Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

PANGKALPINANG, KATEDRALPANGKALPINANG.COM – Sembilan puluh tahun yang lalu, tepatnya bulan Mei tahun 1931,  karya misi di Pulau Bangka memasuki Pangkalpinang. Sejarah mencatat, kala itu Pangkalpinang merupakan titik terramai Pulau Bangka. Aktivitas pendidikan di Pangkalpinang telah lebih dulu ramai dibanding daerah sekitar.

Sebelumnya, pada bulan Desember tahun 1830, atau tepatnya 101 tahun sebelum karya misi memasuki Pangkalpinang, terdapat seorang perantau asal Tiongkok yang mendarat di Sungaiselan. Dari berbagai sumber diketahui dia adalah Tjen On Ngie, orang katolik pertama (bukan Eropa) yang menginjakkan kaki dan menetap di Pulau Bangka. Tjen On Ngie adalah seorang tabib yang melakukan praktek pengobatan di antara para pekerja tambang.

Paulus Tjen On Ngie. (KATEDRALPGK/DOK.)

“Di Sungaiselan waktu itu ada tambang timah besar, ketika para pekerja sakit berobatnya di tempat Tjen On Ngie. Lambat laun pasien atau mantan pasien ikut belajar agama katolik. Hingga pernah Tjen On Ngie mengantar orang-orang yang belajar agama dengannya ke Singapura untuk dibaptis. Dari pembaptisaan orang Sungaiselan di Singapura terbentuklah satu komunitas umat katolik di Sungaiselan. Itulah cikal bakal penyebaran agama katolik di Pulau Bangka,” tutur pelaku sekaligus saksi sejarah Keuskupan Pangkalpinang, RD FX Hendrawinata.

Catatan sejarah lainnya mencatat, 78 tahun sebelum karya misi memasuki Pangkalpinang, tepatnya tahun 1853, Sungaiselan adalah pusat misi pertama atau stasi pertama di Vikariat Apostolik Batavia yang umatnya pribumi, non Belanda. Setidaknya terdapat hampir delapan dekade Gereja Katolik Pulau Bangka menjalankan karya misinya mulai dari Sungaiselan, lalu ke Sambong, sebelum akhirnya meletakkan landasan di Pangkalpinang. Dua lokasi itu adalah tempat di mana saat itu memiliki kehidupan yang cukup ramai karena aktivitas pertambangan timah.

Hingga tahun 1928 Prefek Apostolik Banka e Biliton Mgr Vitus Bouma SSCC (pengganti Mgr. Theodisius Herkenrath SSCC-red) berhasil membeli sebidang tanah di pinggir Sungai Rangkui sebagai rencana untuk pembangunan Pusat Prefektur Apostolik Banka e Biliton. Tahun 1930 dibangun gedung misi dua lantai untuk kediaman para pastor, sekolah dan kapel sementara. Bangunan ini selesai tahun 1931. Sekarang gedung tersebut menjadi SD Budi Mulia. Di tempat inilah cikal bakal Katedral St. Yosef Pangkalpinang lahir.

Kapel sementara dalam gedung tersebut diberkati tanggal 24 Mei 1931 dengan Pastor Kepala Benedictus Bakker, SSCC. Tanggal 05 Agustus 1934 Mgr Vitus Bouma SSCC membangun Gereja St. Yosef Pangkalpinang yang baru dengan pintu menghadap Jalan Trem (saat ini pasar burung Pangkalpinang-red).

Pada bulan Mei tahun 1931 itulah pusat misi dari Sambong pindah ke Pangkalpinang. Santo Yosef saat itu masih merupakan sebuah stasi dan gereja (belum menjadi Katedral-red). Hingga tahun 1961 dari stasi menjadi Paroki dan di dalam gerejanya terdapat Cathedra (tahta uskup). Jadilah Katedral St. Yosef Pangkalpinang.

Meluruskan Sejarah
Menyoal seputar Santo Yosef pekerja atau Santo Yosef suami Maria yang menjadi pelindung nama Gereja Katedral St. Yosef Pangkalpinang, beberapa waktu lalu imam senior Keuskupan Pangkalpinang RD FX Hendrawinata kepada katedralpangkalpinang.com mengatakan tanggal pelindung resmi Katedral St. Yosef adalah 19 Maret.

Tampak dalam Gereja Katedral Santo Yosef Pangkalpinang pasca kepindahan dari gedung awal. (KATEDRALPGK/REPRO/ DOK. KEUSKUPAN)

“Jadi pesta paroki ada dua. Pertama HUT Paroki 01 Mei 1931. Kedua, HUT pesta nama pelindung paroki tanggal 19 Maret. Paroki kita bukan St. Yosef pekerja yang dirayakan tanggal 01 Mei, tetapi St. Yosef suami Bunda Maria yang dirayakan tanggal 19 Maret,” ujar Pastor Hendra.

Mantan Vikjend Keuskupan Pangkapinang itu bertutur, dari dulu memang pesta pelindung dirayakan setiap tanggal 19 Maret.
“Zaman Rm Endro, pesta disatukan dengan HUT Paroki bulan Mei karena alasan tanggal 19 Maret selalu jatuh masa puasa. Tidak bisa dirayakan secara meriah karena dulu selalu ada lomba koor antar kelompok sebelum tanggal 19 Maret. Puncaknya malam kesenian tanggal 19 Maret. Diubah ke bulan Mei biasanya masa Puasa sudah lewat, juga kemeriahan Pekan Suci dan Paskah sudah usai,” lanjutnya.

Tampak luar Gereja Santo Yosef Pangkalpinang saat itu. (KATEDRALPGK/DOK.)

‘Buku sejarah yang hidup’ ini menandaskan selama ini terjadi salah kaprah bahwa tanggal 01 Mei dijadikan sebagai Hari Pelindung Paroki: St Yosef Pekerja. Padahal tanggal pelindung resmi Katedral St. Yosef itu adalah 19 Maret. Ini yang mesti diluruskan,” pesannya.

Sementara itu, Pastor Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang RD Laurensius Yustinianus Ta’Laleng  merilis bahwa pada 22 April 2021 Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko OFM telah menetapkan tanggal 01 Mei 2021 (yang secara penanggalan liturgi Gereja Katolik adalah Peringatan St. Yosef – Pekerja) dijadikan sebagai Hari Raya St. Yosef-Pekerja bagi Paroki Katedral-Pangkalpinang, yang merupakan Hari Ulang Tahun Paroki. Sedangkan tanggal 19 Maret adalah Hari Raya St. Yosef suami Maria sebagai pesta pelindung Paroki Katedral.

“Tahun 2021 ini kita memperingati ulang tahun ke-90 berdirinya Gereja Santo Yosef Pangkalpinang. Dan ulang tahun ke-60 menjadi Paroki (dulunya Stasi-red).  Harapan saya, khususnya di usia ke-90 tahun ini, bagi umat Allah khususnya Paroki Katedral St. Yosef, marilah kita di Tahun Santo Yosef ini bersama-sama mendalami keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh St. Yosef, sebagaimana digambarkan oleh Paus Fransiskus dalam Surat Apostolik¨Patris Corde. Karena dari Santo Yosef kita bisa belajar bagaimana hatinya, bagaimana keagungannya membangun, mempertahankan persekutuan hidup atau komunio Keluarga Kudus di Nazaret. Kita juga diharapkan dapat belajar dari St Yosef bagaimana membangun persekutuan keluarga kita, KBG-KBG, kelompok-kelompok kategorial, organ dan struktur yang ada di KBG, wilayah dan paroki,” pesan Parokus, RD Yustin. (katedralpgk)

Penulis : caroline_fy
Editor : caroline_fy


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •