Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Senin, 19 April 2021
Minggu Paskah III, Tahun B/I
Bacaan : Kisah Para Rasul 6:8-15, Yohanes 6:22-29

Stefanus adalah diakon yang telah dipilih Tuhan menjadi pewarta Injil.  Ia adalah orang saleh, dipenuhi oleh Roh Kudus, memiliki karunia untuk bernubuat dan melakukan mukjisat. Stefanus bukan hanya melakukan tanda mukjizat, tetapi juga sangat berhikmat. Hal ini tampak ketika dia berdebat dengan orang Yahudi yang disebut Jemaat Libertini, orang Yahudi dari Kilikia dan Asia. Dalam perdebatan itu Stefanus mengalahkan mereka. Demi menutupi kekalahan dan kekesalan, orang Yahudi menyebarkan berita hoaks bahwa Stefanus telah menghujat Allah dan Musa. “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujatan terhadap Musa dan Allah.(Kis 6:11). Bersama dengan para tua-tua dan ahli taurat, mereka menuding bahwa Stefanus telah melakukan penodaan agama. Itulah sebabnya, Stefanus diseret ke Mahkamah Agama untuk diadili.

Stefanus setia mendengarkan tuduhan palsu itu tanpa protes. Ia mengambil sikap diam. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya untuk membela diri. Hatinya sangat damai dan tenteram. Tidak ada ketakutan dan kecemasan yang tampak dari wajah Stefanus. Tatapan matanya memancarkan ketulusan dan kejernihan hatinya, serta roman muka Stefanus menampakan aura seperti malaikat. Ia menyerahkan semua persoalan hidupnya kepada Yesus sambil berdoa untuk para musuhnya. “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku…Tuhan jangan tangguhkan dosa ini kepada mereka” (Kis 7:59-60)

Yesus melakukan mukjizat penggandaan roti. Peristiwa penggandaan roti oleh Yesus mengundang kekaguman banyak orang. Namun, Yesus mengkritik mereka, sebab alasan kekaguman dan keikutsertaan mereka dalam perjalanan Yesus hanya sebatas pada roti. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu melihat tanda-tanda, melainkan kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yoh 6:26). Yesus memurnikan motivasi orang banyak itu, bahwa yang patut dicari adalah makanan yang membawa pada kehidupan kekal, yakni Yesus itu sendiri. Kritikan Yesus ini memperlihatkan titik lemah dalam hidup orang banyak itu, yakni ketergantungan pada hal-hal yang bersifat duniawi. Yesus menghendaki supaya orang banyak itu bekerja untuk mendapatkan makanan yang bertahan hingga kekal, yakni Tubuh dan Darah Tuhan.

Stefanus telah memilih menjadi saksi kebangkitan Yesus. Konsekuensi dari pilihan hidup ini membuat Stefanus banyak mengalami penderitaan dan bahkan harus mati. Namun, Stefanus tidak takut, ia tetap sukacita, sebab yang dilakukan oleh Stefanus adalah menyampaikan saksi kebenaran akan Yesus Kristus yang telah bangkit jaya. Yesus sang guru kebenaran menyambut baik setiap orang yang datang kepada-Nya. Ia mengajar dan membimbing mereka. Yesus menegur dan mengkritik orang-orang yang memiliki motivasi hidup yang buruk. Yesus memperbaiki kualitas iman dan hidup setiap orang. Sebab orang-orang yang telah dibaptis dalam Nama Tuhan Yesus adalah kumpulan orang-orang siap membela iman dan menjadi saksi kebenaran.

Kita semua dipanggil dan dipilih oleh Yesus menjadi pewarta. Spirit hidup Stefanus menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi pewarta saksi Kristus. Apabila kita melakukannya dengan segenap hati dan didukung oleh motivasi murni akan membuat kita bahagia dalam tugas perutusan ini. Marilah kita mohon pertolongan Tuhan membantu kita menjadi saksi kebenaran. “Jalan hidupku telah kuceritakan dan Engkau menjawab aku; ajarkanlah ketetap-ketetapan-Mu kepadaku. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan kurniakanlah hukum-Mu kepadaku. Aku telah memilih jalan kebenaran, dan menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku” (Mzr 119 26-27. 29-30). (*)

Renungan oleh:
RD Jose Anting


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •