Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Senin, Pekan Biasa ke-XIII
Kej. 18:16-33: Mzm. 103:1-2,3-4,8-9,10-11: Mat. 8:18-22

Bacaan suci, khususnya Bacaan pertama dalam liturgi hari ini, menunjukan kepada kita Wajah Belakasih Allah kepada umat-NYA yang berdosa. Allah yang Panjang sabar dan penuh kasih dan berlimpah kasih setia, (Mzm Tanggapan hari ini).

Paus Fransiskus dalam Bulla “Misericordiae Vultus” menegaskan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah wajah Kerahiman Allah (MV,1). Tentu saja pernyataan Paus Fransiskus ini turut menegaskan bahwa Allah Bapa kita memang kaya dengan rahmat (Ef 2:4). Ia mewahyukan nama-Nya kepada Musa sebagai “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya” (Kel 34:6). Ia tidak pernah berhenti memperlihatkan keilahian-Nya dengan berbagai cara. Santu Paulus menulis, ‘setelah genap waktunya’ (Gal 4:4), Allah mengutus Putra-Nya lahir dari perawan Maria untuk mewahyukan kasih-Nya secara definitif. Barang siapa telah melihat Tuhan Yesus, ia telah melihat Bapa (Yoh 14:9) Tuhan Yesus menunjukkan kerahiman Allah dalam sabda, karya dan pribadi-nya (MV, 1). Allah kita dalam diri Yesus Kristus adalah rahim. Perkataan Paus ini mengingatkan kita pada Tuhan Yesus yang mengatakan kepada Santa Faustina, sang rasul kerahiman ilahi: “Aku memberikan kepadamu tiga cara melaksanakan kerahiman bagi sesamamu: pertama, dengan dengan perbuatan, kedua, dengan perkataan, ketiga, dengan doa. Dalam tiga cara inilah  tercakup sepenuhnyaa karya belaskah, dan ini adalah bukti kasihmu kepadaKu yang tak dibantah” (Buku Harian, 742). Tiga car aini merupakan hal yang mutlak perlu kita lakukan di dalam hidup ini untuk mewujudkan kerahiman Allah yang benar. 

Pada hari ini kita berjumpa dengan sosok Allah yang Maharahim yang menaruh kasih-Nya bagi orang-orang berdosa. Kisah Sodom dan Gomora di dalam Kitab Kejadian merupakan kisah yang membuka wawasan kita bagaimana Allah selalu menunjukkan kerahiman-Nya bagi orang-orang berdosa.  Kepada Abraham, Allah menunjukan kerahiman-NYA. Dan melalui Abraham, kita dapat melihat bahwa belaskasih Allah terjadi kepada orang-orang berdosa di Sodom dan Gomora dengan bernegosiasi dengan Tuhan.  Akibatnya, rencana Tuhan berubah. Allah tidak membinasakan umat yang telah berdosa, tetapi menampakan jati diri-Nya sebagai kasih dan kerahiman kepada orang-orang berdosa. Ini juga menunjukan bahwa Allah sungguh-sungguh memikirkan Abraham sebagai sahaba dan menunjukkan wajah kerahiman-Nya kepada Abraham.

Dari kisah ini kita mengerti bagaimana kepekaan Tuhan dan bantuan Abraham terhadap manusia yang berdosa di Sodom dan Gomora. Tuhan menunjukkan wajah kerahiman-Nya kepada orang-orang berdosa dengan mengampuni tanpa syarat. Dan kepada kita juga, Tuhan selalu menunjukkan kerahiman-Nya kepada kita masing-masing supaya hidup layak di hadirat-Nya. Untuk itu kita ssebagai pengikut Yesus, ajakan Yesus “Ikutlah Aku”, berarti, kita juga dipanggil dan diutus untuk mewartakan kerahiman Allah, hati Injil yang berdetak, yang menembus hati dan pikiran setiap orang. Dengan itu, kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi mitra kerja-Nya memberi kesaksian tentang kerahiman. Bahasa, dan gerak gerik kita harus menyebarkan kerahiman Allah sedemikian rupa, sehingga menyentuh hati setiap orang dan sekali lagi mengilhami mereka untuk menemukan jalan menuju Bapa. Semoga rahmat Tuhan memampukan kita untuk menghadirkan wajah kerahiman Allah secara nyata dalam perkataan dan perbuatan dan doa. Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh:
RD Yustin Ta’Laleng


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •