Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan tgl 16 Mei 2021, Minggu Paskah VIITahun B/I
Bacaan: Kis 1:15-17.20a.20c-26; danYoh 17:11b–19.

Dalam bacaan I (Kis 1:15-17.20a.20c-26) Petrus meminta agar dicarikan pengganti Yudas Iskariot. Mengapa? Bisa jadi agar jumlah rasul tetap utuh dua belas sebagaimana pertama kali Tuhan Yesus memilih mereka. Kita ketahui angka dua belas adalah angka yang penting bagi umat Yahudi karena mereka sendiri terdiri dari dua belas suku. Perjanjian Lama mencatat Tuhan menghukum keras keduabelas suku Israel karena dosa mereka namun juga menjanjikan pemulihan terhadap mereka. Yesus sendiri telah menubuatkan kedua belas rasul pilihan-Nya bahwa mereka akan memimpin umat Tuhan bersama Yesus dalam kemuliaan-Nya kelak (Mat. 19:28. Bdk. Mzm. 69:26 dan Mzm 109:8 yang dikutip Yesus di ayat 20).Dan terakhir agar kekristenan diterima dan diakui orang Yahudi karena dua belas rasul merupakan pasangan yang tepat dengan dua belas suku Israel.

Alasan lain, penggantian Yudas mengandung makna mengembalikan keutuhan dan kemurnian keduabelas rasul yang dinodai oleh pengkhianatan diri Yudas. Hal itu jelas dipaparkan oleh Petrus tentang kematian Yudas yang mengerikan sebagai upah kejahatannya (ayat 18-19) dan syarat pengganti Yudas yaitu harus seorang yang pernah bersama Yesus semasa hidup-Nya dan juga menjadi saksi bagi kebangkitan Kristus (ayat 21-22). *Namun yang paling penting* adalah, *proses pemilihan itu secara final diserahkan kepada Tuhan Yesus sendiri, agar Dia yang menentukan* (ayat 24-25)

Dalam Injil hari ini (Yoh 17:11b–19) kita mendengar doa Yesus kepada Bapa-Nya, Isi doa-Nya: 1.Yesus meminta agar Bapa-Nya yang Kudus menjadi Bapa bagi para rasul (dan kita) yang rapuh dan lemah (ay.11b-16); 2,Yesus meminta agar Bapa-Nya yang Kudus menguduskan para Murid-Nya (ay. 17-19). Mengapa Yesus berdoa demikian. Jika kita simak sungguh-sungguh kalimat doa Yesus maka kita bisa me;ihat bahwa melalui doa-Nya, sebenarnya Yesus mau menyadarkan para Rasul (dan kita) bahwa mengikuti Yesus bukan berarti semuanya pasti nyaman penuh sukacita. Mengapa? Karena Yesus tahu bahwa dunia (dan kejahatannya) akan selalu (tidak akan pernah berhenti) menceraiberaikan para rasul (dan persekutuan Gereja-Nya). Sementara Yesus juga tahu betapa lemah dan rapuhnya para rasul (dan kita).

Satu-satunya benteng kuat yang bisa melindungi para rasul (dan kuta) dari kejahatan dunia adalah selalu berada dalam pemeliharaan serta perlindungan Allah Bapa yang Kudus. St. Paulus menyimpulkan “Jika Allah di pihak kita siapakah  yang melawan kita? (Rom 8:31). Untuk itulah Yesus membawa para rasul (dan kita) kepada Bapa-Nya agar dalam nama Bapa yang telah diwartakan (diperkenalkan)-Nya, para rasul (dan kita) yang percaya pada-Nya dipelihara oleh dan dalam nama Bapa. Artinya:kita mengalami sendiri kehadiran Allah.

Bagaimana dengan kita?
Yesus sudah memohon kepada Bapa-Nya yang kudus agar kita dikuduskan Allah. Artinya kita menjadi pribadi yang dikhususkan (dikonsekrasikan) untuk dan demi karya Allah yang terwujud dalam karya perutusan Kristus. Kita dikuduskan menjadi pelayan dan penerus misi Kristus, untuk melanjutkan karya keselamatan yang telah dimulai Yesus di tengah dunia ini. Hal itu sudah terjadi dalam baptisan dan sakramen inisiasi yang sudah kita terima. Kita diutus untuk mengubah ancaman dan kebencian dunia menjadi kasih dan damai, derita menjadi sukacita, penganiayaan menjadi kelembutan dan belarasa, kejahatan menjadi kebaikan, perpecahan menjadi persekutuan, kematian menjadi kehidupan. Itulah misi Sang Guru yang harus menjadi misi kita bersama. Sebagaimana syarat untuk menentukan pengganti Yudas Iskariot *harus seorang yang pernah bersama Yesus semasa hidup-Nya dan juga menjadi saksi bagi kebangkitan Kristus* (ayat 21-22) harusnya kita sudah memenuhi kriteria itu. Melalui DIa di dalam sakramen-sakramen yang sudah kita terima kita sudah hidup bersama Yesus. Jadi doa Yesus justru semakin menenguhkan posisi kita sekaligus menyadarkan tugas kita yaitu mengkomunikasikan iman untuk mengubah dunia. Yesus sudah sangat memperhatikan kita. Bagaimana mungkin kita masih mempertanyakan kasih dan perhatian Tuhan pada kita? Sekarang saatnya justru kita menjawab panggilan Yesus.
Semoga. Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh:
Andi Kris


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •