Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Selasa, 22 Juni 2021
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Kejadian 13:2.15-18
MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 15:2-3ab.3cd-4ab.5
BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 7:6.12-14

Bacaan pertama mengisahkan tentang pertikaian antara para gembala Abraham dan Lot. Pertikaian ini kedengaran lucu karena yang bertikai adalah para gembala yang setiap hari melakukan pekerjaan yang sama dan punya majikan yang masih kerabat. Abraham memanggil Lot dan menawarkan pemencahan agar pertikaian dapat diselesaikan. Lot memilih lembah Yordan yang subur dan dan menetap di Sodom. Sedang Abram menetap di Hebron tanah Kanaan. Abraham mengalah tidak mendapatkan bagian yang terbaik demi kepentingan bersama. Kerendahan hati Abraham ini mendatangkan berkat dari Allah sedangkan Lot mendapatkan petaka bersama hancurnya Sodom dan Gomora.

Dalam Injil Matius dikisahkan tentang pengajaran Yesus dengan bahasa yang sulit dimengerti: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya lalu ia berbalik lalu mengoyak kamu” (Mat 7:6).  Barang yang kudus ibarat  tubuh manusia yang kudus karena diciptakan sesuai gambar dan citra Allah. Tubuh yang kudus tidak boleh dipersembahkan kepada perbuatan-perbuatan jahat. Sedangkan mutiara adalah barang berharga. Babi tidak mengerti tentang mutiara yang berharga maka babi menginjak dengan kakinya. Barang kudus dan mutiara adalah gambaran Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus dan akan diteruskan oleh para murid-Nya.

Gambaran Kerajaan Allah tersebut diperjelas Yesus dengan memberikan sebuah hukum yang menjadi isi dari hukum Taurat dan Kitab para nabi. Hukum yang dilandasi oleh kasih itu berbunyi: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka”. Jalan emas ini juga ditulis oleh penulis Romawi, Seneca: “Si Vis Amari Ama”  artinya kalau engkau ingin damai, cintailah orang lain. Butuh pengorbanan agar dapat berdamai dengan orang lain. Abraham melakukannya seperti logika pintu yang lebar dan sempit. Abraham memilih pintu yang sempit atau cara yang sulit. Pintu yang sempit ini bisa kita artinya memilih jalan salib. Begitulah kesetiaan kita kepada  Kristus, pengurbanan dan kerendahan hati adalah pintu yang sempit yang akan membawa kita kepada kedamaian dan kehidupan yang kekal. (*)

Renungan oleh:
Shito Kadari


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •