Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Hari Jumat, Pekan Biasa XIV

Kej 46:1-7.28-30: Mzm 37: 3-4.18-19.27-28.39-40: Mat 10:16-23

Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat 10:16). Itulah ayat pertama dalam bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23). Dalam injil hari ini, Yesus memberikan penguatan kepada para murid-Nya dan mengingatkan mereka akan kesulitan-kesulitan yang bakal mereka hadapi.  Bahwa mereka telah menerima kuasa dari-NYA untuk mengusir roh-roh jahat, meyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mentahirkan orang kusta, namun kesulitan dan tantangan akan selalu dihadapi.  Para rasul sebagai utusan Tuhan mengalami penolakan, penganiayaan, bahkan sampai pada tingkat kemartiran.. Oleh karena itu Yesus menyarankan agar merek cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.  Artinya: kita memerlukan kecerdikan dan ketulusan agar mampu menilai dan bertindak dengan bijaksana, serta dapat hidup sebagai orang yang suci hatinya.  Yesus berharap agar kita memiliki pribadi yang kuat, namun hati yang tulus dan lembut.

Pribadi yang Kuat: Ciri-ciri orang yang memiliki pribadi yang kuat adalah berpikir tajam, mampu menghargai, dan membuat keputusan yang pasti. Pribadi yang kuat dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pribadi yang kuat tidak mudah diperdaya oleh legenda dan mitos. Pribadi yang baik mampu mewujudkan segala sesuatu yang sudah direncanakan. Sebaliknya orang yang memiliki pribadi yang lemah, takut akan perubahan dan pergerakan baru. Mereka dibuai dalam zona nyaman dan merasa aman dengan status quo.

Mengapa murid-murid Yesus harus memiliki pribadi yang kuat? Ayat-ayat berikut dalam teks menjawabnya. Mereka harus waspada terhadap semua orang. Mereka seperti domba yang diutus  ke tengah-tengah serigala. Demi Yesus, mereka akan menghadapi banyak cobaan: ditangkap, diadili, disiksa, dan dibenci. Pada saat itu mereka juga harus mampu membedakan mana yang baik dan mana yang benar. Mereka harus membuat keputusan: tetap mengikuti Yesus atau meninggalkan-Nya. Orang-orang yang pribadinya lemah tidak akan mampu melewati rintangan ini.

Hati yang tulus dan Lembut: Namun pribadi yang kuat tanpa ketulusan dan kelembutan hati adalah pribadi yang dingin dan egois. Kehangatan dan kasih tidak nampak dalam pribadi seperti ini. Orang yang keras hati tidak mencintai kebenaran dan akan menjadi pribadi yang manipulatif. Dia hanya menghargai orang lain sebanyak dia membutuhkannya. Dia tidak mampu menilai keagungan sebuah persahabatan. Dia tidak dapat membagikan suka dukanya dengan orang lain. Sebaliknya penderitaan orang lain pun tidak menyentuh hatinya.

Yesus mengingatkan bahwa setiap pengikut-Nya dipanggil untuk hidup dalam kekuatan sebuah pribadi dan kelembutan sebuah hati. Kalau kita hanya memiliki kepribadian yang kuat tanpa kelembutan hati, kita akan menjadi orang-orang yang dingin, bengis, dan egois. Sebaliknya kalau kita hanya memiliki kelembutan hati tanpa kepribadian yang kuat, kita akan menjadi orang-orang sentimentalis, kurang bersemangat, dan tidak mampu membuat keputusan yang tepat dan pasti.

Pada hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk untuk menjadi pribadi yang kuat: bertahan dalam berbagai penderitaan, penolakan dan penganiayaan. Dan tetap menjadi pribadi yng tulus hati dan lemahlembut dalam mewartakan nilai-nilai injili.  Dan pada akhirnya bila mengalami penderitaan dan kemartiran, ingatlah bahwa  segala penderitaan,  kelamangan bahkan sampai kemartiran adalah benih yang baik untuk bertumbuhnya iman Kristiani.  Sebab itu bertahanlah dalam penderitaan karena iman kepada Tuhan Yesus Kristus,  Tuhan memberkati kita. (*)

Renungan oleh:
RD Yustin


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •