia tidak lelah. Dan Dia datang mencari kita, seperti  ketika Ia pergi mencari domba yang hilang. (*)

Renungan Oleh:
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •