Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Rabu, 21 April 2021
Bacaan :
1. Kis. 8:1b-8
2. Yoh. 6:35-40

Semua orangtua pasti menghendaki dan mengharapkan agar anak-anaknya hidup lebih baik dan sukses, lebih sejahtera dari pada orangtuanya. Untuk itu anak-anak disekolahkan, diajarin berdoa, diajarin bekerja, agar selain memiliki berbagai ketrampilan untutk hidup, juga nantinya memiliki sikap moral yang baik serta mampu menghayati hidup keagamaan secara baik pula.

Sesungguhnya  Allah Bapa menghendaki agar semua orang  hidup berbahagia dan akhirnya dapat memperoleh keselamatan kekal. Bukanlah kehendak Allah di dunia ini ada macam-macam penderitaan bahkan kematian. Semua terjadi karena karena manusia tidak menanggapi kehendak Allah dan lebih memilih menjalani kehidupan semaunya sendiri.

Kedatangan Yesus ke dunia bukan karena kehendakNya sendiri, tetapi karena ketaatanNya kepada Bapa, untuk menyatakan kasih Bapa , untuk menjadikan diriNya jalan bagi manusia  berdosa kembali dapat mengalami kasih Bapa. Yesus mengungkapkan :“Akulah roti hidup. Barang siapa  datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya kepadaKu ia tidak akan haus lagi” (Yoh.6:35). “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu dari semua yang telah diberikan-Nya kepadaKu, jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”. (6:40)

Gereja mengenang, merayakan dan memperbaharui korban Yesus ini melalui perayaan Ekaristi. Maka kesetiaan menghadiri Ekaristi secara aktif  dan pantas, sebenarnya menyatakan kesetiaan kaum beriman untuk selalu menyatukan hidupnya dengan Kristus dan menjadikanNya pusat dan puncak kehidupan kesehariannya. Dengan kesetiaan  itu, kaum beriman kristiani menyatukan diri dengan Kristus, membalikkan tindakan kekerasan penyaliban, menjadi tindakan cinta kasih dan pemberian diri bagi Allah. Namun karena kasih Allah itu untuk semua manusia, maka panggilan iman katolik juga untuk mengasihi dan melayani sesama manusia.

Kesetiaan umat untuk selalu merayakan Ekaristi, disertai kerinduan  dan keterbukaan hati untuk menyambut Yesus, akan menuntun kaum beriman mampu mengalami dan menghayati kasih-Nya sejalan dengan ajaran dan teladan hidup-Nya. Jika hal itu terjadi, maka pernyataan Santo Paulus :”Aku hidup namun bukan lagi aku yang hidup melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal.:20) akan menjadi madah indah dari semua orang yang mengaku diri orang katolik. (*)

Renungan oleh:
Ignatius Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •