Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Selamat pagi saudaraku tercinta, di hari Jumat dalam pekan Biasa XV, 16 Juli 2021, Tahun B/I.
Peringatan fakultatif St. Maria dari Gunung Karmel.

Dalam bacaan I (Kel 11:10-12:14)dikisahkan usaha Musa dan Harun untuk membebaskan bangsanya dari penindasan Mesir tetap menemui hambatan dari Firaun walau Allah sudah menurunkan sembilan tulah. Sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan, Allah memerintahkan agar umat Israel melakukan suatu ritual yaitu, mereka harus mengadakan perjamuan di keluarga masing-masing.Allah sudah mengatur bagaimana perjamuan itu harus dilakukan. Satu hal yang penting adalah mereka harus menorehkan darah binatang yang dikurbankan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas setiap rumah keluarga Israel (ay 3-11). Pada malam itu Allah akan melewati wilayah Mesir dan membunuhsemua anak sulung dari anak manusia sampai anak binatang. Rumah yang ada tanda darah di pintunya akan selamat dari petaka itu (ay. 12-13). Allah juga berpesan agar perjamuan itu dengan segala aturan yang sudah Ia tetapkan kelak harus dilakukan berulang-ulang sebagai kenangan dan peringatan dengan penuh rasa syukur atas apa yang telah Allah lakukan oleh generasi penerus bangsa Israel (ay 14). Tujuannya: agar setiap generasi umat Israel walau tidak mengalami peristiwa itu dapat menyelami, menghayati, mengulang kembali pengalaman nenek moyang mereka dalam memori mereka. Inti dari kisah ini masih tetap yaitu: bersyukur karena Allah telah menepati janji-Nya untuk melindungi dan menyelamatkan umat-Nya. Bangsa Israel setia memelihara dan melakukan perintah Allah itu turu-temurun. Namun sayangnya semua itu dilakukan sekedar ritual dan kehilangan jiwa dari ritual itu.

Dalam Injil (Mat  12:1-8) ditampilkan konfrontasi Yesus dengan orang-orang Farisi. Orang Farisi marah ketika melihat para murid Yesus pada hari Sabat melakukan perjalanan dan memetik bulir gandum serta memakannya. Yang disorot orang Farisi adalah tindakan para murid yang melanggar hukum Sabat. Sementara Yesus, dengan memberi contoh apa pernah dilakukan Daud ketika dalam perjalanan merasa lapar ia memakan roti sajian di bait Allah (1Sam 21:1-6) padahal roti sajian hanya boleh dimakan oleh imam. Yesus juga mencontohkan tindakan/kegiatan imam-imampada hari Sabat tidak dianggap melanggar hukum Sabat padahal pada hari Sabat hukumnya tidak boleh mengadakan kegiatan(ay 5). Dari kedua contoh itu Yesus menegaskan “yang Kukehendaki adalah belas kasihan bukan persembahan” (ay. 7; Lih Hos 6:6). Di sini Yesus mau mengingatkan bahwa kebutuhan manusia lebih penting dari ritual agama.Karena itu pula Yesus dengan tegas mengatakan Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat (ay. 8). Untuk membuktikan ucapan-Nya, pada hari itu juga (Sabat) ketika Yesus masuk ke rumah ibadat dan di situ Ia menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya. Ketika orang-orang bertanya “apakah boleh menyembuhkan orang pada hari Sabat?”, Yesus balik bertanya “Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.” (ay 11-12)

Bagaimana dengan kita?

Dalam hidup (juga hidup beragama) kita tidak bisa lepas dari aneka peraturan. Misalnya dalam merayaan ekaristi, ada norma-norma yang harus kita taati: pemakaian rumusan kata-katanya, nyanyiannya, peralatannya, dll. Norma-norma itu sudah berusia ribuan tahun, sudah seusia Gereja. Yesus mengingatkan kita “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan (Mat 127). Yesus ingin kita tidak jatuh pada ritual saja (taat aturan) tetapi melupakan jiwa dari aturan itu. Memahami jiwa dari peraturan berarti kita tahu bagaimana seni menata hidup baik dalam relasi dengan Allah, dengan sesama dan dengan lingkungan hidup. Semoga ketika merayaan ekaristi kita melakukan gerakan berdiri, duduk, berlutut dan mengucapkan rumusan kata-kata yang sudah sangat kita hafal dengan penuh kesadaran mengapa hal itu kita lakukan, bukan menjadi robot atau tape recorder,
Semoga. Tuhan memberkati. (*)

Renungan oleh:
Andi Kris

.


Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •