Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Harian, Selasa, 06 Juli 2021

Injil hari ini menyajikan kepada kita dua fakta: (a) penyembuhan orang bisu yang kerasukan (Mat 9:32-34) dan (b) ringkasan kegiatan Yesus (Mat 9:35-38). Kedua episode ini mengakhiri bagian narasi dari pasal 8 dan 9 Injil Matius di mana penginjil mencoba untuk menunjukkan bagaimana Yesus mempraktikkan ajaran yang diberikan dalam Khotbah di Bukit (Mat 5 sampai 7).

Penyembuhan Orang Bisu.
Dalam satu ayat Matius menggambarkan kedatangan orang yang kerasukan di hadapan Yesus, pengusiran setan, sikap Yesus, dan perhatian serta kasih sayang Yesus kepada orang-orang sakit. Penyakit tidak hanya pada kekurangan pada bagian tubuh (fisik): tuli, kebutaan, kelumpuhan, kusta dan lain-lain, tetapi juga bahwa  penyakit-penyakit ini tidak lain adalah wujud dari kejahatan yang jauh lebih dalam dan lebih luas, yang merusak kesehatan orang, yaitu kehilangan total, yang keadaan menyedihkan dan tidak manusiawi, di mana mereka dipaksa untuk hidup. Penyembuhan Yesus diarahkan tidak hanya terhadap penyakit fisik, tetapi juga dan terutama melawan kejahatan yang lebih besar dari kehilangan material dan spiritual.

Selain itu, agama resmi saat itu mengajarkan bahwa penyakit adalah hukuman dari Tuhan atas dosa. Perasaan dikucilkan dan dikutuk meningkat dalam diri mereka. Yesus melakukan sebaliknya. Penyambutan yang penuh kelembutan dan penyembuhan orang sakit adalah bagian dari upaya untuk menjalin kembali hubungan manusiawi antar sesama manusia dan untuk membangun kembali hidup bersama dalam komunitas dan persaudaraan di Galilea.

Reaksi Orang-Orang Banyak dan Kaum Farisi
Dihadapkan dengan penyembuhan orang bisu yang kerasukan, reaksi orang-orang adalah kekaguman dan rasa syukur: “Tidak pernah ada hal seperti itu di Israel!” Reaksi orang-orang Farisi adalah ketidakpercayaan dan kebencian: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan!” Karena tidak dapat menyangkal fakta yang menyebabkan kekaguman orang, satu-satunya cara orang Farisi menemukan untuk mencegah pengaruh Yesus di hadapan orang-orang adalah dengan menghubungkan pengusiran itu yang Ia lakukan dengan kuasa si jahat. Injil Matius tidak memberikan jawaban apapun dari Yesus terhadap reaksi orang-orang Farisi itu, karena ketika kedengkian terbukti, kebenaran bersinar dengan sendirinya.

Belas Kasihan Tuhan.
“Melihat orang banyak itu, Ia merasakasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Mereka yang seharusnya menjadi gembala bukanlah gembala, mereka tidak menjaga kawanan. Yesus berusaha menjadi gembala (Yoh 10:11-14). Matius melihat dalam hal ini pemenuhan nubuat Hamba Yahwé yang “menanggung kelemahan kita, menanggung penyakit kita” (Mat 8,17 dan Yes 53,4). Seperti halnya bagi Yesus, perhatian besar Hamba itu adalah “menemukan kata-kata penghiburan bagi mereka yang putus asa” (Yes 50:4).

Tuaian berlimpah, pekerja sedikit.
Yesus menyampaikan kepada para muridNya, kepedulian dan belas kasihNya yang menghuni dia: “Panenan memang banyak, tetapi pekerjanya sedikit! Karena itu mintalah kepada tuan panen untuk mengirim pekerja ke panennya!”.Ini adalah undangan untuk merenungkan apa yang dapat kita lakukan untuk ambil bagian dalam perhatian dan keprihatinan Yesus bagi manusia. Sama seperti Dia mengutus murid-murid-Nya untuk membantu orang-orang, untuk mempertobatkan dan menyembuhkan mereka, demikian pula kita dapat dan harus lakukan bagian kita.

Pesan Untuk Kita:
a). Sabda Tuhan hari ini mengundang kita untuk terus menerus belajar menjiwai hati Yesus yang lemah lembut dan murah hati;
b) Tuhan Yesus mendorong kita untuk terus menerus berdoa agar para pewarta kebaikan, yang murah hati, yang memiliki belas kasih, terus bertambah mengatasi banyak sebaran kebencian yang memecah belah kehidupan bersama.
c) Sabda Tuhan mendorong kita untuk ambil bagian mewujudkan apa yang menjadi perhatian dan keprihatinan Yesus bagi manusia.(*)

Renungan oleh:
RD Benny Balun


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •