Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Rabu Pekan Biasa XV
Bacaan I       : Keluaran 3:1-6.9-12
Mazmur        : 103:1-2.3-4.6-7
Bacaan Injil : Matius 11:25-27

Bacaan Injil hari ini hanya terdiri dari tiga ayat namun sarat makna yang merangkum seluruh tindakan Yesus yang memberi perhatian kepada orang-orang kecil, miskin dan sengsara. Belas kasih Yesus terhadap orang kecil  banyak kita temukan dalam Injil. Layaknya di jaman sekarang banyak orang kecil yang disingkirkan, diabaikan, dipandang rendah dan diperlakukan tidak adil oleh lingkungannya, begitu juga di jaman Yesus. Tidak seperti orang kebanyakan, Yesus mendekati dan mengasihi orang-orang kecil ini. Dan dengan lantang Yesus mengucap doa syukur  kepada Bapa yang memperhatikan dan menyatakan Diri kepada orang-orang kecil. Doa ini merupakan pujian kepada Bapa surgawi, yang mewahyukan rahasia-Nya kepada orang-orang kecil dan menyembunyikannya bagi orang bijak dan orang pandai.Orang-orang kecil yang dimaksud juga adalah orang-orang yang senantiasa hidupnya bersandar pada kemurahan Allah. Mereka ini adalah orang-orang yang memasrahkan hidupnya kepada Allah bukan kepada hal-hal yang bersifat duniawi. Berbeda dengan orang pandai dan bijak yang merasa dirinya hebat. Mereka lebih mengandalkan kekuatan diri sendiri dan terkungkung pada hal-hal duniawi.

Pengalaman Musa pada bacaan pertama dapat menjadi contoh sikap iman sebagai orang kecil. Ia mendapatkan sapaan dan pernyataan diri Allah untuk sebuah rencana besar yakni karya penyelamatan Allah bagi umat Israel. Allah memilih Musa seorang pengembala domba yang sederhana untuk mengemban tugas besar tersebut. Walaupun pada awalnya Musa merasa tidak yakin akan kemampuannya namun akhirnya ia membuka diri untuk memenuhi panggilan Allah. Pilihan Allah jatuh pada orang yang sederhana. Mengapa? Karena orang kecil dan sederhana mau membuka dirinya dengan rendah hati terhadap panggilan dan tugas perutusan Allah.

Sikap dan perhatian Allah kepada orang-orang miskin, tersingkir dan menderita harus kita contoh dan teladani. Option for the poor sebuah slogan klasik yang semestinya menjadi komitmen Gereja (baca pengikut Kristus) yang harus dihidupi dan bahkan perlu lagi ditingkatkan. Mari di masa pandemi ini, kita  berupaya memperhatikan dan rela berbagi kepada orang-orang yang miskin dan menderita secara kreatif sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.(*)

Renungan oleh:
Shito Kadari


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •