Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Kamis (15 April 2021)
Bacaan:
Kis. 5:27-33; Mzm. 34:2,9,17-18,19-20; Yoh. 3, :31-36.

Dalam bacaan liturgi hari ini (Kis. 5:27-33) menceritakan saat Petrus dan Yohanes dibawa oleh para pengawal untuk dihadapkan kepada Mahkamah Agama dan Imam Besar mulai menanyai mereka dengan mengatakan, “Dengan keras kami melarang kamu mengajar dalam Nama itu, nama Yesus. Namun ternyata, kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu dan kamu hendak menanggungkan darah Orang itu kepada kami”. Tetapi, para Rasul, dan terutama Petrus, “dengan berani dan tidak gentar” menjunjung imannya dengan mengatakan: “kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Kita taat kepada Allah dan kamu bersalah”.  Di sini kita melihat betapa beraninya Petrus.

Kita tahu Petrus adalah orang yang telah menyangkal Yesus, sekaligus “penuh ketakutan dan bahkan seorang pengecut”. Lalu bagaimana ia sampai pada titik ini, penuh keberanian dalam bersaksi? Roh Kuduslah yang menggerakannya. “Roh kudus yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia” (5:32). Petrus dapat saja memilih untuk bermufakat, memilih nada yang lebih lembut ketika berkhotbah dengan orang-orang agar tampak lebih damai. Tetapi ia memilih untuk melakukan sebuah perjalanan yang di dalamnya ia menunjukkan keberanian dan tidak gentar. Petrus tidak memilih jalan aman untuk menyelamatkan dirinya sendiri, ketimbang memberi keberanian untuk bersaksi  dalam ketaatan iman kepada Yesus Kristus.

Kesaksian Simon Petrus di hadapan Mahkamah Agama ini memperkuat iman kita. Kita harus taat kepada Allah dan berani memberi kesaksian tentang kebenaran dan tidak gentar. Dari Petrus kita belajar untuk tidak menjadi murid-murid Yesus yang pengecut dan berkompromi dalam hal iman untuk menyelamatkan diri. Atau kita memilih jalan damai dan meninggalkan iman ketika berhadapan dengan situasi sulit dan mengancam iman dan kehidupan kita.  Banyak kali kita taat kepada manusia dan berkompromi dalam kebenaran, demi: uang, harta dan kedudukan.  Banyak orang murtad dan meninggalkan Yesus seorang diri. Para rasul tidak gentar untuk bersaksi tentang Yesus, dan kita saat ini sebagai Gereja harusnya seperti itu. Antara Yohanes Pembaptis dan para Rasul, mereka memberi kesaksian yang sama supaya kita semakin percaya dan taat kepada Kristus. Seperti Petrus yang menolak untuk melakukan permufakatan iman dan memilih untuk berani bersaksi tentang Yesus Kristus, kita juga harus berani untuk bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus. Petrus sungguh mengasihi Yesus dengan penuh gairah. Petrus juga adalah orang yang terbuka kepada Allah sampai-sampai Allah menyatakan kepadanya bahwa Yesus adalah Putra Allah, meskipun kemudian ia jatuh ke dalam godaan untuk menyangkal Yesus.

Lalu berasal darimanakah kekuatan itu?   Kita tahu bahwa sebelum sengsara-Nya Yesus berkata kepada Petrus: “Simon, Simon, lihat iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum tetapi Aku telah berdoa untukmu, agar imanmu jangan gugur” (Luk 22:31-32). Kekuatan Petrus adalah bahwa Yesus telah berdoa baginya. Marilah kita memikirkan bagaimana Petrus dapat berkembang di jalan ini dari seorang pengecut, menjadi seorang yang berani bersaksi dalam nama Yesus dengan karunia Roh Kudus. Kita percaya, sama seperti Yesus yang telah mendoakan Petrus, Yesus juga mendoakan kita. Kita harus meyakini hal ini dan bersyukur kepada Yesus yang telah mendoakan kita masing-masing. Maka, marilah kita memohonkan agar Tuhan mencurahkan Roh Kudus ke atas kita, sehingga kita mampu, penuh percaya diri dan berani memberi kesaksian tentang iman kita akan Yesus Kristus, melalui pekerjaan dan karya sesuai panggilan kita masing-masing setiap hari.  Tuhan memberkati kita. (*)

Renungan oleh:
RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •