Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Renungan Selasa (13 Juli 2021)
Minggu Biasa XV Tahun B/I
(Keluaran 2:1-15; Mateus 11:20-24)

Seorang ibu Katolik berkisah tentang cara dia mendidik dan mempersiapkan iman anak-anaknya.  Ibu itu mengatakan, “saya dan suami mempersiapkan anak-anak bertumbuh bebas, tidak perlu dijejali banyak hal, termasuk pilihan iman/ agama untuk anak-anak. Mereka masih kecil, nanti setelah dewasa mereka akan tentukan pilihan iman/agama mereka sendiri.” Gagasan “bagus” dari ibu ini ternyata didukung oleh suaminya yang juga katolik. Setelah mendengarkan pendapat mereka ini, saya hanya berkata dalam hati, “Kalian berdua ini,suami – istri, telah menipu Tuhan dan Gereja. Waktu kalian menikah, kalian telah berjanji bahwa akan mendidik dan membesarkan anak yang diberikan Tuhan itu secara Katolik”. Semoga “gagasan cemerlang” dari keluarga ini tidak cepat merasuki keluarga Katolik yang lain.

Melalui kisah Musa, (Kel 2:1-15) keluarga-keluarga Katolik dapat belajar untuk menata keluarga menjadi lebih baik lagi. Rencana Allah untuk kehidupan setiap anggota dalam keluarga itu dasyat dan tidak dapat diprediksi oleh siapa pun. Allah menghendaki agar setiap anggota dalam keluarga itu mempunyai kepedulian terhadap pribadi yang lain. Allah memakai si Ibu untuk menyelamatkan Musa, anaknya,  dari ancaman Firaun. Allah memakai Sang Ibu bukan semata untuk menyelamatkan si bayi, melainkan ada sebuah rencana besar yang akan terjadi di masa yang mendatang. Maka peran orang tua sangat penting untuk mempersiapkan dan menentukan arah hidup anak-anak sejak dini.

Orang tua adalah figur penting dalam keluarga, juga dalam rencana Allah bagi umat. Allah telah memberikan kepercayaan kepada orangtua untuk mempersiapkan Musa dalam menggenapi rencana Allah. Peran orang tua adalah melindungi, mendidik dan melatih anak sejak awal untuk memahami rencana Allah bagi hidup mereka. Dengan demikian, tidak ada lagi keluarga Katolik yang mempunyai mentalitas biarkan anak bertumbuh dan menentukan iman dan nasibnya sendiri. Musa menjadi pemimpin besar dan beriman bukan karena hasil pembiaran, atau tumbuh sendiri, melainkan peran orang tua, dan penyelenggaraan ilahi. (*)

Renungan oleh:
RD Jose Anting


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •