Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Minggu, 04 Juli 2021
Bacaan :

  1. Yehezkhiel 2: 2-5
  2. 2 Korintus : 12:7-10
  3. Markus 6: 1-6

Sesuatu yang indah dan berharga tidak selalu dapat ditemukan dalam selayang pandang. Semua orang tahu kalau mutiara itu merupakan barang yang sangat berharga, tetapi tidak mudah untuk menemukannya. Orang seringkali harus terjun dan menyelam dalam kumuhnya lumpur yang kadang cukup menjijikkan. Kalau yang dilihat hanya lumpurnya saja, orang tak akan menemukan mutiaranya.

Dalam bacaan Injil hari ini ( Mk 6:1-6) Yesus “Sang Mutiara Iman”, tidak mampu dilihat dan ditemukan oleh orang-orang sekampung-Nya, karena Ia terlahir dari keluarga  Maria dan Yusuf, seorang tukang kayu yang hidupnya sederhana, yang semua saudara-Nya mereka kenal. Kenyataan itu menutup mata hati mereka terhadap pesan “Siapa Dia yang sesungguhnya”, yang Ia disampaikan melalui pengajaran-Nya yang menakjubkan di rumah ibadat maupun mukjizat yang Dia adakan. Dia yang datang untuk menawarkan keselamatan Allah, justru mereka tolak.

Pewahyuan Tuhan dan tawaran keselamatan-Nya, terjadi melalui peristiwa-peristiwa hidup, di mana kaum beriman perlu merenungkannya dalam kejernihan hati dan iman. Pandemi Covid yang saat ini merebak, bias dimaknai sebagai peristiwa iman, di mana Allah menunjukkan kuasa-Nya dan menghendaki cara hidup baru untuk saling peduli dan memperhatikan dalam semangat kasih yang bersumber dari Allah sendiri, salah satunya melalui kepatuhan terhadap protocol kesehatan dan kegiatan vaksinasi. Dan untuk melaksanakannya, tentu ada banyak persoalan dan tantangan/ godaan.

Dalam bacaan kedua (2 Kor.12:7-10) St. Paulus mensharingkan penghayatan imannya akan Kristus tentang perjuangannya mengalahkan segala godaan dan penyerahannya terhadap bimbingan kuasa Kristus.  “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan…. .. dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah ,maka aku kuat” (ayat 10)
Semoga semua kaum beriman mampu menemukan “Sang Mutiara Iman dalam kehidupan.” (*)

Renungan oleh:
Ign Sumardi


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •