Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Senin Pekan Biasa VIII; 24 Mei 2021
Bacaan :
Pertama    : Kisah Rasul 1 : 12 – 14
Injil            : Yohanes 19 : 25 – 34

Hari ini kita memasuki Masa Biasa dalam Tahun Liturgi Gereja. Berdasarkan Penanggalan Liturgi Gereja Katolik Indonesia yang disusun oleh Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Masa Biasa pada Pekan Biasa VIII dibuka dengan peringatan wajib Santa Perawan Maria Bunda Gereja.

Menurut saya sangat menarik dan kaya makna merenungkan sosok Bunda Maria sebagai landasan atau dasar mengawali Masa Biasa. Kekayaan Iman yang dimiliki Maria semenjak pemilihan dirinya untuk menghadirkan Sang Putra patut direnungkan. Kesetiaan Maria dalam mengikuti perjalanan karya Sang Putra sampai memuncak di kaki salib layak diteladani.

Siapa Maria sesungguhnya dapat kita temukan dalam beberapa keutamaan atau ketokohannya, antara lain : pertama, Maria sebagai Mediator. Lewat Maria, Allah semakin mudah menjumpai manusia dan lewat Maria jugalah, manusia semakin mudah menjumpai Allah.

Kedua, Maria menjadi Model. Maria, seorang perempuan biasa, ciptaan kecil dan lemah, menjadi luar biasa dan tak terbatas karena “Ya”-nya kepada Allah adalah “Ya” tanpa batas. “Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, Ibu Yesus” (Kis. 1:14). Maria adalah model ketekunan dalam doa dan dipersatukan dalam kesatuan komunitas dengan para anggota pertama Gereja.

Ketiga, Maria sebagai Messenger (pembawa pesan). Dalam setiap penampakannya, Maria selalu membawa pesan kasih dan perdamaian. Maria juga senantiasa membawa pesan pertobatan bagi umat manusia melalui kehadirannya dalam moment penampakannya. Keyakinan ini dengan sangat indah dijelaskan melalui pesan Maria di Guadalupe pada 9 Desember 1531.

Keempat, Maria sebagai Mother (ibu, bunda). Peran Maria sebagai Mother inilah yang kita renungkan saat mengikuti di Jalan Salib Putranya dan kehadirannya di bawah kaki salib yang kita renungkan dalam Injil Yohanes hari ini. Hati Maria sungguh tegar dan kuat layaknya seorang ibu dan bunda, menerima dan merenungkan penderitaan Sang Putra.

Sebuah penggalan Injil Yohanes, “Dan dekat Salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibuNya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena” (Yoh. 19:25). Keibuan dan kebundaan Maria yang tak pernah lepas dan pudar bersama Putranya bersinar dalam peristiwa yang menyayat hati. Maria sebagai Mother selalu melibatkan yang lain sebagai satu kawanan dan sebuah communio.

Merenungkan Sabda Tuhan hari ini dan belajar dari keutamaan-keutamaan Maria, teristimewa Maria sebagai mother, saya dan anda seharusnya bangga manjadi Katolik, pengikut Yesus, Putra Bunda Maria. Saya dan anda layaklah bersyukur menjadi Katolik karena mempunyai dua ibu. Pertama, ibu di dunia ini. Ibu di dunia ini adalah ibu yang melahirkan dan setia mengasihi saya dan anda.

Kedua, ibu di Surga, yaitu Ibu/Bunda Maria yang juga setia mengasihi, menyertai dan mendampingi seperti ibu saya dan anda di dunia. Seperti seorang anak lari kepada ibunya ketika menghadapi bahaya dan meminta perlindungan, demikian juga kita lari segera dengan keyakinan tak terbatas kepada Maria.

Ingatlah pesan Bunda Maria di Guadalupe kepada Santo Juan Diego pada tahun 1531, tepatnya pada tanggal 12 Desember, “Dengarkanlah dan camkanlah dalam hatimu, putraku terkasih: janganlah kiranya sesuatu pun mengecilkan hatimu, melemahkan semangatmu. Janganlah kiranya sesuatu pun membimbangkan hatimu atau pun tekadmu. Juga, janganlah takut akan segala penyakit atau pun pencobaan, kekhawatiran atau pun penderitaan. Bukankah aku di sini, aku yang adalah bundamu? Bukankah engkau ada dalam naungan dan perlindunganku? Bukankah aku ini sumber hidupmu? Bukankah engkau ada dalam naungan mantelku, dalam dekapan pelukanku? Adakah sesuatu lain yang engkau butuhkan?”

Berbanggalah saya dan anda menjadi Katolik. Bersyukurlah saya dan anda boleh mempunyai dua ibu/bunda. Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh:
RD. Andre Lemoro


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •