Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan tgl 13 Juni 2021, Minggu Biasa XI Tahun B/I
Bacaan: Yeh 17:22-24; 2 Kor 5:6-10 dan Mrk 4:26-34.

Dalam bacaan I (Yeh 17:22-24) Allah, melalui Nabi Yehezkiel, mengingatkan bangsa pilihan-Nya bahwa penderitaan mereka selama masa pembungan di Babilonia akan berakhir. Allah menegaskan bahwa “Aku sendiri akan mengambil sebuah carang (=membebaskan Bangsa Israel) dari puncak pohon aras yang tinggi (=kekuasaan Bangsa Babel) dan Aku sendiri yang akan menanamnya di atas sebuah gunung yang menjulang tinggi ke atas (=membuat bangsa Israel yang baru menjadi bangsa yang besar dan mulia)”, sehingga semua bangsa di dunia bisa melihatnya, bahkan dengan pemulihan Israel seluruh dunia akan memperoleh berkat keselamatan kehidupan yang penuh damai sejahtera  (ay. 22-23). Artinya, dalam kondisi terpuruk sekalipun, kuasa Allah tetap bekerja dan memampukan bangsa Israel menghasilkan buah yang berguna untuk seluruh bangsa, bukan hanya bangsa Israel.

Dalam bacaan II (2Kor 5:6-10) St. Paulus, mengingatkan, “kami sadar bahwa selama kami mendiami tubuh ini, kami masih jauh dari Tuhan” (ay. 6), artinya selama kita masih hidup di dunia ini, kita akan ditarik untuk semakin mendekat pada Tuhan atau semakin jauh dari Tuhan. Dan itu adalah penderitaan yang akan selalu menemani kita. Namun St. Paulus mengingatkan bahwa situasi tarik ulur itu akan berhenti pada saatnya dan kita akan dihadapkan pada pengadilan (ay. 10a) untuk menerima buahnya sesuai dengan perjuangan kita (ay. 10b). Karena itu bagi Paulus yang penting adalah berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya (ay. 8)

Dalam Injil (Mrk 4:26-34) Yesus mau mengajar kita bahwa tujuan Allah menempatkan kita di bumi ini adalah untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kalau Allah merajai kita, dijamin iman kita tidak mati dan kerdil, tetapi semakin tumbuh dan berkembang. Iman kita tidak hanya berkembang, tetapi juga menjadi semakin berguna bagi orang lain, seperti hanya pohon yang menghasilkan buah dan buahnya dinikmati orang (ay. 28) atau yang dahan dan rantingnya untuk bersarang burung-burung (ay. 32). Jadi, kalau Allah merajai kita, maka hidup dan kehadiran kita akan semakin bermakna dan berguna bagi orang lain.

Bagaimana dengan kita?
Benih harus ditaburkan di tanah dan pohon harus tetap tertanam di tanah. Ketika sebuah tanaman dicabut dari tanah, atau benih tidak jatuh di tanah, maka ia akan mati dan tidak dapat berbuah. Kita adalah benih iman yang sudah ditabur oleh Allah di dunia ini dengan tujuan agar iman kita tetap hidup dan makin bertumbuh dan berkembang serta menghasilkan buah, kita harus tetap “menancapkan” diri kita pada Allah. Demikianlah iman (diri kita) seperti tanaman yang mengalami pertumbuhan bukan dengan proses yang instan. Ada proses yang harus dilalui, yang tentu tidak selamanya menyenangkan hati. Melewati berbagai musim, tidak jarang juga ada hama yang mengganggu, Tentu memerlukan pupuk. Dan pupuk yang terbaik adalah Sabda Tuhan. Maka akar iman (kehidupan) kita harus tertanam kuat pada Sabda Allah (rencana dan kehendak Allah). Maka IKUTI SAJA PROSES, MAKA IMAN AKAN BERTUMBUH DAN BERBUAH. Konkritnya mau membuka hati kepada Tuhan, menjalankan perintah Tuhan, hidup dalam kasih, dan berbuat baik, sehingga benih kita menjadi sungguh berbuah dan berarti lebih dari sekedar yang kita kehendaki. Sehingga banyak orang bisa merasakan kebaikan dan berkat.
Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh:
Andi Kris

 


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •