Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Hari Sabtu Pekan Paskah VII, 22 Mei 2021.
Bacaan: Kis 28:16-20.30-31: Mzm 11:4.5.7: Yoh 21:20-25

Hari ini Penginjil Yohanes masih melaporkan dialog kasih antara Yesus dan para muridNya khususnya dengan Petrus. Selama tiga tahun bersama-sama, banyak pengalaman telah dialami bersama. Para murid bergembira karena ada banyak perubahan di dalam diri, meskipun ada pengkhianatan Yudas Iskariot, dan Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali.  Mereka juga menyaksikan penderitaan sampai wafat Yesus. Semua itu sudah berlalu. Kini mereka berada di hadapan Yesus yang bangkit dengan mulia. Ini seakan menyatakan apa yang diungkapkan oleh Mazmur antar bacaan:  para murid adalah orang yang tulus sehingga dapat memandang wajah Tuhan yang mulia. Tuhan berjanji akan selalu menyertai mereka. Roh Kudus yang dijanjikan akan mengajar segala sesuatu kepada mereka dan mengingatkan segala sesuatu yang diajarkan Yesus sendiri. Ini adalah kekuatan mereka.

Petrus setelah menegaskan kasihnya kepada Yesus dan mendapat perutusan dari Yesus, kini dengan segala komitmen baru ia pun mendapat ajakan lagi dari Yesus: “Ikutlah Aku”. Dua kali Yesus mengatakan hal ini kepada Petrus untuk mengikuti-Nya. Mengikuti Yesus berarti mata tertuju hanya kepadaNya, meniru seluruh hidupNya dan mengikuti pelayanan-NYA dan kematian-NYA.  Hal menarik dalam kebersamaan di komunitas adalah para murid ini saling mengenal satu sama lain. Petrus memandang Yohanes sebagai murid kesayangan Yesus. Ia terpesona dan merasa rendah diri di hadapan Yohanes. Itu sebabnya ia berkata kepada Yesus tentang nasib Yohanes, tetapi  Yesus  berkata bahwa hidup kekal itu anugerah dari Bapa dalam nama-Nya untuk setiap pribadi. Yang penting bagi Petrus adalah mengikuti semua rencana Tuhan, dan melanjutkan pelayanan Yesus untuk memberitakan kepada semua orang tentang Kerajaan Allah dan keselamatan yang datangnya dari Allah. Petrus dipanggil Tuhan untuk mengikuti Yesus sebagai martir. Ia akan dibunuh dengan cara yang sama dengan Yesus. Ini adalah wujud kesaksian inti imannya. Dan Yohanes sendiri memberi kesaksian tentang Yesus di dalam Injil dan surat-surat serta Wahyu.

Pertanyaan yang muncul adalah apa jawaban pasti dari manusia terhadap kasih Kristus? St. Paulus memberi teladan kekudusan bagi kita semua sebagai Gereja. Paulus siap menderita sebagai tahanan, dipenjarakan. Ia juga tidak memilih berlari, menjauh dari segala penderitaan tetapi justru dengan tangan terbuka menerima apa yang akan terjadi, sebagai konsekuensi atas kesetiaannya mewartakan Injil Yesus Kristus.  Ia menderita supaya Gereja dapat menjadi kuat,  Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk mendengarkan lagi, dan lagi, tentang ajakan Tuhan: “Ikutlah Aku”. Yesus ada di hadapan kita, terus mengajak kita untuk mengikuti-Nya: meniru segala kebajikan dan menghayatinya hari demi hari dalam tugas karya pelayanan kita masing-masing. Semoga Roh Kudus memampukan kita pada ajakan Tuhan hari ini: “Mari ikutilah Aku.” (*)

Renungan oleh:
RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •