Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Hari Selasa Pekan Biasa IX
Tob 2:9-14:  Mzm 112:1-2.7bc-8.9: Mrk 12:13-17

Injil hari ini, mengisahkan bagaimana beberapa orang Farisi dan Herodian disuruh menghadap Yesus, untuk menjerat DIA dengan suatu pertanyaan…dan Yesus tahu kemunifakan mereka. Ya, mereka datang hanya sekedar untuk menjerat Yesus, itulah kemunafikan mereka. Kemunafikan mungkin mengatakan semua hal yang benar tetapi untuk alasan yang salah. Seorang Kristiani seharusnya tidak menggunakan bahasa yang santun secara sosial yang rentan terhadap kemunafikan. Niat mereka mendekati Yesus adalah untuk membuatnya jatuh ke dalam perangkap. Pertanyaan mereka adalah diperbolehkan atau tidak diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar dengan kata-kata halus dan indah. Inilah pertanyaan licik orang-orang Farisi dan orang Herodian tentang persembahan kepada Kaisar kepada Tuhan Yesus.

Mereka mula-mula menunjukan diri seolah-olah mereka teman-teman Yesus dan mengenal baik tentang Yesus dengan mengatakan bahwa mereka sudah tahu Yesus itu orangnya jujur, tidak takut kepada siapa pun, tidak mencari muka dan jujur mengajarkan jalan kebenaran. Pujian-pujian ini memang bukan berasal dari hati mereka tetapi ungkapan kemunafikan diri mereka di hadapan Yesus.  Semua itu palsu. Ini karena mereka tidak mengasihi kebenaran sehingga mereka mencoba untuk menipu dan melibatkan orang lain dalam penipuan/kebohongan mereka.

Mereka tidak mendekati Yesus untuk mencari kebenaran dalam kasih, dengan itu mereka juga tidak bisa mengatakan kebenaran. Karena kebenaran selalu diberikan dengan kasih. Tidak ada kebenaran tanpa kasih. Kasih adalah kebenaran yang pertama. Jika tidak ada kasih, maka tidak ada kebenaran. Jadi, mereka mendekati Yesus dengan cara yang begitu ramah dengan bahasa mereka tetapi penuh kemunafikan. Mereka inilah orang yang sama yang akan pergi untuk menjemput-Nya pada Kamis malam di taman ziatun, dan akan membawa-Nya kepada  Pilatus pada Jumat.

Bacaan injil hari ini membimbing kita agar dalam relasi sosial, kita patut menghayati nilai-nilai positif di dalam hidup seperti kejujuran, dalam mengatakan dan mengajarkan jalan kebenaran. Orang-orang Farisi dan Herodian memang memuji Yesus karena Ia memiliki semuanya, hanya saja pujian itu sebatas ungkapan kemunafikan mereka. Banyak kali kita pun demikian. Kita hanya berhenti pada sikap basa-basi dalam berkomunikasi, tetapi tidak sampai pada ikatan batin sebagai sahabat dan saudara.

Maka mari kita berpikir teliti hari ini, apa bahasa kita? Apakah kita berbicara dalam kebenaran dengan kasih, atau berbicara dengan bahasa sosial agar tampak terlihat bersikap sopan, namun di balik itu ada kemunafikan? Biarkan kata-kata atau bahasa kita menjadi bagian dari evangelisasi. Mari kita mohon Tuhan hari ini sehingga bahasa kita menjadi bahasa sederhana, bahasa seorang anak kecil yang dengan jujur mengatakan sesuatu, bahasa anak-anak Allah, bahasa kebenaran dalam kasih. (*)

Renungan oleh:
RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •